Thomas Djamaluddin dan harapan besar dunia antariksa Indonesia

Prof. Dr. Thomas Djamaluddin punya banyak harapan soal LAPAN dan dunia antariksa nasional

Thomas Djamaluddin dan harapan besar dunia antariksa Indonesia (Foto: Erlanmart/Tek.id)

Luar angkasa merupakan wilayah yang tak mudah dijamah oleh sembarang orang. Diperlukan pengetahuan dan kemampuan yang mumpuni demi mengeksplorasi dunia selain Bumi.

Sejauh ini National Aeronautics and Space Administration (NASA) menjadi salah satu lembaga yang dijadikan kiblat oleh banyak negara. Namun jangan salah, Indonesia juga memiliki lembaga serupa yang bahkan menjadi lembaga antariksa terbaik se-Asia Tenggara.

Adalah Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang merupakan lembaga pemerintah non kementerian Indonesia yang bertugas di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan serta pemanfaatannya. Sejak 2014, NASA-nya Indonesia itu dipimpin oleh Prof. Dr. Thomas Djamaluddin hingga saat ini.

Bukan tanpa cerita, pria kelahiran Cirebon itu menjalani pahit getir kehidupannya hingga menjadi orang nomor satu di LAPAN. Namun keterbatasan yang sempat dirasakan Thomas tak membuatnya berhenti belajar, mengulik dunia luar angkasa.

Minat keantariksaan

Tahun 1975 guru Thomas bertanya dan meminta murid-muridnya menuliskan apa cita-cita mereka. Thomas yang kala itu menempuh studi di SMP 1 Cirebon menulis dalam bukunya "jadi peneliti". Cita-cita itu berangkat dari minat Thomas yang memang tertarik pada penelitian tumbuhan.

"Waktu SMP saya senang meneliti tentang tumbuhan. Jadi tumbuhan biji-biji terutama awal musim hujan kan biji-biji yang dibuang ada rambutan, kedondong, tumbuh. Saya melihat, perhatikan, bagaimana mulai tumbuhnya, di kebun kecil-kecilan dirumah.Nemu biji rambutan baru tumbuh, ambil, tanam terus saya amati pertumbuhannya," ujar Thomas dalam wawancara eksklusif dengan Tek.id.

Selang beberapa tahun ketika Thomas memasuki kelas akhir di tingkat SMP-nya, teman sebayanya dihebohkan dengan pemberitaan terkait UFO yang dipublikasikan oleh majalah Mekatronika dan Scientiae. Topik piring terbang itu juga mampu menghipnotis Thomas serta teman-teman sekolahnya sehingga UFO menjadi pembicaraan mereka.

Menginjakkan kaki di SMA 2 Cirebon, ketertarikan akan dunia antariksa masih melekat pada diri Thomas. Belum lagi minat tersebut didukung dengan fasilitas perpustakaan sekolah yang menyediakan buku terkait makhluk luar angkasa. Lembar demi lembar buku karya Erich von Daniken berhasil "dilahap" Thomas hingga memunculkan pertanyaan akan korelasi antariksa dalam pandangan agama.

Di usianya yang baru mengenyam pendidikan awal di SMA, Thomas mencoba membuat tulisan terkait korelasi UFO dengan agama. Berbekal referensi dari perpustakaan sekolahnya, tuisan Thomas kemudian dimuat dalam majalah Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan judul 'UFO: Bagaimana Menurut Agama?'. Dari titik inilah Thomas mulai mantap mengalihkan minatnya dari penelitian tumbuhan ke dunia antariksa.

Nasib baik tampaknya memang berpihak pada Thomas Djamaluddin kala itu. Ketika ia mengenyam pendidikan SMA tingkat akhir, ITB membuka penerimaan mahasiswa melalui jalur tes dan tanpa tes. Beruntungnya, ITB pun pada saat itu membuka jurusan Astronomi yang senada dengan minat Thomas.

"Dulunya, sebelum tahun 1981 hanya IPB (yang menerima mahasiswa tanpa tes). Tahun 1981 mulai ITB juga menerima... Alhamdulillah saya diterima tanpa tes di ITB, dan langsung disebut dalam surat permohonan, saya berminat masuk astronomi," kata Thomas mengenang. Di Kampus inilah Thomas kemudian belajar terkait keantariksaan dan mempertebal pengetahuan luar angkasa.

Berkarier di LAPAN

Jelang lulus dari ITB dengan jurusan astronomi, dewi fortuna tampaknya masih berpihak pada Thomas. Salah seorang alumni ITB yang telah bekerja di LAPAN berkat jurusan astronomi bertandang ke almamaternya. Orang tersebut lantas mengajak Thomas untuk berkarier bersamanya di LAPAN.

"Ayo masuk LAPAN aja, nanti disekolahkan. Mendengar 'nanti disekolahkan', ya sudah kemudian saya mau, padahal cita-cita awal saya mau jadi dosen dan pembimbing saya juga berharap saya jadi dosen," kata Thomas sambil tersenyum.

Thomas mengikuti tes untuk masuk menjadi staf di LAPAN. Padahal ia masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir di ITB. Namun ketentuan perekrutan pegawai saat itu tak serumit saat ini. Diakui Thomas, ketika ia menghadap Kepala LAPAN kala itu ia dianggap lulus oleh pemimpin lembaga antariksa tersebut.

Bahagia hati Thomas ketika lolos tes di LAPAN rupanya menjadi kekecewaan sang pembimbing skripsinya. "Sudah nggak usah bimbingan," katanya saat itu, karena ia berharap Thomas menjadi dosen. Namun berkat masukan dari berbagai dosen akhirnya Thomas tetap bisa melanjutkan bimbingan dengan dosen pembimbing yang sama.

Per 1 November 1986 Thomas Djamaluddin resmi tercatat sebagai peneliti antariksa di LAPAN. Selang setahun kemudian, sesuai dengan harapannya Thomas mendapat tawaran untuk melanjutkan studi di Kyoto University, Jepang. Thomas mengenyam pendidikan di Departemen Astronomi Kyoto University hingga memperoleh gelar doktor.

Tahun 1994 Thomas mulai mengabdikan diri secara penuh di LAPAN. Beberapa jabatan yang pernah diemban yakni Peneliti Antariksa, Kepala komputer Induk, Kepala Bidang Matahari, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, serta Deputi Sains.

Disisi lain, Thomas juga menjadi dosen di UIN Semarang. Tak hanya itu, pria kelahiran 1962 itu juga aktif menulis di berbagai media termasuk menjadi tim hisab rukyat di Kementerian Agama. Kini, Thomas menjabat sebagai Kepala LAPAN hingga periode 2019.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: