Tanpa Google, Huawei bakal jadi apa?

Google Services dan ekosistem yang menyokong Google Play Store dalam satu perangkat smartphone, kalau hilang, bisa menghancurkan sebuah perusahaan.

Tanpa Google, Huawei bakal jadi apa?

Google resmi tidak bisa bekerjasama dengan Huawei sejak Mei lalu. Berita soal masuknya Huawei ke daftar Entity List di Departemen Perdagangan dan Keamanan Amerika Serikat, menghajar bisnis Huawei dengan telak.

Kehilangan dukungan dari Google saja membuat Huawei kalang kabut. Pasalnya, sudah bertahun-tahun, tidak hanya Huawei, sebagian besar perangkat mobile bergantung pada sistem operasi Google. Sudah banyak cara dan alternatif yang coba diciptakan, namun yang mereka coba saingi bukan sekadar software, tapi sebuah ekosistem digital yang sangat besar dan berpengaruh.

Apabila ini memaksa Huawei untuk mengembangkan sistem operasi (OS) baru, maka Huawei bakal hanya seperti mengobati luka amputasi semata. Rumornya, OS baru itu bernama HongMeng OS. Kendati kabar sudah beredar, namun belum dipastikan apakah HongMeng ini sebenarnya nama kode atau memang nama aktual dari sistem operasi bikinan Huawei. 

Kabarnya, sistem operasi ini akan dapat menjalankan semua aplikasi Android. CEO Consumer Business Huawei, Yu Chengdong juga memastikan hal tersebut. Tidak heran karena pada dasarnya, Huawei memanfaatkan lisensi gratis Android Open Source Program (AOSP) untuk mengembangkannya.

Huawei nampaknya sadar betul kerepotan membangun sistem operasi dari nol. Mereka melakukan pendekatan berbeda dengan menggunakan AOSP ini. Secara teori, para pengembang hanya perlu memodifikasi lagi aplikasi mereka agar sesuai dengan HongMeng. Pembaruan aplikasi ini mutlak dilakukan para developer agar aplikasi Android lain bisa berjalan dalam versi yang lebih stabil di HongMeng OS.

Bakal ribet update Gmail

Untuk diketahui, Google Services yang terancam hilang di smartphone Huawei, sebenarnya berguna untuk menjalankan sejumlah aplikasi vital di ponsel Android, salah satunya adalah gmail. Selama ini pengguna dimanjakan dengan kemudahan memasang email di ponsel Android. Ini karena adanya Google Service tersebut. Hilangnya Google Service bukan berarti pengguna tak bisa lagi menggunakan gmail di ponsel Huawei masa depan. 

Pengguna Huawei di masa depan tetap bisa menggunakan gmail, namun cara memasangnya akan sedikit berbeda dengan biasanya. Proses pemasangan manual akan dibutuhkan di sini. Artinya, pengguna Huawei mesti memasukkan IMAP, POP3 dan Exchange secara manual. Sebelumnya hal ini dilakukan secara otomatis oleh sistem Google. 

Ribet? Memang iya. Tapi mari kita berharap Huawei memiliki solusi untuk detail-detail seperti ini. Membuat sistem operasi sendiri memang tidaklah mudah, Huawei tampaknya akan bisa melalui ini. Bukan berarti tanpa hambatan. Kalau pun OS Huawei sudah dibuat dalam versi stabil, tantangan masih membentang di depan Huawei. Membangun ekosistem dari sistem operasinya inilah yang akan menjadi penentu bagi Huawei.

Perlu biaya dan investasi waktu yang besar untuk membangun sebuah ekosistem serta komunitas developer yang loyal mengembangkan Google Play Store ala Huawei. Untuk memahami lebih jauh, coba kita simak bagaimana Google membangun ekosistemnya satu dekade yang lalu.

Ekosistem Google Play Store

Aplikasi di sistem operasi Android, iOS, maupun OS mobile lainnya sangat penting. Tanpa aplikasi, smartphone rasanya kurang smart. Terminologi ekosistem di Android berkaitan antara pengguna-pengembang aplikasi-produsen gadget. Salah satu dari ketiganya tidak ada, maka ekosistem Android tidak akan tercipta.

Pengembangan Android menjadi sebesar sekarang melawati sejarah panjang. Pada 5 November 2007, Open Handset Alliance, sebuah konsorsium perusahaan teknologi termasuk, Google, HTC, Motorola, Samsung, Sprint, T-Mobile, Qualcomm, serta Texas Instruments, mencoba mengembangkan sebuah platform terbuka di perangkat mobile.

Saat itu industri mobile, khususnya seluler, memiliki dua sistem operasi pesaing yakni, Symbian dan LiMo. Sementara Google telah mengakuisisi Android pada Juli 2005. Ini adalah kartu As yang Google pegang. Barulah sejak 2008, Android menunjukkan perubahan-perubahan penting dalam peningkatan kemampuannya.

Dari 2008, perlu waktu lima tahun lamanya untuk menelurkan Google Play Store di smartphone Android. Awalnya, toko aplikasi ini pun ekslusif hanya ada di dua perangkat premium seperti, Samsung Galaxy S4 dan HTC Google Play Edition.

Kenapa begitu lama Android menelurkan Google Play Store? Google perlu membentuk sebuah komunitas semenjak Android stabil di tahun 2008. Mereka setiap tahun mengadakan Google I/O (Input/Output). Setiap tahun mereka membahas tema-tema untuk mengembangkan platform Android ini bersama para pengembang (developer). Jadi pada masa itu, ekosistemnya masih prematur, pengguna ponsel sudah ada, perangkat sudah banyak, lalu Google serius bermain di sisi software-nya dengan memofkuskan para pengembang aplikasi.

Fokus pada Google Play

Platform Google Play Store yang awalnya disebut Android Market, mulai serius digarap dan menjadi tema pokok di Google I/O 2013. Misinya adalah sebagai baian penting dari distribusi digital untuk menyalurkan aplikasi buatan developer ke pengguna perangkat Android.

Aplikasi-aplikasi yang dibuat pun beragam, dan pengembang aplikasi bebas mengekploitasi kapabilitas perangkat-perangkat Android yang ada. Lebih dari 3,5 juta aplikasi terbit di Google Play Store pada 2017 silam. Penggunanya pun sudah mencakup 145 negara.

Developer punya keleluasaan untuk mendistribusikan aplikasi ke negara yang mereka targetkan. Mereka juga punya keleluasaan untuk menentukan harga aplikasi atau harga item dalam aplikasi yang bisa mereka jual ke pengguna. Bagi hasil dengan Google sebagai pemilik toko sebesar 7:3, 70% masuk kantung pengembang aplikasi, 30% masuk kantung Google. Sistem ini berjalan dengan sangat matang sampai mendominasi pasar sistem operasi mobile di dunia. Menurut data Statistika, pada 2017 lalu, pangsa pasar perangkat Android secara global mencapai 86%.

Google Play Store yang bakal hilang

Dengan absennya Google Play Store, Huawei harus menyiapkan toko aplikasi sendiri. Kendati dilaporkan sudah memiliki toko aplikasi sendiri bernama App Gallery, toh Huawei juga kabarnya menjalin kerjasama dengan Aptoide. Memang kalau melihat skala Google Play Store, Huawei harus bekerja sama dengan banyak pihak untuk menutupi kekurangan mereka.

Aptoide sendiri tersedia dalam 40 bahasa, telah diunduh 200 juta pengguna, dan punya 800 ribu aplikasi Android. Skala ekosistem Aptoide jelas lebih kecil dari kedigdayaan Google Play Store

Aptoide sendiri merupakan alternatif toko aplikasi untuk perangkat Android. Aptoide tidak seperti Play Store. Aptoide bukan sebuah toko aplikasi eksklusif. Pengguna Aptoide bisa mencari aplikasi yang tidak terdapat di Google Play Store. Tak hanya itu, pengguna juga ditawarkan untuk mengatur toko mereka sendiri. 

Di atas kertas, Aptoide memang menjadi solusi terbaik bagi Huawei dan tentunya, angin segar bagi para penggunanya. Sebenarnya bisa saja Huawei menggunakan toko aplikasi dan layanan yang sudah diberlakukan di Cina, tetapi mengedukasi konsumen luar negeri bukan perkara mudah. Sementara di lain pihak ada banyak ponsel Android yang bisa mereka pilih untuk menemukan layanan Google. 

Kalau berhasil, Huawei bisa membuktikan kalau Google bukanlah segalanya. Keberhasilan Huawei bisa jadi contoh bagi produsen smartphone lain.

Tizen, inisiatif gagal dari Intel dan Samsung

Tizen menjadi salah satu usaha yang gagal dari pengembangan platform mobile terbuka. Sebelum ini ada banyak platform yang coba dikembangkan, Moblin, Maemo, MeeGo. Embrio Tizen sendiri berasal dari MeeGo.

Perilisan sistem operasi Tizen sendiri mundur selama tiga tahun. Pengembangannya dilempar-lempar dari Nokia ke Intel lalu ke Samsung. Sampai akhirnya tidak ke mana-mana setelah itu.

Misi Tizen adalah mengembangkan sistem operasi yang mudah untuk berjalan dan mengembangkan aplikasi berbasis web-browser (HTML5). Tizen berbeda dengan Android. Android mengembangkan basis aplikasinya pada smartphone secara langsung (natif). Inisiatif Tizen ini awalnya datang dari Intel. Mereka yakin operasi ini akan berhasil.

Sayangnya Intel kehilangan partner perangkat kerasnya, Nokia. Ingat, untuk membentuk sebuah ekosistem digital ada tiga unsur yang diperlukan, pengguna-aplikasi-hardware.

Intel telah berhasil meyakinkan pengguna MeeGo untuk bertransisi ke proyek Tizen. Kendati begitu mereka frustasi saat Nokia memilih untuk menggunakan Windows Phone daripada MeeGo ataupun Tizen.

Saat itu, Samsung masih terbuka dengan ragam alternatif sistem operasi. Mereka terbuka untuk menggunakan Windows Phone, Android, dan masih membangun Bada OS, sistem operasi buatan mereka sendiri.

Memang selain itu ada banyak sistem operasi terbuka yang nyaris tidak masuk survei seperti Firefox OS. Kendati begitu, para pengembang yakin, nama-nama tersebut hanyalah sebatas untuk menyalurkan hobi penggila IT semata. Tidak adanya pemimpin industri yang hadir mendukung ekosistem ini membuat pengembangannya stagnan.

Kendati Tizen memiliki nama besar yang bisa memimpin masa depan ekosistem seperti Intel, Samsung, dan Linux Foundation, nama-nama besar itu memperlakukan proyek ini sebagai sekedar proyek pendukung. Mereka tidak meletakkan usaha serius dalam pengembangannya. Intel misalnya, pernah punya rumor untuk menelurkan perangkat smartphone mereka sendiri, demi mendukung sistem operasi buatan mereka sendiri. Mereka punya arsitektur x86 yang coba mereka adopsikan ke perangkat mobile, tapi tidak pernah terwujud sampai saat ini.

Sementara Samsung ikut ambil bagian dalam mengembangkan Tizen demi mengurangi biaya yang besar untuk mengembangkan Bada OS mereka sendiri. Mereka perlu sokongan dana Intel untuk membantu R&D mereka. Bagi Samsung smartphone Tizen ini hanyalah cadangan kekuatan untuk menggoyang kekuatan Android. Kendati mereka menikmati posisi tertinggi sebagai vendor smartphone nomor satu, berkat mengadopsi Android di smartphone mereka.

Secara teknis, Tizen OS ini bergantung pada HTML5, dimana aplikasinya berjalan di browser internet, bukan di dalam smartphone. Artinya, perangkat smartphone yang memiliki Tizen OS akan berharga lebih murah sekitar USD150-USD250 (Rp2,1-Rp3,5 juta).

Hanya saja, pabrikan smartphone asal Cina, India, dan Asia Tenggara, menghajar ekosistem Tizen dengan menciptakan smartphone Android di rentang harga yang sama. Strategi mereka adalah dengan membuat smartphone Android dengan versi sedikit lebih lama. Pemain kelas menengah ini hanya memberi sentuhan interface buatan mereka sendiri pada AOSP versi lawas, namun memubat harga hardware mereka jadi sangat terjangkau. Strategi ini cukup menekan kehadiran Tizen di pasaran.

Smartphone Samsung berbasis Tizen, Samsung Z2, sempat mampir ke Indonesia 2015 silam. Hanya saja penetrasi perangkat mereka berhenti di situ. Belakangan, Tizen fokus menjadi platform saja tanpa ada update hardware yang agresif di pasaran. Usaha Samsung mengembangkan Tizen kalau tidak bisa dibilang belum berhasil, maka gagal.

Kemudian, apakah Huawei akan meniru hal serupa? Atau mereka masih punya strategi lain? Kita tunggu saja.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: