Investasi AI Melonjak di Asia pasifik, Data Gudang yang Terlambat Masih Jadi Batu Sandungan
Investasi AI di Asia Pasifik meningkat, namun banyak perusahaan masih menghadapi hambatan data gudang yang terlambat dan tidak lengkap.
Ilustrasi kecerdasan buatan. dok. freepik.com
Investasi perusahaan-perusahaan Asia Pasifik dalam kecerdasan buatan (AI) terus meningkat. Namun di balik ambisi besar tersebut, banyak perusahaan masih menghadapi persoalan mendasar, yakni kualitas dan kecepatan data operasional yang menjadi bahan bakar utama bagi sistem AI.
Riset Accenture bertajuk Pulse of Change menunjukkan sebanyak 86 persen pemimpin perusahaan di kawasan Asia Pasifik berkomitmen meningkatkan investasi pada teknologi AI.
Meski demikian, di banyak gudang, pusat logistik, dan fasilitas manufaktur, proses pencatatan data masih dilakukan secara manual sehingga informasi penting sering terlambat masuk ke sistem perusahaan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu topik utama dalam forum commsult Executive Exchange yang digelar di Jakarta. Acara bertema Leading in the Age of AI: How Technology is Transforming the Way Businesses Operate itu dihadiri berbagai perusahaan besar, termasuk PT Bayer Indonesia, PT Astra Tol Nusantara, Garuda Yamato Steel, dan Sinar Mas Land.
- AI Jadi Gerbang Baru Konsumen Mencari Produk, Avonetiq Hadirkan AVO AI
- Alibaba Resmi Jadi Mitra AI UEFA, Siapkan Pengalaman Nonton Sepak Bola yang Lebih Personal dan Interaktif
- MediaTek Gandeng Foxtron Kembangkan Kendaraan Cerdas Berbasis AI Generasi Berikutnya
- BDx dan PLN Sepakati Pasokan Listrik 1,2 GW untuk Dorong Infrastruktur AI Nasional
Founder dan CEO commsult AG Michael Buschner mengatakan banyak perusahaan yang sebenarnya telah berinvestasi pada sistem enterprise seperti SAP, namun masih menghadapi hambatan di tingkat operasional karena proses pencatatan data belum berjalan secara real-time.
“Banyak perusahaan yang kami kunjungi masih bekerja dengan pena dan kertas, sehingga prosesnya memakan waktu. Anda harus mengukur data, mengirimkannya, belum lagi masih harus dimasukkan ke dalam sistem SAP,” kata Michael.
Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan kesenjangan antara aktivitas yang terjadi di lapangan dan data yang tersedia di dalam sistem.
Akibatnya, perusahaan kesulitan memanfaatkan AI secara optimal karena teknologi tersebut sangat bergantung pada kualitas dan kelengkapan data.
Chief Information Officer Sinar Mas Land Stefanus Mulianto menilai transformasi digital tidak semata-mata bergantung pada teknologi yang digunakan, tetapi juga kesiapan organisasi dalam mengelola perubahan.
“Manusia, proses, teknologi. Jangan dibalik. Jangan menjadikan teknologi sebagai alat untuk membuat perubahan, itu tidak akan terjadi. Anda harus punya pola pikir yang tepat, lalu proses yang tepat, baru gunakan teknologi sebagai alat untuk menjawab masalah,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan pakar digital ICT Institute Heru Sutadi. Ia menjelaskan pemanfaatan AI dalam operasional logistik dan pergudangan di Indonesia memang mulai berkembang, tetapi masih menghadapi tantangan dalam integrasi sistem dan penyediaan data yang berkualitas.
“Tantangannya adalah integrasi dengan sistem yang sudah ada serta kebutuhan data yang berkualitas. Namun secara umum, tren digitalisasi logistik mendorong semakin banyak pelaku industri untuk mulai bereksperimen dengan solusi berbasis AI,” kata Heru.
Di banyak perusahaan yang telah menggunakan SAP di Indonesia, Singapura, dan Australia, pencatatan operasional masih mengandalkan terminal desktop yang terpisah dari area kerja gudang.
Kondisi tersebut menyebabkan data sering baru masuk ke sistem beberapa jam bahkan beberapa hari setelah aktivitas berlangsung.
Untuk menjawab tantangan tersebut, commsult memperkenalkan Ontego SAP Mobility, platform yang memungkinkan pekerja mengakses dan memperbarui data SAP secara langsung melalui perangkat mobile seperti tablet dan smartphone.
Direktur commsult Indonesia Leonardo Kurnia menjelaskan pendekatan tersebut memungkinkan data operasional tercatat secara real-time sehingga perusahaan memiliki visibilitas yang lebih baik terhadap aktivitas gudang dan rantai pasok.
“Perusahaan di Indonesia yang telah berinvestasi pada SAP kini bisa membawa sistem tersebut langsung ke lantai gudang secara real-time melalui perangkat yang dapat digunakan langsung oleh pekerja. Ontego memungkinkan hal ini tanpa kompleksitas dan biaya tinggi dari pengembangan sistem yang disesuaikan,” ujar Leonardo.
Selain mendukung sinkronisasi data secara real-time, platform tersebut juga dirancang tetap dapat beroperasi saat koneksi internet terputus. Data akan tersimpan sementara dan disinkronkan kembali ke sistem ketika koneksi tersedia.









