Riset Lark: Ambisi AI Perusahaan Indonesia Terhambat Kesiapan Digital dan Pengalaman Karyawan
Riset Lark mengungkap hanya 19% perusahaan Indonesia yang matang secara digital, sementara kesenjangan pengalaman karyawan menghambat adopsi AI.
Ilustrasi kecerdasan buatan
Perusahaan di Indonesia semakin agresif mengadopsi kecerdasan buatan (AI), namun kesiapan organisasi dinilai belum mampu mengimbangi ambisi tersebut.
Laporan terbaru dari Lark mengungkap hanya 19% perusahaan di Indonesia yang menilai dirinya telah mencapai tingkat kematangan digital, sementara lebih dari separuh organisasi masih berada pada tahap awal eksperimen AI.
Temuan itu dipublikasikan dalam laporan "The Paradox of Progress – Why a Broken Employee Experience is Sabotaging Adoption of AI in the Workplace", yang disusun berdasarkan survei terhadap 900 perusahaan dan lebih dari 5.000 karyawan di enam negara Asia Tenggara.
Laporan tersebut menyoroti adanya kesenjangan yang semakin lebar antara ambisi pimpinan perusahaan mengadopsi AI dengan pengalaman kerja karyawan yang masih terfragmentasi.
- Riset Nutanix: 88% Organisasi Kesehatan Belum Siap Terapkan AI, Shadow AI Jadi Ancaman Baru
- Bukan Kekurangan Data, Ini Tantangan Terbesar Perusahaan Indonesia di Era AI
- Couchbase Perkenalkan AI Data Plane untuk Tingkatkan Kinerja Agen AI Enterprise
- Riset Microsoft: Sepertiga Pekerja Indonesia Jadi Pengguna AI Tingkat Lanjut, Lampaui Rata-rata Global
Di Indonesia, sembilan dari sepuluh perusahaan mengaku aktif membangun budaya yang terbuka terhadap perubahan teknologi. Namun, transformasi digital selama ini dinilai lebih berfokus pada pengembangan sistem dibandingkan pengalaman manusia yang menggunakannya.
Akibatnya, banyak organisasi menghadapi ekosistem kerja yang terfragmentasi, kolaborasi yang kurang efektif, hingga menurunnya keterlibatan karyawan dalam proses transformasi.
Laporan tersebut menemukan 63% karyawan merasa pimpinan perusahaan belum benar-benar memahami kebutuhan digital mereka.
Di sisi lain, 58% responden mengaku kehilangan sedikitnya tiga jam kerja setiap pekan akibat inefisiensi kolaborasi digital, sementara hampir separuh karyawan merasa kewalahan karena harus menggunakan terlalu banyak aplikasi untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.
Persoalan lain muncul dari kesenjangan antara keinginan perusahaan mendorong inovasi dan ruang yang diberikan kepada karyawan.
Meski 89% perusahaan mengklaim mendukung pemberdayaan tenaga kerja, hanya 31% karyawan yang merasa memiliki keleluasaan untuk menghadirkan ide baru.
Bahkan hanya 42% yang merasa memiliki kendali terhadap perangkat digital yang mereka gunakan dalam bekerja.
General Manager Asia Pacific Lark Olivier Adam menilai kondisi tersebut menjadi peringatan bagi organisasi yang tengah mempercepat implementasi AI.
"Temuan ini seharusnya menjadi peringatan bagi organisasi. Kita berada pada momen penting bagi adopsi AI di Asia Tenggara, tetapi riset ini menunjukkan bahwa fondasinya belum sekuat yang diyakini banyak pemimpin. Karyawan merasa kewalahan, belum cukup dibekali, dan semakin jauh dari keputusan yang memengaruhi cara mereka bekerja. Jika organisasi tidak segera mengatasi kesenjangan ini sebelum menambahkan lebih banyak AI ke dalam pengalaman kerja yang sudah terfragmentasi, mereka berisiko mempercepat hal yang keliru. Teknologinya sudah siap. Pertanyaannya, apakah orang-orang yang diharapkan menggunakannya juga merasa siap?” katanya.
Selain persoalan kesiapan, riset ini juga menemukan munculnya kesenjangan kepercayaan terhadap AI. Hanya 30% karyawan yang menilai organisasinya transparan mengenai penggunaan AI, sementara 45% mengaku belum memahami ekspektasi perusahaan terhadap pemanfaatan teknologi tersebut.
Dampaknya, 46% responden khawatir AI pada akhirnya akan membuat pekerjaan mereka tidak lagi relevan, sedangkan 90% menyimpan kekhawatiran terkait aspek keamanan penggunaan AI.
Meski demikian, antusiasme terhadap AI tetap tinggi. Sebanyak 90% responden menyatakan siap memanfaatkan AI apabila mampu mengambil alih pekerjaan rutin sehingga mereka dapat lebih fokus pada tugas yang bernilai strategis.
Karyawan juga menilai organisasi perlu memperkuat pelatihan di bidang keamanan siber, kolaborasi lintas tim, dokumentasi kerja, hingga produktivitas berbasis AI agar transformasi digital berjalan lebih efektif.
Laporan tersebut turut menunjukkan organisasi yang telah beralih ke platform kerja terpadu memperoleh manfaat nyata.
Sebanyak 92% perusahaan melaporkan peningkatan efisiensi, 90% mengalami penurunan hambatan komunikasi, dan 83% mencatat penghematan biaya operasional setelah meninggalkan ekosistem aplikasi yang terfragmentasi.
Olivier menegaskan keberhasilan transformasi AI tidak semata ditentukan oleh kecepatan adopsi teknologi, tetapi oleh kemampuan perusahaan membawa seluruh karyawannya ikut beradaptasi.
"Organisasi yang akan memimpin babak berikutnya dalam transformasi digital bukanlah organisasi yang sekadar paling cepat mengadopsi AI, melainkan organisasi yang mampu membawa karyawannya maju bersama. Artinya, organisasi perlu transparan tentang bagaimana AI digunakan, berinvestasi pada orang-orang yang diharapkan dapat bekerja berdampingan dengannya, serta membangun lingkungan kerja di mana teknologi benar-benar melayani tenaga kerja. Potensi AI sangat besar, tetapi hanya akan sepenuhnya terwujud ketika karyawan merasa dipersiapkan, dilibatkan, dan percaya diri terhadap cara AI diterapkan,” pungkasnya.









