Energi terbarukan tidak sepenuhnya ramah lingkungan

Teknologi penyimpanan daya berbasis baterai memang dapat terbarukan, tetapi unit ini membutuhkan logam kobalt yang kian langka.

Energi terbarukan tidak sepenuhnya ramah lingkungan Source: Pexels

Demi menjaga kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celcius, seluruh penduduk Bumi harus bergantung pada energi terbarukan, beberapa contohnya adalah upaya memproduksi mobil listrik dan penyimpanan daya listrik berbasis baterai. Tetapi membangun infrastuktur itu akan secara dramatis meningkatkan kebutuhan kita akan logam seperti kobalt dan lithium.

Dilansir dari Engadget (19/4), ada sebuah laporan yang memperingatkan bahwa lonjakan permintaan untuk logam-logam tersebut dan lainnya dapat mengeringkan cadangan sumber daya planet ini dan menyebabkan konsekuensi sosial dan lingkungan yang mengerikan.


BACA JUGA

Peneliti klaim angin di Greenland dapat beri listrik negara lain

Tesla tawarkan energi listrik baru bagi Yunani

Mobil listrik Hyundai dan KIA isi ulang tenaga pakai panel surya


Menurut para peneliti dari Institute for Sustainable Futures, situasi ini sangat mendesak bagi industri mobil listrik dan baterai. Industri tersebut merupakan pendorong utama permintaan kobalt, dengan setiap mobil listrik membutuhkan antara 5 hingga 10 kilogram logam tersebut untuk baterai lithium-ionnya. Sebanyak 60 persen kobalt berasal dari negara Kongo, yang telah didakwa menggunakan pekerja anak di tambangnya.

Para peneliti melihat total 14 logam, termasuk yang digunakan dalam panel surya dan turbin angin. Mereka memperkirakan bahwa konversi ke energi terbarukan 100 persen dapat meningkatkan permintaan untuk lithium dan nikel masing-masing sebanyak 280 persen dan 136 persen. Kesibukan untuk memenuhi permintaan itu kemungkinan akan meningkatkan penambangan di negara-negara dengan peraturan lingkungan dan keselamatan yang lemah.

Laporan tersebut menginformasikan bahwa daur ulang adalah cara terbaik untuk mengurangi permintaan primer. Sejauh ini, hanya beberapa perusahaan seperti Apple dan Amazon yang sudah mengembangkan sistem daur ulang mutakhir.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: