×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

AI Makin Dominan di Dunia Korporasi, Tata Kelola dan Keamanan Jadi Sorotan

Oleh: Tek ID - Selasa, 09 Juni 2026 20:12

Laporan F5 mengungkap 78% perusahaan telah menjalankan AI inference sebagai operasi inti bisnis, diiringi tantangan keamanan dan tata kelola baru.

Laporan F5 : AI Makin Dominan di Dunia Korporasi F5 memaparkan AI kini makin jadi bagian operasi bisnis korporasi. dok. F5

Kecerdasan buatan (AI) kini bukan lagi sekadar proyek percobaan di lingkungan perusahaan. Laporan terbaru F5 bertajuk State of Application Strategy (SOAS) 2026 menunjukkan bahwa AI telah bertransformasi menjadi bagian penting dari operasional bisnis, dengan 78 persen organisasi global kini menjalankan AI inference secara mandiri sebagai beban kerja produksi yang kritikal.

Temuan tersebut menandai pergeseran besar dalam pemanfaatan AI di dunia korporasi. Jika sebelumnya perusahaan fokus pada eksplorasi dan pengembangan model, kini perhatian beralih pada bagaimana AI dijalankan secara aman, andal, dan dalam skala besar untuk mendukung aktivitas bisnis sehari-hari.

Laporan yang melibatkan ratusan pemimpin teknologi informasi dan keamanan siber di berbagai negara itu juga menunjukkan bahwa perusahaan semakin memilih mengelola AI secara langsung dibanding mengandalkan layanan publik. Langkah tersebut dilakukan untuk memperoleh kendali yang lebih besar terhadap data, keamanan, serta performa sistem yang digunakan.

Chief Product Officer F5, Kunal Anand, mengatakan AI telah memasuki fase baru yang menuntut disiplin operasional setara dengan sistem bisnis kritis lainnya.

“AI telah berubah dari tahap eksperimentasi ke tahap operasional. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah perusahaan akan menggunakan AI, melainkan apakah mereka dapat menjalankannya secara andal, aman, dan dalam skala besar,” ujar Kunal Anand.

Menurut laporan tersebut, rata-rata organisasi saat ini mengelola tujuh model AI yang telah masuk tahap produksi. Sebanyak 77 persen responden menyebut aktivitas inference atau proses menghasilkan output dari model AI yang sudah dilatih menjadi penggunaan AI yang paling dominan, melampaui fase pengembangan dan pelatihan model.

Di kawasan Asia Pasifik, China, dan Jepang (APCJ), tren serupa juga terlihat. Sebanyak 65 persen organisasi memanfaatkan AI untuk otomatisasi operasional secara real-time, sementara rata-rata perusahaan mengoperasikan tiga hingga empat model AI dalam lingkungan produksi.

Pertumbuhan pemanfaatan AI terjadi bersamaan dengan semakin kompleksnya lingkungan teknologi perusahaan. Sebanyak 93 persen organisasi global kini beroperasi dalam ekosistem multicloud, sementara 86 persen menjalankan aplikasi di lingkungan hybrid yang menggabungkan pusat data internal, cloud publik, dan fasilitas colocation.

Kondisi tersebut menciptakan tantangan baru dalam pengelolaan aplikasi dan sistem AI. Perusahaan dituntut mampu memastikan performa, keamanan, serta tata kelola yang konsisten di berbagai lingkungan teknologi yang semakin tersebar.

Country Manager F5 Indonesia, Surung Sinamo, menilai tantangan perusahaan saat ini tidak lagi sebatas menjalankan model AI, tetapi juga memastikan keamanan dan tata kelola yang menyertainya.

“Tantangan saat ini bukan lagi sekadar menjalankan AI model, melainkan juga mengamankan lalu lintas AI inference, mengelola identitas agen AI yang semakin banyak, dan menegakkan kebijakan keamanan yang konsisten di seluruh lingkungan hybrid multicloud tanpa menimbulkan area blind spot dalam operasional,” kata Surung.

Laporan F5 juga mengungkap bahwa keamanan kini menjadi perhatian utama dalam implementasi AI. Sebanyak 88 persen organisasi mengaku telah menghadapi tantangan keamanan terkait AI, sementara 98 persen sedang mempersiapkan penerapan agentic AI atau sistem AI otonom yang dapat mengambil keputusan dan menjalankan tugas secara mandiri.

Perkembangan tersebut mendorong perubahan paradigma keamanan siber. Jika sebelumnya perlindungan berfokus pada jaringan dan infrastruktur, kini perhatian mulai bergeser ke lapisan prompt, token, API, hingga identitas digital yang digunakan oleh sistem AI.

Sebanyak 29 persen organisasi menyebut lapisan prompt sebagai titik kendali utama dalam pengelolaan AI, sedangkan 23 persen lainnya memprioritaskan pengelolaan token untuk mendukung keamanan dan efisiensi operasional. Pergeseran ini menunjukkan bahwa tata kelola AI kini menjadi kebutuhan mendasar bagi perusahaan yang ingin mengembangkan teknologi tersebut secara aman dan berkelanjutan.

F5 menilai tingkat kematangan AI akan menjadi indikator baru dalam mengukur daya saing dan ketahanan operasional perusahaan. Organisasi yang mampu membangun sistem observabilitas, autentikasi, dan tata kelola terpadu di seluruh lingkungan AI diperkirakan akan lebih siap mengubah potensi teknologi tersebut menjadi nilai bisnis yang berkelanjutan.

×
back to top