Riset Nutanix: 88% Organisasi Kesehatan Belum Siap Terapkan AI, Shadow AI Jadi Ancaman Baru
Laporan Nutanix mengungkap 88% organisasi kesehatan belum siap menjalankan AI, sementara penggunaan shadow AI terus meningkat.
Ilustrasi teknologi kesehatan. dok. Magnific
Organisasi kesehatan di seluruh dunia bergerak cepat mengadopsi kecerdasan buatan (AI), namun kesiapan infrastruktur teknologi dinilai belum mampu mengimbangi laju transformasi tersebut.
Laporan Enterprise Cloud Index (ECI) 2026 edisi sektor kesehatan dari Nutanix mengungkap sebanyak 88% pemimpin teknologi informasi (TI) mengakui infrastruktur yang mereka miliki belum siap mendukung implementasi AI secara optimal, terutama untuk kebutuhan layanan pasien secara langsung.
Temuan tersebut muncul di tengah meningkatnya dorongan dari manajemen puncak untuk mengintegrasikan AI ke dalam layanan kesehatan.
Di sisi lain, penggunaan shadow AI, yakni aplikasi atau agen AI yang digunakan tanpa pengawasan resmi departemen TI, semakin meluas dan memunculkan tantangan baru terkait keamanan, tata kelola data, serta kepatuhan terhadap regulasi.
- Riset Lark: Ambisi AI Perusahaan Indonesia Terhambat Kesiapan Digital dan Pengalaman Karyawan
- Bukan Kekurangan Data, Ini Tantangan Terbesar Perusahaan Indonesia di Era AI
- Couchbase Perkenalkan AI Data Plane untuk Tingkatkan Kinerja Agen AI Enterprise
- Riset Microsoft: Sepertiga Pekerja Indonesia Jadi Pengguna AI Tingkat Lanjut, Lampaui Rata-rata Global
Chief Technology Officer sekaligus Vice President Solution Engineering APJ Nutanix Daryush Ashjari mengatakan organisasi kesehatan di kawasan Asia Pasifik dan Jepang menghadapi tekanan besar untuk mengadopsi AI, tetapi kesiapan infrastruktur masih menjadi hambatan utama.
"Organisasi kesehatan di kawasan Asia Pasifik dan Jepang menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengadopsi AI. Tetapi besarnya kebutuhan dari para tenaga klinis belum diimbangi dengan kesiapan infrastruktur yang mendasarinya.
Dampaknya tidak hanya terbatas pada aspek IT, tetapi juga dapat memengaruhi ketersediaan sistem-sistem yang kritikal, akses terhadap data, dan pada akhirnya, keberlangsungan layanan bagi pasien," ujarnya.
Menurut Daryush, sektor kesehatan perlu beralih dari pendekatan yang reaktif menuju strategi hibrida yang terpadu agar mampu menyeimbangkan kebutuhan kepatuhan terhadap regulasi kedaulatan data dengan kemampuan menghadirkan analisis AI secara real-time di titik layanan pasien.
Laporan tersebut juga menemukan 79% organisasi kesehatan telah mendapati penggunaan aplikasi AI di luar kendali departemen TI.
Bahkan 83% responden menilai penggunaan shadow AI menimbulkan risiko serius bagi organisasi, sementara persentase yang sama mengakui silo antara unit bisnis dan TI semakin menyulitkan implementasi teknologi secara efektif.
Di sisi lain, AI justru mendorong percepatan modernisasi aplikasi. Sebanyak 86% organisasi kesehatan menyatakan implementasi AI mempercepat adopsi teknologi kontainer, sementara 81% memperkirakan penggunaan aplikasi berbasis kontainer akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Teknologi ini dinilai penting karena memungkinkan AI diproses langsung di lingkungan rumah sakit dengan latensi rendah tanpa harus sepenuhnya bergantung pada cloud.
Riset juga menunjukkan optimisme terhadap perkembangan agentic AI atau agen AI otonom. Sebanyak 58% pemimpin TI percaya teknologi tersebut mampu meningkatkan produktivitas organisasi, sedangkan 57% menilai AI akan mentransformasi proses bisnis layanan kesehatan.
Dalam tiga tahun mendatang, lebih dari separuh organisasi memperkirakan akan mengoperasikan agentic AI berdampingan dengan AI generatif dan analitik prediktif.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah kedaulatan data. Sebanyak 72% organisasi kesehatan menempatkan data sovereignty sebagai prioritas utama dalam menentukan strategi infrastruktur TI.
Saat ini lebih dari separuh responden telah menjalankan aplikasi berbasis kontainer di lingkungan on-premises maupun private cloud untuk memastikan data pasien tetap berada dalam wilayah hukum yang sesuai dengan regulasi.
Menurut Nutanix, meningkatnya penggunaan AI di ruang perawatan pasien akan mengubah kebutuhan arsitektur teknologi rumah sakit.
AI tidak lagi hanya dijalankan di pusat data, tetapi juga langsung di lokasi pelayanan sehingga membutuhkan komputasi lokal dengan performa tinggi, latensi rendah, serta tata kelola data yang lebih ketat.









