Perang baru Intel vs AMD masuk babak baru

Apakah Intel akan bisa memepertahankan dominasinya di pasar prosesor setelah satu dekade menjadi pemimpin?

Perang baru Intel vs AMD masuk babak baru

Di ajang Computex 2018 kemarin AMD memperkenalkan prosesor High-end Desktop (HEDT) terbarunya yaitu Ryzen Threadripper 2. Sperti yang telah kami beritakan sebelumnya, prosesor ini hadir dengan konfigurasi 32 core dan 64 thread, membuatnya tampil sebagai prosesor kelas konsumen dengan jumlah core paling banyak saat ini.

Tapi kehadiran Threadripper 2 tidak sendirian. Intel juga punya prosesor HEDT baru dengan konfigurasi 28 core. Meski belum disebutkan seperti apa spesifikasi detail dan jumlah core-nya memang lebih kecil dari Threadripper 2, prosesor baru ini punya keunggulan tersendiri yaitu bisa berjalan di 5GHz.

Tentu saja hal tersebut sangat luar biasa mengingat dengan jumlah core yang sangat banyak tersebut prosesor ini akan sangat mudah panas, apalagi dipacu pada frekuensi yang sangat tinggi. Namun Intel berhasil melakukannya bahkan memamerkannya langsung di ajang Computex 2018 kemarin. Tapi apakah ini berarti Intel selangkah di depan AMD? Menurut PC MAG, tidak.

Justru sebaliknya, Intel dikatakan khawatir dengan situasi AMD saat ini. Sebagai raksasa semikonduktor Intel memang sudah cukup lama mendominasi pasar. Dominasi produknya selama 10 tahun terakhir juga tidak tergeserkan sama sekali oleh satu-satunya pesaingnya, yaitu AMD. 

PC MAG mengatakan hal tersebut justru tercermin dari perilisan prosesor 28 core baru milik Intel di Computex. Sekilas prosesor tersebut memang terlihat menakjubkan karena memiliki julah core yang sangat banyak dan bisa berjalan di frekuensi sangat tinggi. Namun prosesor baru tersebut dikatakan tetap tidak akan efisien untuk konsumen jika dijalankan di kondisi tersebut (5GHz).

Saat demo, Intel menggunakan sistem pendingin khusus untuk mendinginkan prosesor barunya. Investigasi lebih lanjut mengungkapkan sistem pendingin tersebut menggunakan air conditioning dan bukan pendingin cair seperti yang digunakan kebanyakan sistem komputer.

Selain itu, motherboard yang digunakan merupakan kelas enterprise yang sangat mahal dan menggunakan socket LGA3647. Prosesor yang menggunakan socket tersebut pun diketahui mengkonsumsi daya yang tidak sedikit, yaitu antara 500W hingga 1000W. Bahkan sistem yang digunakan saat demo oleh Intel diperkirakan bernilai sekitar USD10.000 atau lebih dari Rp140 juta. Harga tersebut tentu akan sulit dijangkau bahkan untuk pengguna ektrem sekalipun.

Meski demikian TechSpot mengaku dihubungi oleh Intel dan mengatakan kalau prosesor tersebut merupakan produk sungguhan yang tengah dikembangkan. Tapi produk tersebut memang tampil tidak terlalu meyakinkan.

Jika dibandingkan dengan Threadripper 2, AMD dinilai lebih berada di depan. Prosesor tersebut lebih terjangkau oleh para pengguna ekstrem meski hanya berjalan di 3GHz. Namun perlu diingat bahwa AMD kemungkinan akan membanderol harganya seperti Threadripper pertama yang cukup terjangkau oleh kalangan pengguna ekstrem

Selain itu, Threadripper 2 masih bisa digunakan dengan socket TR4 yang dirilis tahun lalu sehingga kompatibel dengan semua motherboard X399. Soal konsumsi daya, Threadripper 2 diklaim jauh lebih rendah. Dengan TDP hanya 250W, AMD bisa dikatakan unggul kali ini.

Meski demikian, perang belum usai. Kita masih belum tahu prosesor seperti apa yang Intel kembangkan saat ini. Bisa jadi prosesor tersebut akan benar-benar mengukuhkan kembali posisi Intel di pasar HEDT.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: