Intel bikin laptop membosankan jadi menarik lagi

Melihat visi Intel dalam “Intel Technology Open House” di Singapura, 24 September lalu, terus terang saya jadi menemukan lagi alasan untuk mencintai laptop.

Intel bikin laptop membosankan jadi menarik lagi Intel menggelar "Intel Technology Open House" di Singapura (24/9).

Jujur, deh, ketertarikan kita terhadap laptop tidak pernah melebihi hasrat kita terhadap ponsel pintar. Padahal, laptop sudah ada berpuluh-puluh tahun sebelum era ponsel pintar tiba. Saat ini, laptop malah terasa membosankan, sehingga mayoritas dari kita hanya memakainya untuk bekerja.

 


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Intel pamer kecepatan video editing gunakan Core i7 generasi 10

Ini dia jajaran laptop Intel Project Athena

Rilis November, Intel pangkas harga Core X terbaru


Mengapa begitu?

Well, laptop memang tak punya kemajuan berarti, setidaknya dalam satu dekade terakhir. Iya, tentu, kinerjanya kian cepat, kian powerful, desain bodinya makin tipis dan juga ringan. Di luar itu, nyaris semua sama saja. Tak ada yang atraktif. Coba bayangkan, di tengah kemajuan kecerdasan buatan (AI) saat ini, kita justru melihat implementasinya secara serius di produk lain, misalnya, di mobil Tesla. Sementara, laptop seperti terlupakan.

Namun, era itu barangkali akan segera berakhir. Melihat visi Intel dalam “Intel Technology Open House” di Singapura, 24 September lalu, terus terang saya jadi menemukan lagi alasan untuk mencintai laptop. Jika “mencintai” terdengar berlebihan, setidaknya saya yakin, akan ada alasan kuat lagi bagi kita untuk membeli laptop baru. Penyebabnya bukan lagi sekadar karena laptop lama kita lemot atau rusak, tetapi karena laptop yang baru terlalu menarik untuk dilewatkan. Itu hampir mirip dengan alasan kita untuk berganti ponsel pintar, bukan

Bagaimana ini bisa terjadi?

Project Athena. Demikian Intel menyebut inisiatif inovasi mereka untuk meningkatkan kemampuan laptop masa kini. Diumumkan pada acara Consumer Electronic Show (CES) 2019 awal tahun ini, Project Athena sebenarnya adalah kolaborasi Intel dengan 100 lebih perusahaan. Intinya, Intel ingin menetapkan standar baru untuk laptop yang mereka sebut “Project Athena-certified”.

Project Athena melibatkan lebih dari 100 perusahaan

Standar tersebut mencakup banyak hal yang terangkum dalam 3 acuan: focus, always ready, dan adaptive. Turunan dari acuan tersebut terbagi lagi menjadi 6 kategori, yakni instant action, performance and responsiveness, intelligence, battery life, connectivity, dan form factor.

Implementasinya, Intel mendorong produsen untuk menghadirkan laptop yang cepat siaga begitu kita membukanya. Hitungannya sudah di bawah 1 detik. Selain itu, laptop juga dilengkapi pemindai biometrik dalam bentuk pengenalan muka dan pemindai sidik jari. Dalam sesi demo di Singapura, Intel menunjukkan bagaimana laptop membaca wajah pengguna, lalu menghidupkan layar secara instan.

Beberapa syarat produk Project Athena-certified

Dari sisi performa, Intel merilis prosesor generasi ke-10 sebagai tulang punggung Project Athena. Agar memenuhi syarat, laptop harus menggunkan prosesor Core i5 atau Core i7, dengan ram minimal 8GB dual-channel, dan penyimpanan SSD berkapasitas minimal 256GB. Untuk mempercepat pemrosesan data, Intel juga menambahkan syarat keberadaan teknologi Intel Optane.

Yang paling menarik adalah implementasi AI untuk berbagai skenario: dari pengenalan objek dan kebiasaan pengguna hingga pemrosesan foto dan video. Laptop Project Athena juga harus irit daya, minimal bisa bertahan selama 9 jam dan bisa diisi ulang secara cepat melalui teknologi fast charging.

Tak hanya itu, laptop Proect Athena harus dibekali konektivitas Wi-Fi 6 yang kecepatan transfer datanya sudah melampaui 1Gbps, Thunderbolt 3, dan USB-C. Desainnya bisa standar clamshell atau hibrida (2-in-1) dengan resolusi layar minimal 1080p, dilengkapi backlit keybard, touchpad presisi, dan mendukung pengguna pena digital.

Menurut saya, Project Athena jauh lebih menarik untuk dicermati, dan dampaknya bagi kehidupan kita pasti akan lebih besar dibanding, misalnya, proyek “Ultrabook” yang diperkenalkan Intel tahun 2012. Karena itu, tak mengherankan jika Intel menggandeng lebih dari 100 perusahaan karena komponen laptop, seperti juga pesawat, dipasok banyak perusahaan. Jika ingin me-re-invent laptop, mau tak mau, Intel harus menggandeng seluruh perusahaan yang berkontribusi terhadap produk tersebut.

Kapan dimulai?

Walau pengumumannya baru pada awal tahun ini, Project Athena sudah membuahkan hasil. Kita, termasuk di Indonesia, sudah bisa membeli produk gelombang pertama. Salah satunya adalah ZenBook Pro Duo. Laptop hibrida ini memiliki dua layar. Konsep dua layar tidak baru, tapi di ZenBook Pro Duo, kehadiran layar tambahan sama sekali bukan gimmick. Ia betul-betul berguna untuk Anda yang biasa mengerjakan beberapa hal sekaligus (multitasking).

Beberapa produk gelombang pertama Project Athena

 

Kehadiran layar tambahan ini terasa berbeda dari yang sudah pernah kita lihat berkat konsep yang disebut Intel sebagai “Honeycomb Glacier.” Konsep ini terbuka, sehingga selain Asus, produsen lain juga akan merilis produk serupa.

 

Konsep menarik lain yang dipamerkan Intel di Singapura adalah laptop yang terintegrasi dengan asisten digital Alexa. Dalam sesi demo, Intel menunjukkan bagaimana pengguna bisa bertanya melalui perintah suara, misalnya, “Alexa apa jadwal saya hari ini” dan Alexa bisa menjawabnya dengan cepat. Perlu diketahui, laptop berada dalam keadaan tertutup, tetapi stand by.

 

Mari kita bicara tentang evolusi Intel

Kami telah bertransformasi dari organisasi yang berfokus pada PC menjadi organisasi yang fokus pada data center” - Santosh Viswanathan, Managing Director Intel untuk kawasan Asia Pasifik.

 

Intel sudah mencoba masuk ke pasar ponsel dan bersaing dengan Qualcomm. Mereka gagal. Intel juga menyerah dalam pengembangan 5G, dan menjual unit pengembangan tersebut ke Apple pada tahun ini. Setidaknya, dalam setahun terakhir, Intel banyak diterpa isu negatif: dari skandal yang memaksa Brian Krzanich mundur dari CEO, hingga kelangkaan pasokan chip.

 

Walau demikian, ucapan Santosh di atas setidaknya memberikan gambaran mengenai fokus Intel dalam beberapa tahun berikutnya. “Dalam beberapa tahun terakhir, kami sudah investasi USD40 miliar untuk mengembangkan teknologi data center,” katanya kepada tek.id.

 

Dia menjelaskan, Intel berinvestasi besar di bidang data center karena mereka yakin di masa depan, konektivitas antar mesin akan meningkat. Ini konsekuensi yang tak bisa dihindarkan dari implementasi konsep semacam smart city, Internet of Things, dan lain-lain.

 

“Konektivitas ini akan menghasilkan data yang besar. Dengan demikian, ada kebutuhan untuk menyimpang data, memproses data, dan memindahkan data secara lebih efisien,” katanya. “Intel mecoba untuk membangun secara end-to-end untuk (kebutuhan) evolusi lingkungan yang kian data-centric ini.”

 

Tiga isu konsentrasi Intel dalam data center ini masih sejalan dengan bisnis inti mereka, yakni proses data lebih cepat, penyimpanan, dan transfer data.

 

Pemrosesan data tentu membutuhkan chip yang andal dan Intel sudah terkenal ahli di bidang itu. Di bagian penyimpanan, kita sudah menikmati manfaat Intel Optane, sedangkan untuk transfer data kita sudah merasakan manfaat Thunderbolt 3 dan Wi-Fi versi 6.

 

Dengan kata lain, fokus ke data center itu tidak hanya bisa dinikmati konsumen berskala perusahaan besar atau pemerintah, tetapi juga oleh konsumen, seperti kita.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: