Penembakan di Selandia Baru, tunjukan kelemahan media sosial

Siaran langsung pelaku penembakan di media sosial, menujukkan betapa lemahnya algoritma dan kebijakan media sosial terhadap aksi-aksi kekerasan.

Penembakan di Selandia Baru, tunjukan kelemahan media sosial

Sehari sebelum insiden penembakan Masjid di Selandia Baru (15/3), pelaku penembakan mengunggah rencana dan manifestonya secara online. Lalu pada saat kejadian, pelaku menyiarkannya secara langsung di Facebook Live.

Kejadian ini menunjukkan bahwa algoritma dan moderasi yang dilanarkan patform media sosial masih rapuh. Khusus bagi Facebook, platform ini selama 18 bulan lebih berinvestasi untuk mencegah postingan hoaks, kekerasan, pelecahan, dan menyingkirkan aktor-aktor buruk di platform mereka. Facebook sendiri berinvesatasi secara besar-besaran di sisi moderasi. Mereka memanfaatkan moderator manusia untuk membantu mesin mereka.


BACA JUGA

Kemkominfo akhirnya buka fitur foto dan video di medsos

Twitter akui ada bug yang kumpulkan lokasi penggunanya

5 fitur baru Facebook hingga Instagram di F8


Di Facebook ada sejak Oktober 2017, moderatornya telah berjumlah 3 ribu orang dari yang semula hanya seribu orang. Rencana akhir 2018 lalu, Facebook akan merekrut 10 ribu moderator lagi.

Meski begitu, siaran langsung penembakan tersebut berlangsung lebih dari 20 menit sebelum akhirnya bisa diturunkan Facebook. Hal yang paling buruk lagi, video tersebut dimuat ulang di YouTube. Beberapa video muat ulang pelaku penembakan di Youtube bahkan berdurasi lebih dari satu jam lamanya.

Para ahli berpendapat, beberapa faktor berkontribusi dalam lolosnya video tersebut dari filter.

Tantangan siaran langsung

Dalam kasus seperti ini, sangat vital untuk mendapatkan video siaran langsungnya secepat mungkin. Dengan begitu, video tersebut tidak cepat mewabah ke media sosial lainnya. Hanya saja, moderasi di media sosial tidak dirancang untuk menemukan dengan cepat video siaran langsung dalam platform mereka.

Charles Seife, Profesor di NYU School of Journalism mengatakan pada MIT Technology Review (16/3), hal ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Media sosial seperti Facebook butuh bantuan pengguna untuk melaporkan hal tersebut, sebelum risikonya meluas.

Sebenarnya, siaran langsung tindak beberapa kali muncul di Live Facebook. Di Indonesia, pelaku bunuh diri kerap merekam tindakannya dan menjadi bahan bakar pemberitaan di media maupun mewabah ke media sosial lainnya. Perlu kesadaran pengguna untuk melaporkan konten semacam itu kepada moderator platform media sosial.

Kelemahan algoritma

Media sosial sejatinya juga memanfaatkan algoritma untuk menemukan konten mencurigakan. Kendati begitu, Mike Ananny, Profesor University of Southern California, mengatakan bahwa algoritma media sosial tersebut mungkin terhambat karena populernya video tersebut di media sosial.

Sementara itu, menurut Mike, Facebook dan Youtube serta media sosial besar lainnya menyikapinya seperti hal itu bukan masalah mereka. Sikap platform media sosial tersebut dituding post hoc, atau tidak bertanggung jawab atas akibat yang ditimbulkan dari tersebarnya video pelaku penembakan tersebut ke masyarakat.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: