sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id poco
  • partner tek.id telkomsel
  • partner tek.id samsung
  • partner tek.id acer
  • partner tek.id realme
Jumat, 01 Des 2023 15:19 WIB

Cara algoritma TikTok tangani hoaks untuk isu sensitif

Sebagai platform yang berkomitmen menjaga keamanan dan kenyamanan pengguna, TikTok terus mengoptimalkan algoritma.

Cara algoritma TikTok tangani hoaks untuk isu sensitif

Seperti yang telah kita ketahui, TikTok adalah platform media sosial yang memungkinkan pengguna untuk membuat dan membagikan video pendek. Aplikasi ini sangat populer di seluruh dunia, termasuk Indonesia, terutama di kalangan remaja dan anak muda. Namun, TikTok juga telah menjadi sasaran hoaks, apalagi saat ini di tengah hangatnya menjelang Pemilu serta konflik antara Palestina dan Israel.

TikTok sendiri telah berusaha untuk mengatasi masalah tersebut dengan menghapus informasi hoaks atau tidak benar demi kenyamanan penggunanya. Hari ini (1/12), platform dari ByteDance tersebut mengungkapkan cara kerja algoritma dan sistem moderasinya di talk show berjudul “Mengulik Lebih Jauh Cara Kerja Algoritma TikTok di Tengah Isu Hangat” yang digelar bersama Forum Wartawan Teknologi (FORWAT).

“Ini acara kedua kita bersama TikTok. Sekarang kita akan membahas isu-isu hangat. Ini sangat penting karena akan memasuki masa-masa Pemilu dan ada Palestina dan Israel. Ini sangat serius karena medsos out bisa menjadi sumber berita. Nah, bagaimana caranya menghindari hoaks dari isu sensitif seperti itu. Sekarang kita bahas segala macam isu yang berkaitan dengan algoritma”, kata Ketua Umum Forwat, Danang Arradian.

TikTok telah mengambil beberapa tindakan untuk mengatasi masalah hoaks di platform mereka. Sebagai platform berbagi video pendek, algoritma TikTok berdasarkan konten grafik. “Kami memiliki tanggung jawab untuk memastikan kontennya itu sudah sesuai komunitas kami. Video (yang diunggah ini masuk ke dalam moderasi, gabungan mesin dan manusia,” kata Head of Communications TikTok Indonesia.

Untuk moderasi mesin (AI), ini dikatakan masih “bersifat hitam putih”. Misalnya, jika ada video seseorang sedang memotong buah menggunakan pisau. Maka AI akan mendeteksi bahwa video ini aman untuk ditampilkan. Namun ketika pisau tersebut mengarah ke depan, maka dianggap membahayakan (padahal tidak), maka video tidak akan naik. Di sinilah moderasi manusia diturunkan.

TikTok menggunakan moderator manusia untuk memeriksa konten yang diunggah ke platform dan memastikan bahwa konten tersebut sesuai dengan pedoman dan kebijakan komunitas TikTok. Moderator TikTok meninjau konten yang dilaporkan dan menentukan apakah konten yang dimaksud melanggar pedoman atau tidak.

Ada pula faktor-faktor algoritma yang berkontribusi ke For Your Feed pengguna. Ini mencerminkan preferensi yang unik untuk setiap pengguna. Sistem merekomendasikan konten dengan merangking video berdasarkan kombinasi berbagai faktor seperti interaksi pengguna, informasi video, dan pengaturan perangkat dan akun.

Interaksi pengguna mengacu kepada video yang disuka atau dibagikan oleh pengguna, akun yang diikuti, komentar yang diposting dan konten yang dibuat pengguna. Untuk ‘informasi video’, ini mencakup detail seperti teks yang disertakan, suara, dan hashtag. Sedangkan ‘pengaturan perangkat dan akun’ mengacu kepada preferensi bahasa, pengaturan negara, dan jenis perangkat.

Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga integritas Pemilu 2024. TikTok akan menghapus konten berbahaya dan misinformasi, disinformasi, hoaks yang berkaitan dengan proses sipil. Platform ini melarang iklan politik, termasuk iklan berbayar maupun kreator yang dibayar untuk membuat konten dengan elemen merek politik. Ini juga mencakup penggunaan alat promosi yang ada di platform, seperti Promosi.

Selain kebijakan konten iklan politik, TikTok juga menerapkan batasan di tingkat akun. “Ini artinya kami akan menonaktifkan akses ke fitur-fitur iklan pada akun yang kami identifikasi sebagai akun milik politikus dan partai politik”, kata Outreach and Partnerships, Trust and Safety, TikTok Indonesia, Anbar Jayadi.

“Kami juga memandang penggalangan dana kampanye sama seperti kami memandang iklan politik; keduanya tidak selaras dengan tujuan kamu menciptakan TikTok sebagai tempat yang menyatukan semua orang,” kata Anbar.

Share
×
tekid
back to top