Catatan akhir tahun

2018, jadi tahun baik untuk AMD

AMD dengan Ryzen berhasil merebut pangsa pasar dari Intel. Intel baru bisa melawan AMD menggunakan generasi kesembilan seri Core i pada akhir tahun 2018.

2018, jadi tahun baik untuk AMD foto : Chandra

2018 merupakan tahunnya AMD. Prosesor andalan mereka, Ryzen generasi kedua mendapatkan penjualan yang cukup mengesankan. Pangsa pasar pabrikan ini pun meningkat cukup drastis.

Seperti laporan Wccftech, September 2018, pangsa pasar AMD mencapai 65 persen di Amerika Serikat. Di sisi lain, Intel harus merasakan penurunan pangsa pasar ke angka 35 persen di tahun yang sama.


BACA JUGA

Bocoran prosesor Intel Comet Lake mencuat

Intel akan kesulitan produksi prosesor tahun ini

Intel kembali rebut tahta perusahaan semikonduktor terlaris


Menurut laporan Mindfactory yang dilansir di Extremetech, di kuartal yang sama pada tahun 2017, AMD juga telah merebut pangsa pasar Intel. Namun, pada saat itu mereka baru menguasai  56,1 persen dan Intel 44,9 persen.

Ada beberapa alasan mengapa AMD bisa menggebuk Intel dengan cukup keras pada tahun ini. Hal utama adalah berhasilnya AMD menciptakan prosesor mainstream berharga terjangkau dengan kemampuan yang sangat tinggi melalui jajaran Ryzen.

Lini Ryzen 7 menawarkan prosesor 6 inti dengan 12 thread. Langkah ini memaksa Intel mengkonfigurasi ulang prosesornya. Intel kemudian merombak jajaran prosesor seri Coffee Lake agar sejajar dengan Ryzen. Mereka membuat seri Core i7 dengan konfigurasi prosesor 6 inti dengan 12 threads.

Sementara seri Core i5 sama dengan seri Ryzen 5, yakni memiliki total 4 inti dengan 8 threads. Adapun core i3 tetap dengan 4 inti tanpa hyperthreading, sama seperti jajaran Ryzen 3.

Berbicara soal teknologi, AMD berhasil membuat rapor yang baik sepanjang 2018. Mereka berhasil mengalahkan Intel untuk pertama kalinya dalam membuat teknologi fabrikasi 12nm di perangkat Ryzen generasi kedua, yang diluncurkan pada pertengahan 2018.

AMD juga berhasil mengembangkan prosesor dengan teknologi fabrikasi 7nm yang direncanakan untuk meluncur pada 2019 mendatang. Ini merupakan lonjakan yang besar bagi AMD, mengingat Intel masih menggunakan teknologi fabrikasi 14nm di prosesor terbaru sekalipun.

Meski begitu, ada cerita yang cukup menarik sebelum mereka berhasil melakukan hal tersebut. Mereka sempat menemui kendala saat Global Foundry mengaku menyerah untuk memproduksi prosesor dengan teknologi fabrikasi tersebut.

Untung, mereka berhasil mendekati TSMC, yang merupakan pabrikan pembuat semikonduktor dari China. TSMC setuju untuk membantu AMD untuk mengembangkan prosesor tersebut, dan bahkan pada akhir 2018, mereka mengumumkan telah memiliki purwarupa prosesor 7nm yang dapat bekerja dengan baik.

Di sisi lain, Intel tak berhenti dirundung masalah; dari lubang keamanan di prosesor hingga skandal seks sang CEO-nya, Brian Krzanich. Setelah kepergian pria yang sudah menjabat sebagai CEO Intel sejak 2013 tersebut, Bob Swan ditunjuk untuk menggantikannya. Padahal, dia sebelumnya menjabat sebagai CFO Intel. Alih-alih bahagia mendapat jabatan itu, Swan justru merasa sebaliknya.

Kepada para karyawan, Swan mengaku tak menginginkan pekerjaan tersebut secara permanen. Hal ini disampaikan dalam sebuah pertemuan setelah pengumuman Krzanich mengundurkan diri.

Mimpi buruk Intel pun tidak berakhir hanya di situ saja. Mereka harus menelan pil pahit setelah merasakan banyak hambatan dalam pengembangan prosesor 10nm. Padahal, AMD telah berhasil mengembangkan prosesor 7nm.

Meski demikian, Intel percaya diri bahwa masih memiliki secercah harapan akan segera menyelesaikan prosesor tersebut. 

“Kami masih membuat kemajuan dengan prosesor 10nm. Hasil percobaan terus membaik dan kami terus mengharapkan adanya produksi pada 2019,” kata Bob Swan.

Akan tetapi, dalam waktu bersamaan, Bob juga menyatakan bahwa saat ini mereka mengalami sedikit masalah pendanaan. Oleh karenanya, mereka tidak meluncurkan prosesor low-end, dan sedang mencekik produksi lini prosesor tersebut.

“Saat ini, ketersediaan prosesor entry level tidak diragukan lagi akan sangat ketat,” tulis Bob.

Untung, mereka tetap memiliki satu rapor baik pada 2018, yakni dengan meluncurkan prosesor i9 9900K. Prosesor mainstream  ini memiliki total 8 inti dengan 16 thread, yang menjadikannya sebagai raja prosesor baik untuk kebutuhan gaming dan kebutuhan lainnya.

Tahun 2018 adalah tahun dimulainya pertarungan prosesor high core count. Meski AMD saat ini masih masih memegang kendali sebagai produsen prosesor mainstream dengan high core count terbaik melalui Ryzen 7, Intel sudah dapat menyainginya dengan prosesor Core i9 9900K.

Tahun 2019 akan jadi tahun pertarungan prosesor dengan teknologi fabrikasi baru. Baik Intel maupun AMD telah mempersiapkan teknologi fabrikasi 10nm dan 7nm untuk 2019.

Meski demikian, AMD masih mengungguli Intel dalam hal fabrikasi dan sudah memiliki purwarupa yang cukup stabil.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: