MIT bisa buat mobil otonom baca perilaku pengendara lain

Sistem mengamati perilaku cara mengemudi dan kemudian dapat lebih baik memprediksi pergerakan mobil lain saat berbelok atau manuver lainnya.

MIT bisa buat mobil otonom baca perilaku pengendara lain Source: Pexels

Sudah ada beberapa mobil yang dilengkapi dengan teknologi berkendara secara otonom, tetapi ada tantangan dalam menciptakan komputer mobil otonom ketika berhadapan dengan pengemudi manusia. Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) cenderung berasumsi bahwa semua manusia bertindak sama dan berperilaku dengan cara yang dapat diprediksi dan rasional. Tetapi kenyataannya tidak semua orang memiliki cara berkendara sama, karena ada pengemudi yang egois.

Penelitian baru dari Labolatorium Ilmu Pengetahuan dan Kecerdasan Buatan (Computer Science and Artificial Intelligence Labolatory / CSAIL) di MIT mengkaji masalah bagaimana mobil otonom dapat memprediksi perilaku pengemudi lain di jalan raya. Dilansir dari Engadget (18/11), prediksi ini membutuhkan tingkat kesadaran sosial yang sulit dilakukan oleh sebuah mesin, sehingga para peneliti melatih AI dengan psikologi sosial untuk membantu sistem mengklasifikasikan perilaku mengemudi.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

AI bisa hasilkan rekam medis dari percakapan pasien dan dokter

Australia manfaatkan AI untuk deteksi pengendara yang gunakan ponsel di mobil

Legoland bisa ubah orang jadi figur Lego berkat AI


Sistem mengamati perilaku cara mengemudi dan kemudian dapat lebih baik memprediksi pergerakan mobil lain saat berbelok atau manuver lainnya, dengan akurasi 25 persen lebih besar dari sebelumnya. Wawasan semacam ini tentang perilaku manusia penting untuk keselamatan ketika pengemudi otonom dan manusia berada dalam satu jalan.

“Bekerja dengan dan di sekitar manusia berarti mencari tahu niat mereka untuk lebih memahami perilakunya. Kecenderungan orang untuk kolaboratif atau kompetitif sering kali meluas ke dalam bagaimana mereka berperilaku sebagai pengemudi. Dalam makalah ini kami berusaha untuk memahami apakah itu merupakan sesuatu yang dapat kami ukur,” kata mahasiswa pascasarjana MIT, Wilko Schwarting.

Penelitian ini perlu diperluas sebelum dapat diterapkan di jalanan. Langkah selanjutnya adalah tim mengimplementasikan modelnya untuk pengguna jalan lain seperti pejalan kaki, pengendara sepeda dan sistem robot lainnya.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: