sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id oppo
  • partner tek.id realme
  • partner tek.id samsung

Menyongsong 5G di Indonesia, realitas di balik euforia

Euforia 5G di Indonesia menyisakan satu pertanyaan: kapan pemerintah menggusur konglomerat yang masih menguasai frekuensi ideal jaringan itu?

Menyongsong 5G di Indonesia, realitas di balik euforia

Frekuensi 5G di Indonesia dan posisi para konglomerat

Sama seperti jaringan seluler lainnya, jaringan 5G menggunakan sistem cell site yang membagi wilayah penyebaran frekuensinya menjadi sektor-sektor, dan mengirim data yang disandikan melalui gelombang radio.

Pada dasarnya, ada dua komponen utama dalam sistem teknologi nirkabel 5G yaitu, Radio Access Network dan Core Network. Radio Access Network (Jaringan Akses Radio) memiliki tugas untuk mencakup 5G Small Cell dan Macro Cell yang membentuk inti dari 5G serta sistem yang menghubungkan perangkat seluler ke Core Network (Jaringan Inti).

5G Small Cells terletak di sektor besar karena spektrum milimeter Wave (mmWave) hanya dapat melakukan perjalanan jarak pendek. Sel Kecil ini melengkapi Macro Cell yang digunakan untuk menyediakan cakupan area yang lebih luas.

Macro Cell menggunakan antena MIMO (Multiple Input, Multiple Output) yang memiliki banyak koneksi untuk mengirim dan menerima data dalam jumlah besar secara bersamaan. Ini berarti akan semakin banyak pengguna dapat terhubung ke jaringan secara bersamaan.

Sementara Core Network memiliki tugas untuk mengelola semua data dan koneksi internet untuk jaringan 5G. Keuntungan besar dari Jaringan Inti 5G adalah dapat berintegrasi dengan internet lebih efisien dan juga menyediakan layanan tambahan seperti layanan berbasis cloud, server terdistribusi yang akhirnya meningkatkan responsivitas sambungan ke internet.

Dengan gelombang udara yang sama dengan 4G, sistem radio 5G bisa mendapatkan kecepatan sekitar 30 persen lebih banyak berkat pengkodean yang lebih efisien. Jadi, bila saluran 4G sebanyak 20MHz - 160MHz sekaligus, 5G menggunakan 100MHz - 800MHz sekaligus

Untuk mendapatkan optimasi jaringan 5G, para operator bisa memilih tiga rentang frekuensi, yakni frekuensi Sub-1 GHz, 1-6 GHz, serta di atas 6 GHz, yang disebut sebagai mmWave. Ketiganya memiliki kemampuan berbeda.

Sub-1 GHz dibutuhkan untuk mendukung jangkauan luas di perkotaan, pinggiran kota, dan daerah pedesaan dan membantu mendukung Internet of Things (IoT). Pasalnya, frekuensi ini dapat menembus dinding tebal yang biasanya ada di perkotaan besar.

Untuk mendapatkan optimasi jaringan 5G, para operator bisa memilih tiga rentang frekuensi, yakni frekuensi Sub-1 GHz, 1-6 GHz, serta di atas 6 GHz

Di rentang 1-6 GHz menawarkan campuran jangkauan dan kapasitas yang baik. GSM Association (GSMA), asosiasi operator telekomunikasi dunia, menyarankan agar pada awal penerapannya nanti, 5G dapat berjalan di rentang spektrum 3,3-3,8 GHz.

Di sisi lain, frekuensi di atas 6 GHz diperlukan untuk memenuhi broadband ultra-tinggi, yang senantiasa menyediakan kecepatan tinggi. Saat ini, frekuensi optimal yang disarankan GSMA ada di 26 GHz dan / atau 28 GHz.

Namun kelemahan dari mmWave adalah jaringan tersebut tidak dapat menembus benda padat. Oleh karenanya, 5G membutuhkan beberapa frekuensi yang berbeda untuk dapat berjalan dengan baik.

World Radiocommunication Conference 2019 (WRC-19), sebuah konferensi yang mempertemukan regulator telekomunikasi dunia yang diadakan 3-4 tahun sekali, menyetujui beberapa frekuensi yang dapat digunakan untuk menjalankan jaringan 5G.

Frekuensi 5G menurut kesepakatan di WRC-2019

Dengan ditambahkannya rentang frekuensi tersebut, ketersediaan bandwidth untuk 5G totalnya selebar 17,25 GHz. Padahal, sebelumnya alokasi bandwidth 5G hanya selebar 1,9GHz saja. Ini menjadikan harmonisasi global penggunaan 5G meningkat hingga 85 persen.

Lalu, apakah Indonesia akan mengikuti standarisasi internasional? Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kominfo, DR. IR. Ismail MT mengatakan bahwa Indonesia memiliki calon frekuensi tersendiri.

Meski sudah ada ketersediaan dan calon frekuensi untuk menggelar 5G, kita tak bisa segera menggelar 5G di Indonesia. Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 menyebut, Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Frekuensi radio termasuk salah satu sumber daya yang menyangkut hajat hidup orang banyak karena sumber daya ini tak terbarukan. Oleh karenanya, negara wajib mengatur semua penyelenggaraan terkait frekuensi.

Penggunaan frekuensi radio saat ini sudah ditempati banyak bidang lain. Selain itu, meski pita frekuensi di atas 6GHz masih sedikit yang menggunakannya, bukan berarti dapat seenaknya digunakan untuk 5G.

Aloksai frekuensi radio di Indonesia

Pengamat Telekomunikasi, IT, dan Ekonomi Digital, Heru Sutadi mengatakan, di Indonesia saat ini frekuensi di 3,5 GHz digunakan untuk satelit. Frekuensi 2,5GHz juga digunakan satelit milik PT Media Citra Indostar (MCI).

“Menggunakan frekuensi menengah juga sedikit sulit. Yang bebas ada di 2,3GHz milik Jasnita dan First Media (yang izinnya dicabut pemerintah). Di frekuensi bawah pun masih dipakai oleh beberapa pihak,” kata Heru.

Lantas, bagaimana dengan frekuensi rendah?

“Perlu diingat, 30 MHz (kontraknya) dipegang Telkomsel dan Smartfren. Bisa juga (memanfaatkan) 700 MHz, (tapi) ini pun juga migrasinya belum tuntas. Inilah tantangan pertama kita, frekuensinya yang mana?” katanya.

Berikut gambaran peta frekuensi mobile broadband dan satelit di Indonesia. Anda bisa melihat, Indovision, kelompok usaha milik konglomerat Hary Tanoesoedibjo masih menguasai salah satu frekuensi paling potensial untuk 5G. Apakah pemerintah berani memutus kontraknya lebih awal? Dan kemana kelompok ini akan dipindahkan?

Kontrak kelola frekuensi radio di Indonesia

Tantangan lain untuk memboyong 5G ke Indonesia pun masih banyak. Infrastruktur dan investasi menjadi dua hal yang kini membuat operator masih enggan melirik 5G dalam waktu dekat. Kita akan membahasnya dalam artikel kedua. Simak terus tek.id.

Share
×
tekid
back to top