Review film

Apa yang salah dengan Men In Black International?

Film favorit saya ini mengalami penurunan kualitas naskah, tokoh baru yang muncul belum mampu menggantikan agen J dan agen K.

Apa yang salah dengan Men In Black International?

Laporan Cinemablend (25/6), mengatakan, Men In Black International tidak mampu mempertahankan posisi di box office bioskop domestik Amerika. Masuk pekan kedua pemutarannya, pendapatannya turun 64% dari pendapatan pemutaran pekan utamanya USD30,3 juta (Rp427 miliar).

Masih dalam laporan Cinemablend, dana produksi film ini mencapai USD110 juta. Melihat tren pendapatannya yang tak samapi menutup modal, bisa jadi ini film Men In Black terakhir. Sayang sekali, padahal ini film favorit saya.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Stranger Things season 3 jadi serial yang paling banyak ditonton di Netflix

Paul Dano akan berperan sebagai Riddler di The Batman

Jessica Henwick bakal main film Matrix 4


Tapi memang ketika memasuki ruang bioskop, ada perasaan aneh yang merayap di dalam diri saya. Ruangan bioskop saat saya menonton Men In Black International pekan lalu memang penuh. Kendati begitu, ini baru pekan pertama penayangannya di Indonesia. Tapi kalau review -termasuk review ini- bakal memperpuruk Men In Black International, saya rasa film ini tidak akan bertahan lebih dari dua pekan di bioskop Indonesia. Perlu diketahui, di Rotten Tomatoes ratingnya hanya 23%. Sebuah penghakiman yang sulit karena situs itu jadi jujukan penonton sebelum membeli tiket.

Secara produk, Men In Black International adalah pengembangan naskah Men In Black I, II, dan III. Dengan berani produksi Men In Black International tidak menyertakan dua tokoh utama yang ikonik, agen J dan K.

Ada dua harapan saat penonton Men In Black International memasuki bioskop. Pertama, tokoh baru bakal membuat cerita jadi lebih segar, atau memperburuk keadaan sama sekali.

Saya masuk ke bioskop dengan pikiran positif, berharap menemukan hal menarik di dalam nantinya. Kemudian mulailah cerita Men In Black terkelupas. Berawal dari misi di Paris yang dijalankan agen baru, agen H (Chris Hemsworth) dan agen Hight T (Liam Nesson). Kemudian kisah melompat dengan cepat ke seorang anak kecil bernama Molly yang menyaksikan alien dan Men In Black.

Dari dua kisah berbeda latar belakang itu, jalinan plot Men In Black terbentuk. Sebenarnya, Molly tumbuh menjadi perempuan dewasa yang terobsesi untuk menjadi agen MIB yang ia lihat sewaktu kecil. Ia mengikuti tes di FBI dan CIA, dan tidak bisa menemukan organisasi rahasia tersebut. Namun dengan cara meretas komputer NASA, ia berhasil menemukan keberadaan MIB.

Ia menerobos masuk dan meraih predikat agen magang yang dikirim ke London. Di sanalah ia bertemu agen H dan agen High T. Partnernya adalah agen H, agen terbaik MIB cabang London yang kehilangan jati diri.

Ada kasus yang tentunya harus mereka pecahkan demi melindungi bumi dari serangan alien. Plot besarnya khas MIB banget. Hanya saja karakter tokoh utama yang menjadi pusat cerita Men In Black International, tidak berkembang menjadi menarik.

Saya merasakan ada sisipan humor di naskah film ini. Sayang sekali, respon tawa saya tipis sekali. Begitu juga dengan seisi bioskop. Humornya jelas kurang nampol. Apa mungkin karena kesusahan mengembangkan naskah bagi Chris Hemswort dan Tessa Thompson? Menulis naskah komedi kata penulis komedi memang lebih sulit daripada menulis drama. Perlu observasi lebih untuk menyamakan persepsi dengan penonton. Sementara dialog-dialog humor yang tersisip di Men In Black International, perlu dicerna lebih jauh lagi untuk bisa merangsang saraf humor saya dan penonton lainnya. Padahal, komedi yang sukses harus lekas dicerna untuk meledak.

Saya pikir, Chris Hemswort bukan masalah utamanya, karena ia cukup berhasil mengocok perut kita semua di Avengers Endgame, dengan perubahan karakternya yang sangat komikal. Lawan mainnya juga sudah tidak diragukan lagi kekompakannya, karena sejatinya Tessa Thompson sudah bekerja sama dengan Chris sejak Thor Ragnarok. Artinya, kedua pemeran ini bakal lebih mudah menemukan chemistry dalam satu bingkai yang sama. Lantas boleh kita tunjuk kesalahannya ada pada penyutradaraan atau tim penulis naskah yang payah di sini.

Padahal secara alur, Men In Black International sudah mengikuti pakem kisah MIB sebelum-sebelumnya. Ada potensi pengembangan cerita karena agen MIB ternyata kini sudah punya cabang multinasional. Seharusnya, ini modal yang berharga untuk membuat kisah MIB International lebih kaya. Mungkin tidak perlu memaksakan agen H dan agen M menggantikan ikon MIB sebelumnya, agen J dan K. Cukup untuk membuat karakter mereka lebih kuat saja, maka MIB International bisa sukses.

Di sini jelas kedua karakter utama di MIB International tidak membawa kisahnya menjadi unik. Seolah seperti peran agen FBI biasa di film-film thriller FBI biasa, hanya saja berhiaskan universe MIB. Jadi tidak aneh sekuel kali ini jadi biasa saja, dan meruntuhkan espekstasi penonton maupun kritikus. Imbasnya secara bisnis, pendapatan dari penjualan tiket jauh dari ekspektasi, bahkan tidak mungkin balik modal. Ini semakin meyakinkan saya, sekuel MIB sudah menemui akhirnya di judul kali ini. Kalau ada sekuel MIB berikutnya, tampaknya saya harus pikir dua kali untuk menonton lagi.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: