sun
moon
Premium Partner :
Kamis, 26 Des 2019 12:13 WIB

Teknologi baru bisa ubah CO2 jadi bahan bakar

Penangkapan karbon dioksida bekerja dengan terlebih dahulu mendinginkan gas yang dipancarkan dari pipa knalpot.

Teknologi baru bisa ubah CO2 jadi bahan bakar
Source: Pexels

Seperti yang diketahui, sebagian besar emisi karbon dioksida berasal dari sektor transportasi. Di Eropa sendiri, hampir 40 persen emisi transportasi berasal dari truk. Untungnya baru-baru ini para peneliti di Swiss Federal Institute of Lausanne (EPFL) telah membuat konsep teknologi baru untuk menampung karbon dioksida dari knalpot truk yang dapat mengurangi emisi hingga 90 persen.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Energy Research, para peneliti mengusulkan menampung karbon dioksida dari pipa knalpot truk dan mengubahnya menjadi cairan, kemudian disimpan dalam tangki di atap kendaraan. Dilansir dari Engadget (23/12), karbon dioksida cair ini kemudian dapat dikirim ke stasiun layanan di mana ia dapat digunakan kembali, seperti diubah menjadi bahan bakar konvensional.

Penangkapan karbon dioksida bekerja dengan terlebih dahulu mendinginkan gas yang dipancarkan dari pipa knalpot. Bahan penyerap khusus yang dikembangkan di EPFL dapat memisahkan karbon dioksida dari gas lain seperti nitrogen dan oksigen. Ketika penuh, bahan penyerap kemudian dipanaskan untuk mengekstrasi karbon dioksida, dan panas dari mesin kendaraan digunakan untuk mengompresi karbon dioksida dan mengubahnya menjadi cairan. Kemudian cairan ini dapat disimpan dalam kotak yang melekat pada atap kendaraan sampai dapat disimpan di stasiun layanan ketika truk mengisi bahan bakar.

Sistem ini lebih cocok untuk kendaraan besar seperti truk dan bus daripada mobil karena berukuran lebih besar, membutuhkan kapsul sepanjang 2 meter dan bobot 7 persen dari total muatan truk. Namun, para peneliti menghitung bahwa 90 persen emisi karbon dioksida dapat didaur ulang dengan cara ini.

Untuk sementara, teknologi tersebut masih sebatas konsep, dan para peneliti memperkirakan bahwa akan membutuhkan beberapa tahun untuk mewujudkannya di dunia nyata. Langkah selanjutnya adalah mengembangkan purwarupa sistem untuk menguji elemen eksperimental dalam praktiknya.

Tag
Share
back to top