Perjalanan Youtube 2017 ini penuh lika-liku

Dimulai dari pertumbuhan pengguna yang menakjubkan, diakhiri skandal di penghujung tahun.

2017 menjadi tahun penuh lika-liku bagi Youtube. Ia kembali meneruskan dominasi sebagai platform video terbesar di dunia. Juni 2017, mereka mengumumkan telah punya pengguna aktif bulanan sebanyak 1.5 miliar pengguna. Youtube ada di nomor urut kedua setelah Facebook dalam hal pengguna aktif bulanan.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

YouTube hapus 30.000 video ujaran kebencian

Youtube mempersingkat jumlah subscriber di platform mereka

Youtube segera rilis website khusus anak-anak


Berdasarkan data analisis dari Forbes (7/12), 10 kanal top di Youtube meraih pendapatan USD127 juta di 2017 ini. Kenaikannya hingga 80 persen dibanding 2016.

Kendati begitu, citra publik terhadap Youtube 2017 ini adalah citra terburuk sepanjang tahun. Kita mulai dari memburuknya citra bintang Youtube terbesar, PewDiPie. Wall Street Juornal menulis bila ia menggunakan citra Nzi dan humor anti semit di dalam kontennya. Akibatnya vlogger Swedia ini kehilangan kontrak dengan Disney. Youtube pun menghukum PewDiePie dengan cara menunda serial originalnya di Youtube.

Tidak lama setelah skandal PewDiPie, merek-merek besar mengancam untuk memboikot Youtube. Persoalannya, mereka menemukan bahwa iklan mereka diputar di video-video berbau rasis dan berbahasa kasar.

Kendati begitu, rangkaian skandal ini tidak membuat antusiasme investor turun untuk membeli saham Google. Tidak ada dampak signifikan bagi pendapatan Google, setelah terhantam rangkaian skandal dan boikot pertama dari para pengiklan. Merek besar pun kembali beriklan di Youtube dengan cepat.

Beralih ke konten anak-anak, kini konten tersebut menjadi genre terpopuler di platform tersebut. Dalam laporan resmi Youtube (2/11), sejak meluncur 2015 lalu, platform Youtube Kids memiliki 11 juta pengguna aktif mingguan. Beroperasi di 37 negara, dengan raihan penonton hingga 70 miliar kali.

Di awal November, skandal Youtube merambah ke aplikasi Youtube Kids. Youtube dipaksa banyak pihak untuk meminta maaf atas kelalaiannya dalam menyaring konten tidak senonoh di aplikasi Youtube Kids mereka. Youtube berusaha menangani krisis ini dan menyalahkan adanya aktor jahat dalam isu ini. Namun skandal ini terus berulang, bahkan membesar. Alhasil di minggu terakhir November 2017, Youtube menghadapi boikot kedua dari pengiklan.

2018 menjadi ujian bagi Youtube. Apakah usaha mereka untuk menghentikan kekacauan 2017 ini berhasil? Bila konten skandal masih ditemukan terselip di konten anak-anak, masih maukah pengiklan berinvestasi di platform mereka? Kita tunggu saja.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: