Ide gila Starlink wujudkan internet berskala global

Meskipun ide dari Starlink untuk meluaskan jangkauan area penyebaran internet, namun kehadiran puluhan bahkan ribuan satelit di orbit Bumi tentu akan menimbulkan masalah baru.

CEO SpaceX, Elon Musk, bisa dibilang seorang visioner yang memiliki otak yang encer. Banyak hal-hal hebat berkat terobosan besar yang ia temukan. Di antara banyak idenya yang brilian, Musk memiliki gagasan untuk menghadirkan jaringan internet dengan memanfaatkan satelit yang mengitari orbit rendah. Musk menyebut ide tersebut sebagai proyek Starlink.

Untuk dapat memenuhinya, SpaceX memerlukan dana lebih dari USD10 miliar guna membangun dan meluncurkan konstelasi satelit itu. Kabarnya satelit tersebut akan mengakomodir jangkauan internet berkecepatan tinggi ke hampir setiap sudut dunia.

Perusahaan tersebut mengklaim jaringan broadband Starlink akan mampu menyaingi kabel yang sudah tersedia atau dikenal dengan sistem serat optik. Lantaran hanya memiliki latensi 25ms, proyek Starlink mampu memberikan kecepatan hingga taraf gigabit. Sebagaimana yang diberitakan Digital Trends, jaringan Starlink juga mampu menjangkau daerah-daerah dengan koneksi internet rendah bahkan di daerah yang belum tersentuh internet.

Meskipun sulit, SpaceX telah mendorong batasan kemampuan teknologi di beberapa area secara bersamaan. Dalam proyek Starlink ini, penggunaan internet nirkabel secara bertahap nantinya digunakan untuk mengarahkan hubungan ke dan dari satelit. Teknik ini akan mendorong batasan dari apa yang pernah dilakukan sebelumnya.

Prakarsa serupa oleh Google dan Facebook

Tidak hanya Elon Musk, inisiatif serupa juga dihadirkan oleh Google melalui Project Loon yang ingin menghadirkan koneksi internet stabil hingga ke wilayah pedesaan dan terpencil di seluruh dunia. Radarbox24 melaporkan proyek ini melibatkan pengiriman balon udara panas ke stratosfer untuk menyediakan koneksi internet. Balon-balon tersebut melayang di ketinggian lebih dari 20 km demi memberikan koneksi internet berkecepatan lebih dari 10 Mbps kepada orang-orang di Bumi.

Proyek ini dimulai pada tahun 2011 setelah banyak diskusi dan beberapa penundaan sejak 2008. Balon pertama terbang di atas wilayah California. Pada 2013, Google melakukan proyek percontohan di Christchurch, Selandia Baru. Sejumlah 30 balon mengudara waktu itu. Pada 2018, Google telah melakukan uji terbang lebih dari 30 juta kilometer, dengan satu balon yang selamat dan memecahan rekor 190 hari perjalanan.

Cara kerja Google Loon adalah dengan mengandalkan menara telekomunikasi di bumi dan menghubungkannya dengan pemancar di balon yang mengambang. Tergantung di mana cakupan koneksi internet diperlukan, sinyal dapat dilewati balon menggunakan laser.

Menurut Google, konektivitas yang disediakan oleh setiap balon memungkinkan cakupan area seluas 40 km. Ini membuat ratusan orang dapat terhubung ke balon pada saat yang bersamaan.

Lain lagi dengan Facebook. Mereka mengandalkan drone bertenaga surya dengan nama Aquila. Science ABC, menginformasikan proyek drone Aquila ini mampu mengirimkan data menggunakan sinar laser saat mengudara. Lantaran Aquila bertenaga surya, artinya drone ini tidak akan memanfaatkan bahan bakar agar tetap berada di udara. Ia dapat tetap di udara selama 3 bulan tanpa harus mendarat.

Facebook Aquila memiliki desain modern dan ramping, serta dilengkapi sayap lebar setara dengan Boeing 737 (42 meter). Meski demikian, bobotnya jauh lebih ringan jika dibandingkan pesawat 737, yaitu kira-kira sama beratnya dengan sebuah mobil.

Ini juga merupakan terobosan dalam dunia komunikasi laser. Tim yang terlibat dalam proyek ini telah menguji laser baru yang mampu mengirimkan data dengan kecepatan 10 Gigabyte per detik.

Drone Aquila dikatakan tidak akan menimbulkan ancaman bagi penerbangan pesawat regular, karena beroperasi antara ketinggian 18-27 km. Artinya, jauh di atas tingkat ruang terbang pesawat komersial. Dengan ketinggian tersebut, Aquila tidak terpengaruh oleh cuaca.

Drone ini pertama kali diterbangkan pada Juni 2016, sayangnya Aquila harus diberhentikan pada Juni 2018. Facebook telah menutup kantor yang bertanggung jawab atas proyek internet yang dikirim Aquila menyusul kesulitan substantif untuk mendapatkan layanan tersebut.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: