Ini Jurus HR Hadapi Era AI, Satukan Energi Gen Z dan Pengalaman Profesional Senior
Strategi HR di era AI: kolaborasi Gen Z dan senior jadi kunci sukses. Simak insight tiket.com di podcast Power Talks.
Ilustrasi kecerdasan buatan. dok. freepik.com
Transformasi dunia kerja akibat kecerdasan buatan (AI) memunculkan dinamika baru dalam strategi perekrutan.
Di satu sisi, perusahaan mulai melirik profesional senior karena pengalaman dan “wisdom” yang dimiliki. Di sisi lain, generasi muda justru khawatir tertinggal. Padahal, masa depan kerja dinilai bukan soal memilih salah satu, melainkan menggabungkan keduanya.
Pandangan ini disampaikan oleh Chief People Officer tiket.com Dudi Arisandi dalam podcast Power Talks yang diproduksi oleh Jobstreet by SEEK. Menurutnya, organisasi yang mampu menyatukan energi Gen Z dengan pengalaman profesional senior justru akan lebih siap menghadapi era AI.
Dudi menyoroti tantangan utama saat ini bukan sekadar ketersediaan tenaga kerja, melainkan kesenjangan antara skill yang dimiliki dengan kebutuhan industri.
- ChatGPT Images 2.0 Hadir di Indonesia, Bikin Desain Visual Lebih Presisi hingga Resolusi 4K
- 80% Perusahaan Masih Kesulitan Jalankan AI, Keterbatasan Akses Data jadi Penghambat
- AI dari China ini Hanya Butuh 80 jam Pecahkan Soal Matematika yang Bertahan 12 Tahun
- SiteMinder Buka Akses Pemesana Hotel Lewat Platform AI
Ia menilai pendekatan rekrutmen berbasis usia atau latar belakang pendidikan perlu ditinggalkan.
“Perusahaan harus fokus pada capability. Bukan lagi soal usia atau almamater, tapi apakah kandidat mampu menjalankan pekerjaannya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengubah cara pandang terhadap Gen Z. Alih-alih dilabeli sebagai generasi yang sulit diatur, perusahaan didorong untuk memberikan ruang pengembangan melalui mentoring dan coaching.
“Stop blaming, start helping,” kata Dudi, menekankan pentingnya pendekatan yang lebih suportif dalam membangun talenta muda.
Dalam praktiknya, kolaborasi lintas generasi bisa diwujudkan melalui konsep reverse mentoring. Profesional senior dapat berbagi pengalaman dan intuisi bisnis, sementara Gen Z berkontribusi melalui kemampuan digital dan kreativitas.
Dudi bahkan mengakui dirinya belajar penggunaan tools digital dari tim yang lebih muda. Menurutnya, pendekatan ini menjadi cara efektif untuk mempercepat adaptasi organisasi terhadap perubahan teknologi.
Di tengah dominasi AI, ia juga menekankan hard skill saja tidak lagi cukup. Banyak pekerjaan teknis kini dapat diotomasi, sehingga kemampuan seperti pengambilan keputusan, analisis, dan manajemen stakeholder justru menjadi nilai utama.
Sebagai strategi jangka panjang, Dudi memperkenalkan kerangka “5B” dalam pengelolaan talenta, yakni Build (mengembangkan internal), Buy (merekrut dari luar), Borrow (memanfaatkan tenaga eksternal), Bridging (rotasi peran), dan Bot (otomasi). Pendekatan ini dinilai mampu menciptakan organisasi yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Ia menegaskan kekuatan utama perusahaan di era AI tetap terletak pada manusia yang mau belajar dan berkolaborasi.
“Teknologi akan terus berubah, tapi nilai manusia yang mau belajar dan bekerja sama tidak akan tergantikan. Kuncinya adalah menggabungkan energi Gen Z dengan kebijaksanaan generasi sebelumnya,” ujarnya.
Podcast Power Talks sendiri menjadi ruang diskusi bagi praktisi HR, pelaku bisnis, hingga pencari kerja untuk memahami arah perubahan dunia kerja di Indonesia.
Program ini dipandu oleh Head of Country Marketing Jobstreet by SEEK Sawitri, yang menilai kolaborasi lintas generasi sebagai peluang untuk membangun tim yang lebih kuat dan humanis.
"Melalui Power Talks, kami ingin menyediakan ruang dialog yang bermakna antara praktisi HR, pelaku bisnis, dan pencari kerja. Ini adalah bagian dari komitmen Jobstreet by SEEK untuk terus mendukung ekosistem rekrutmen dan ketenagakerjaan di Indonesia," pungkas Sawitri.









