Rahasia membidik penonton YouTube yang tepat

Memanfaatkan mesin kecerdasan buatan, kita jadi tahu gambaran jelas soal YouTube

Strike Social dalam laporan terbarunya, The Big Picture Youtube Advertising, 2017 Benchmark Report,  mengatakan kebanyakan digital marketer melihat YouTube dengan cara yang kurang tepat.

Strike Social sendiri merupakan perusahaan multinasional yang memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu klien mereka beriklan di media sosial. Strike Social telah menangani iklan YouTube dari beragam klien di 25 industri berbeda selama setahun belakangan ini.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Begini cara gunakan fitur Tukar Tambah di Tokopedia

Remarketing: membuat email marketing yang “dibaca”

Rahasia iklan mobile Harbolnas 2017


Memanfaatkan teknologi AI, mereka mengukur efektivitas iklan YouTube menggunakan matriks yang sangat krusial. Pertama, View Rate (VR), Cost-Per-View (CPV), dan Click-Through Rate (CTR).

Matriks-matriks tersebut mereka bandingkan dengan variabel seperti, jenis kelamin, usia, perangkat, dan lainnya. Semua itu untuk mencari gambaran besar bagaimana memastikan brand Anda berkilau di antara kerumunan iklan di YouTube. Tentunya, ini membantu brand secara tepat dan efektif menempatkan budget iklan mereka di media sosial, khususnya Youtube.

Rahasia sebuah View Rate

Dari data Strike Social, secara umum, CPV, VR, dan CTR tiap industri berbeda-beda angkanya. Hanya saja, VR dari industri yang satu dengan yang lainnya, ketika diurut dari yang tertinggi ke yang terendah, sedikit berimbang dibanding CPV dan CTR.

Perlu Anda ketahui, VR merupakan pengukuran rasio penonton video berbayar di YouTube. Rasionya bisa diperoleh dari perbandingan antara jumlah penonton dengan jumlah penayangan (impressions). Ukurannya seperti ini. Misalnya dari 100 kali tayang di Youtube, video Anda memperoleh penonton sebanyak 5 orang, maka VR adalah 5/100 = 5%.

Industri pendidikan menjadi video berbayar dengan rasio VR tertinggi di YouTube, sementara industri retail yang paling rendah.

Targetkan kategori "Unknown"

Memanfaatkan mesin kecerdasan buatan, membuat celah-celah yang selama ini luput dari mata manusia jadi terlihat. Misalnya saja begini, digital marketer tahu bila penonton berusia lebih tua ternyata lebih setia menonton iklan daripada yang berusia muda. Akan tetapi di YouTube, Cost-Per-View (CPV) bagi pemirsa yang berusia lebih dewasa juga lebih mahal.

Akan tetapi, digital marketer seringkali luput bahwa VR yang sangat baik dengan CPV yang sangat rendah ternyata ada di kategori usia "Unknown".

 

Seringkali digital marketer menilai kelompok usia unknown ini merupakan kelompok usia 'sembarangan' yang tidak memiliki posisi penawaran yang tinggi dan bukan target pasar mereka.

Anatomi pengguna "Unknown"

Anda perlu mengetahui, bagaimana Google melabeli seorang pemirsa YouTube dengan label "Unknown". Ini bisa dipecah menjadi dua penjelasan.

Pertama, pengguna mengubah pengaturan iklannya di platform YouTube atau platform layanan Google lainnya. Di dalam data pribadi, pengguna mengisi form yang merahasiakan data pribadinya.

Kedua, Ketika pengguna tidak masuk (log in) ke akun Google-nya, informasi demografiknya disimpulkan sebagai Unknown oleh Google. Google menggunakan seluruh sumber daya dan propertinya untuk mengidentifikasi seorang pengguna dan mengkategorisasikannya ke dalam demografi. Mereka kemudian melacak informasi pengguna melalui web browser atau cookie.

 

Memahami pemirsa Anda

Pengguna YouTube jauh lebih rumit daripada tampak luarnya. Akan tetapi menggunakan data riwayat yang dibandingkan dengan target pasar, KPI dari klien, anggaran, dan pengeluaran, ada opsi yang unik untuk membuat kampanye video YouTube menjadi efektif.

Untuk memberikan gambaran bagaimana strategi ini bekerja, Strike Social mencoba memberikan contoh dari sudut pandang industri gim di YouTube.

 

Momentum yang tepat

Ada banyak momentum-momentum yang sangat tepat untuk melihat pergerakan VR dan CPV terbaik maupun terburuk. Statistik yang berhasil dikumpulkan Strike Social menunjukkan Desember merupakan momen paling buruk. View Rate di bulan Desember berada di kisaran 25.4 persen, sementara CPV berada di angka yang sangat tinggi, yaitu 36.4 persen lebih tinggi dari harga CPV terendah.

Sementara itu, Januari merupakan saat terbaik untuk beriklan di YouTube. VR bulan Januari ada di angka 28 persen lebih tinggi dari rata-rata VR bulan lainnya. Sementara CPV ada di angka USD0.034 dan menjadi biaya per klik terendah sepanjang tahun.

 

Apabila Anda memiliki jadwal kampanye bulanan, Anda bisa menghemat anggaran dengan membaca pola ini. Caranya dengan menaruh iklan atau kampanye di bulan-bulan yang tidak terlalu padat kompetisi.

Momen spesifik seperti Natal (Desember), E3 (acara gim), dan lain-lain, bisa membuat targeting menjadi tidak efisien dan menguras budget.

Jangan remehkan PC

Dari 25 industri yang dipelajari datanya, VR di perangkat PC lebih tinggi daripada di ponsel atau tablet. VR di PC 7.6 persen lebih tinggi daripada VR rata-rata perangkat lainnya.

 

Artinya apa? PC akan memberikan iklan video Anda awareness yang jauh lebih baik daripada perangkat lainnya. Strategi yang disarankan Strike Social, adalah hindari untuk mentargetkan semua kategori usia di dalam perangkat smartphone. Ini akan memberikan dampak yang dahsyat bagi video berbayar dengan budget rendah.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: