Sony kembangkan film berwarna yang dapat dicetak berkali-kali

Film buatan Sony ini diinformasikan mengandung bahan fototermal yang menggunakan laser dan hawa panas untuk mengubah warna.

Sony kembangkan film berwarna yang dapat dicetak berkali-kali Source: PetaPixel

Sony baru saja mengumumkan pengembangan bahan film terbaru yang dapat ditulis ulang (rewritable). Sama seperti cakram optik yang dapat ditulis ulang dan dihapus (dan seterusnya), film baru tersebut dapat menampilkan foto berwarna, kemudian dihapus dan kemudian digunakan kembali untuk menampilkan foto lain.

Film tipe baru ini bukanlah film fotografi yang dirancang untuk digunakan dalam kamera, melainkan film yang dapat diterapkan pada permukaan untuk menampilkan foto. Dilansir dari PetaPixel (17/5), belum jelas apakah teknologi ini suatu hari dapat digunakan untuk membuat jenis film kamera yang bisa digunakan kembali. Jika iya, ini adalah sesuatu yang revolusioner.


BACA JUGA

Video bocoran Canon EOS M6 Mark II dan EOS 90D mencuat

Ransomware kini berpotensi serang kamera DSLR

Sony RX100 VII bisa potret gambar hingga 20 fps


Film buatan Sony ini diinformasikan mengandung bahan fototermal yang menggunakan laser dan hawa panas untuk mengubah warna. Karena mencetak foto ke film melibatkan hawa panas, prosesnya dapat menciptakan gradasi warna dan detil yang halus. Perusahaan asal Jepang tersebut mengklaim, warna dan resolusi foto yang dihasilkan sebanding dengan kualitas foto yang dicetak secara tradisional.

“Sony akan terus menciptakan nilai baru melalui teknologi,” kata perwakilan Sony. Mereka juga akan mengeksplorasi aplikasi lain dari film ini selain berfungsi sebagai media pencetakan foto penuh warna yang dapat ditulis ulang.

Lantaran pewarna dapat dipanaskan kembali menggunakan laser, film dapat digunakan berulang kali untuk menampilkan foto dan gambar baru. Sony menyatakan teknologi laser yang dibuat untuk film ini dapat mencetak foto dengan kecepatan tinggi, dan bahkan mampu bekerja ketika film berada di belakang material seperti kaca transparan dan plastik.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: