Review Mi 8 Lite

Xiaomi Mi 8 Lite, layak atau tidak?

Meski hanya mendaratkan Mi 8 versi Lite yang lebih sederhana dari versi premiumnya, Mi, 8 ke Indonesia, ada alasan kenapa ponsel pintar ini patut kita pertimbangkan.

Xiaomi Mi 8 Lite, layak atau tidak? (Foto: Tek.id)

Kameranya Instagramable

Kamera Xiaomi Mi 8 Lite memiliki fitur Artificial Intelligence (AI), baik pada kamera utamanya maupun di kamera depan. FItur ini jugalah yang menjadi nilai jual Mi 8 Lite untuk bersaing dengan kompetitor.

Kamera utamanya mengusung dua lensa. Masing-masing beresolusi 12 megapiksel (f/1.9) dan 5 megapiksel (f/2.0). Xiaomi juga menempatkan lampu LED flash tepat disamping kamera, guna membantu menambah pencahayaan untuk mengambil objek dalam gelap.

Selama saya memotret menggunakan kamera ganda ini, saya mendapati hasil foto yang bagus. Khususnya ketika cahaya yang menerpa objek cukup optimal, seperti pencahayaan di luar ruangan (outdoor). Detil gambarnya tajam, kontras warna yang nyaman dipandang mata, dan fokusnya yang pas. Blur yang dihasilkan kameranya pun terlihat baik serta natural.

Saat kamera digunakan di dalam ruangan (indoor), sekilas fotonya tak jauh berbeda dengan foto outdoor. Namun setelah saya teliti lagi, ada sedikit noise pada hasil tangkapan kameranya. Itu terlihat khususnya ketika gambar saya coba perbesar.

Noise ini tak selalu muncul pada semua hasil foto indoor, melainkan hanya sesekali saja. Kemungkinan hal tersebut muncul karena pencahayaan di sekitar objek kurang merata. Sementara ketika cahayanya tersebar dengan rata, hasil fotonya bagus tanpa kemunculan noise.

Sebagaimana digembar-gemborkan Xiaomi, Mi 8 Lite menggunakan AI untuk mempercantik hasil jepretannya. Namun selama saya mencobanya, perubahan efek AI dengan foto tanpa AI tak begitu kentara. Hanya saja yang saya dapati ada pada kontras warnanya. Terdapat sedikit ketajaman kontras pada mode AI dibanding mode foto biasa.

Begitu pula ketika AI aktif saat saya selfie. Perubahannya tak begitu terlihat, kecuali kontras warna yang sedikit lebih jelas. Dalam mode normal maupun potrait, jepretan kameranya menghasilkan gambar yang menawan dan memanjakan mata. Baik dalam kondisi outdoor maupun indoor, hasil foto selfie-nya sama-sama bagus.

Kenapa saya sebut kameranya Instagramable? Mi 8 Lite menyediakan beberapa mode baik untuk kamera depan maupun belakang. Salah satunya mode Square, dimana frame-nya berbentuk persegi. Ukuran gambar tersebut kerap digunakan untuk konten di Instagram karena lebih proporsional.

Mode lainnya yang Instagramable adalah "Short Video" atau video pendek. Mode ini mirip dengan fitur stories di Instagram. Bedanya, video pendek di Mi 8 Lite hanya mampu menampung durasi 10 detik saja. 

Saya juga mencoba fitur slow-mo. Sayangnya saya tak mendapati efek yang "wah" atau mengagumkan sebagaimana video slow-mo pada smartphone lain. Hasil slow-mo Mi 8 Lite tampak biasa saja karena Xiaomi hanya memperlambat pemutaran video dari awal hingga akhir. Detil gambarnya sendiri saya nilai lumayan mengingat smartphone ini mendukung resolusi full HD.

Sejumlah mode lainnya yang melengkapi kamera Mi 8 Lite yaitu time lapse, panorama, manual, hingga beberapa fitur edit gambar selfie. Fitur selfie ini mampu mengatur wajah pengguna menjadi mancung, pipi menjadi tirus, atau memperbesar mata.  

Fitur keamanan lengkap, tapi...

Seperti mayoritas smartphone mid-end lainnya, Mi 8 Lite memiliki fitur keamanan yang langkap. Ada pemindai sidik jari dan Face Unlock. Sayangnya, tekstur pemindai sidik jari Mi 8 Lite bertekstur selicin bagian belakang Mi 8 Lite. Memang, ada pembatas berbentuk lingkaran di bagian belakang bodi Mi 8 Lite. Namun posisi pemindai sidik jarinya saya rasa kurang menjorok sehingga sulit untuk diraba jari tanpa melihatnya langsung. Secara fungsional, fitur keamanan ini memang bisa dioperasikan dengan baik dan cepat.

Face Unlock-nya juga bisa berjalan dengan baik dan mampu membuka perangat dalam waktu cukup singkat. Sayangnya, saya harus menghidupkan layar terlebih dulu, untuk memindai wajah. Tak ada opsi untuk memindai wajah saat layar dalam mode ‘tidur’.

Keribetan ini akan memakan lebih banyak waktu, apalagi ketika saya harus buru-buru membuka ponsel.

Fitur lainnya yang layak diulas adalah audio. Speaker Xiaomi Mi 8 Lite ditempatkan di bawah ponsel, berdampingan dengan port USB-C. Pengalaman audio yang rasa dengarkan yakni, suaranya cukup nyaman di telinga. Audionya tidak sember, meski volume tertinggi aktif. Namun smartphone ini tak punya lubang jack audio 3,5mm. Kalau mau menyambung earphone atau headphone, saya harus menggunakan perangkat tambahan.

Soal baterai, smartphone berdaya 3.350 mAh ini memang mendukung fitur fast charging. Namun tampaknya pengguna harus membeli charger yang mendukung fitur itu. Pasalnya, saat saya mengisi ulang baterai Mi 8 Lite dengan charger bawaannya, durasi isi penuhnya memakan waktu sekitar dua jam. Durasi pemakaiannya pun terbilang standar. Baterai terkuras 7% ketika saya ajak menonton tayangan Youtube dan streaming selama 35 menit.

Kesimpulan

Performanya Mi 8 Lite terbilang baik dan layak dipakai main gim meski bodinya terasa hangat ketika bermain gim berat, meski baru main 10 menit saja. Baterainya juga lumayan untuk menopang aktivitas, namun durasi charge-nya cukup lama. Kameranya menghasilkan gambar yang tampak menawan. Berharga Rp3,7 juta, Mi 8 Lite layak dipertimbangkan bagi Anda yang mencari smartphone kelas menengah andal.

 
Xiaomi Mi 8 Lite
Bagus ...
  • Kamera menawan
  • Performa cukup andal
  •  
Kurang ...
  • Bodi licin
  • Desain fingerprint kurang nyaman
Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: