×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

AI Jadi Bagian Daya Saing Ekonomi Suatu Negara, Kearney Ungkap Tantangan Baru bagi Indonesia

Oleh: Tek ID - Jumat, 10 Juli 2026 08:05

Laporan Kearney menyebut masa depan ekonomi Indonesia bergantung pada kemampuan membangun talenta, infrastruktur, dan ekosistem AI.

AI Jadi Bagian Daya Saing Ekonomi Suatu Negara Ilustrasi AI. dok. magnific

Kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menentukan daya saing ekonomi suatu negara pada masa depan. 

Bagi Indonesia, kemampuan membangun talenta, infrastruktur digital, dan ekosistem AI dinilai akan menjadi penentu keberhasilan dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah perubahan lanskap global.

Hal tersebut menjadi salah satu temuan utama dalam laporan terbaru Kearney berjudul How the Economic Development Model Is Being Rewritten by AI. 

Laporan tersebut menyebut AI tidak lagi sekadar menjadi teknologi pendukung produktivitas, melainkan telah berkembang menjadi fondasi baru yang mengubah cara negara menarik investasi, mengembangkan sumber daya manusia, membangun industri, hingga menciptakan nilai ekonomi jangka panjang.

Potensi ekonomi AI juga terus meningkat. Teknologi Generative AI diperkirakan mampu memberikan kontribusi antara 2,6 triliun dolar AS hingga 4,4 triliun dolar AS terhadap perekonomian global setiap tahun melalui berbagai sektor, mulai dari layanan pelanggan, pemasaran, rekayasa perangkat lunak, hingga penelitian dan pengembangan. 

Sejalan dengan itu, investasi global pada infrastruktur AI terus bertumbuh dan menjadi aset strategis bagi banyak negara.

Partner Kearney sekaligus penulis laporan, Tomoo Sato, mengatakan AI telah mengubah banyak asumsi dasar yang selama ini menjadi fondasi pembangunan ekonomi.

"AI tidak sekadar memperkenalkan gelombang inovasi teknologi terbaru. AI juga mengubah banyak asumsi yang selama dua dekade terakhir menjadi panduan pembangunan ekonomi. Negara yang unggul di era AI bukanlah yang menawarkan biaya terendah atau tenaga kerja terbesar, melainkan yang mampu membangun kapabilitas, infrastruktur, dan ekosistem yang dibutuhkan untuk menciptakan nilai dari AI dalam skala besar,” ujarnya.

Dalam laporannya, Kearney mengidentifikasi delapan perubahan mendasar yang diperkirakan akan membentuk ulang persaingan ekonomi global. 

Pertama, keunggulan tenaga kerja berbiaya murah tidak lagi menjadi faktor utama karena otomatisasi dan AI mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja di sektor manufaktur maupun jasa. Kedua, daya komputasi kini menjadi aset strategis yang sama pentingnya dengan sumber daya ekonomi tradisional.

Ketiga, arus investasi AI mulai mengubah peta perdagangan global dengan memberi keuntungan lebih besar kepada negara yang menguasai semikonduktor, energi, data, dan talenta digital. Keempat, peluang ekonomi AI tidak hanya berada pada pengembangan model AI, tetapi juga di berbagai sektor pendukung dalam rantai nilainya.

Kelima, AI berkembang melampaui aplikasi berbasis teks menuju robotika, computer vision, dan integrasi dengan dunia fisik yang mendorong kebutuhan perangkat keras, energi, dan data dalam skala lebih besar. Keenam, literasi AI dipandang sebagai salah satu faktor peningkat produktivitas paling penting karena kemampuan tenaga kerja dalam beradaptasi akan menentukan keberhasilan implementasi teknologi tersebut.

Ketujuh, AI mempercepat persaingan antarperusahaan maupun antarnegara melalui siklus inovasi yang lebih singkat dan kompetisi berbasis platform. Sementara kedelapan, isu keamanan, etika, regulasi, dan kedaulatan AI menjadi prioritas baru yang harus diantisipasi pemerintah maupun pelaku industri.

Bagi Indonesia, perubahan tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Selama ini, pertumbuhan ekonomi banyak ditopang oleh tenaga kerja yang melimpah dan industri manufaktur berorientasi ekspor. Namun, meningkatnya otomatisasi membuat keunggulan tersebut tidak lagi cukup untuk menjaga daya saing dalam jangka panjang.

Kearney menilai Indonesia memiliki peluang untuk mengambil peran strategis dalam ekonomi AI melalui pengembangan layanan digital, manufaktur berteknologi tinggi, infrastruktur data, hingga operasional berbasis AI. 

Untuk mewujudkannya, Indonesia perlu memperkuat dua fondasi utama, yakni penyediaan energi bersih yang mampu mendukung kebutuhan komputasi dalam skala besar serta peningkatan literasi AI di seluruh lapisan tenaga kerja.

Presiden Direktur Kearney Indonesia Shirley Santoso mengatakan keberhasilan Indonesia tidak hanya bergantung pada seberapa cepat mengadopsi AI, tetapi juga pada kemampuan membangun ekosistem yang mendukung penciptaan nilai ekonomi.

Menurut Shirley, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk berpartisipasi dalam ekonomi AI, namun keberhasilan jangka panjang akan bergantung pada lebih dari sekadar adopsi teknologi. 

Seiring AI menjadi pendorong utama produktivitas dan penciptaan nilai, negara-negara akan semakin bersaing berdasarkan kualitas sumber daya manusia, kekuatan ekosistem inovasi, infrastruktur digital, serta kemampuan dalam mengubah kapabilitas teknologi menjadi hasil ekonomi yang nyata. 

“Sangat penting bagi organisasi yang menghadapi transformasi digital untuk dapat menjembatani kesenjangan antara adopsi teknologi dan kesiapan tenaga kerjanya,” kata Shirley.

Shirley menambahkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, penyedia teknologi, investor, dan dunia usaha menjadi faktor penting agar Indonesia mampu memperkuat posisinya dalam rantai nilai AI global. 

Menurutnya, sinergi tersebut akan menentukan kemampuan Indonesia mengubah perkembangan AI menjadi pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing jangka panjang.

×
back to top