×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Kedaulatan Data dan Infrastruktur Jadi Tantangan Besar Implementasi AI di Sektor Finansial

Oleh: Tek ID - Selasa, 23 Juni 2026 17:35

Nutanix mengungkap adopsi AI di sektor keuangan meningkat pesat, namun tata kelola dan infrastruktur masih menjadi kendala.

Data dan Infrastruktur Jadi Tantangan AI Sektor Finansial Ilustrasi penggunaan AI. dok. Freepik

Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di sektor layanan keuangan terus meningkat, namun banyak organisasi masih menghadapi kendala ketika ingin memperluas penerapannya. 

Tantangan terbesar bukan lagi terletak pada teknologi semata, melainkan pada tata kelola, kesiapan infrastruktur, dan proses operasional yang belum sepenuhnya matang.

Temuan tersebut terungkap dalam Financial Sector Enterprise Cloud Index (ECI) 2026 yang dirilis Nutanix. Laporan tahunan kedelapan tersebut menunjukkan lembaga keuangan di berbagai negara kini berada pada titik penting dalam perjalanan adopsi AI.

Salah satu temuan utama adalah meningkatnya fenomena shadow AI, yaitu penggunaan aplikasi atau layanan AI yang tidak mendapat persetujuan resmi perusahaan. 

Sebanyak 66 persen eksekutif teknologi informasi mengaku menemukan penggunaan AI tidak resmi di lingkungan kerja mereka.

Lebih jauh, 86 persen responden menilai praktik tersebut berpotensi menimbulkan risiko bisnis, mulai dari kebocoran data hingga persoalan kepatuhan terhadap regulasi.

Laporan tersebut juga menunjukkan hambatan terbesar dalam meningkatkan skala implementasi AI justru berasal dari faktor nonteknis. 

Kompleksitas proses bisnis menjadi tantangan utama dengan porsi 38 persen, disusul faktor organisasi seperti kepemimpinan dan ketersediaan keahlian sebesar 34 persen.

Sementara itu, kendala teknis hanya menyumbang 28 persen dari keseluruhan hambatan implementasi AI. 

Temuan ini menunjukkan keberhasilan transformasi AI tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan organisasi.

Persoalan kedaulatan data juga menjadi perhatian utama. Sebanyak 79 persen organisasi menganggap kedaulatan data sebagai prioritas penting. 

Namun di sisi lain, 62 persen organisasi masih menjalankan beban kerja berbasis kontainer di lingkungan public cloud.

Kondisi tersebut menciptakan apa yang disebut Nutanix sebagai sovereignty debt, yakni ketidaksesuaian antara kebutuhan pengelolaan data yang aman dengan infrastruktur yang digunakan.

Di tengah meningkatnya kebutuhan AI, adopsi teknologi kontainer juga mengalami percepatan. Sebanyak 90 persen responden menyatakan AI mendorong penggunaan kontainer, sementara 89 persen memperkirakan tren tersebut akan terus berkembang dalam beberapa tahun mendatang.

Meski demikian, banyak organisasi mengakui infrastruktur mereka belum sepenuhnya siap. Sebanyak 68 persen responden menyatakan sistem yang dimiliki saat ini belum mampu mendukung beban kerja AI secara optimal di lingkungan lokal (on-premises).

Akibatnya, hampir dua pertiga organisasi atau sekitar 64 persen memilih mengandalkan penyedia layanan pihak ketiga untuk menutup kesenjangan infrastruktur yang mereka miliki.

Vice President APJ Nutanix Jay Tuseth mengatakan persaingan AI di kawasan Asia Pasifik kini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki model AI paling canggih.

"Di seluruh wilayah APJ, persaingan kini bukan lagi sekadar tentang siapa yang memiliki model AI paling canggih, melainkan tentang siapa yang mampu meningkatkan skala penerapannya secara aman dan bertanggung jawab," ujar Tuseth.

Ia menilai lembaga keuangan saat ini menghadapi tantangan yang semakin besar terkait kedaulatan data dan penggunaan AI yang tidak mendapat persetujuan resmi.

"Pemenang dalam kompetisi ini bukanlah mereka yang sekadar memiliki anggaran komputasi terbesar, melainkan mereka yang berhasil menyelaraskan infrastrukturnya dengan tuntutan regulasi regional dan kedaulatan data," katanya.

Nutanix menilai organisasi perlu menyelaraskan infrastruktur, tata kelola, dan proses operasional agar implementasi AI dapat berjalan secara aman sekaligus memenuhi tuntutan regulasi yang semakin ketat.

Laporan ini juga menunjukkan platform berbasis kontainer dan arsitektur hybrid multicloud semakin dipandang sebagai fondasi utama dalam mendukung pengembangan AI di sektor keuangan.

Studi Financial Sector Enterprise Cloud Index 2026 dilakukan oleh Wakefield Research pada November 2025 dengan melibatkan 1.600 eksekutif cloud, TI, dan engineering dari berbagai negara. 

Para responden berasal dari organisasi dengan minimal 500 karyawan di sejumlah pasar utama, termasuk Singapura, India, Jepang, Inggris, Amerika Serikat, dan Arab Saudi.

×
back to top