Guru Pesantren di Tasikmalaya Manfaatkan AI, Kelas Tahfiz Kini Lebih Terukur dan Fleksibel
Guru pesantren di Tasikmalaya gunakan Microsoft Copilot dan AI untuk bantu pembelajaran Alquran dan Bahasa Arab lebih terukur dan efisien.
Platform reading progress yang membantu guru mengajar. dok. Microsoft
Suasana kelas di Pondok Pesantren Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya, sekilas tak banyak berubah. Para santri tetap duduk bersila, memegang Alquran, menunggu giliran menyetorkan hafalan dan bacaan di hadapan guru.
Namun, di balik rutinitas itu, pendekatan pembelajaran mulai mengalami transformasi.
Hasan Basri, guru Bahasa Arab dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di pesantren tersebut, kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat proses evaluasi bacaan santri.
Melalui fitur Reading Progress di Microsoft Teams Learning Accelerators, ia memperoleh analisis tambahan terkait pelafalan, ketepatan tajwid, hingga struktur bacaan secara lebih sistematis.
- Hanya 19% Perusahaan Indonesia Siap Adopsi AI, Commsult Tawarkan Implementasi yang Lebih Praktis
- Cisco 360 Partner Program Percepat Transformasi AI Lewat Ekosistem Kemitraan
- Data dan Tata Kelola Jadi Penunjang Adopsi AI yang Makin Melesat di Indonesia
- 45 Persen Konsumen Ritel Indonesia Gunakan AI Untuk Riset Produk Hingga Simpulkan Ulasan
Teknologi ini tidak menggantikan peran guru, melainkan memperkaya proses penilaian. Setiap kesalahan pelafalan ditandai secara visual, sehingga Hasan dapat memberikan umpan balik yang lebih presisi.
Dalam satu sesi, ketika puluhan santri menyetorkan hafalan, dukungan analisis ini membantu memastikan tidak ada detail yang terlewat.
Hasan telah mengajar sejak 2016 dan menyaksikan langsung perubahan metode pembelajaran, dari konvensional hingga berbasis digital.
Ketertarikannya pada AI berkembang setelah mengikuti berbagai pelatihan nasional, termasuk program AI Teaching Power hasil kolaborasi Microsoft Elevate dan NUCare Global by LAZISNU.
Program tersebut membekalinya keterampilan praktis dalam memanfaatkan AI untuk pembelajaran yang tetap berlandaskan nilai. Dari sana, ia mulai melihat AI bukan sebagai konsep yang jauh dari pesantren, tetapi sebagai alat yang relevan dengan keseharian mengajar.
Salah satu perubahan paling terasa terjadi pada sisi administratif. Sebelumnya, Hasan harus menyusun silabus, materi, dan evaluasi secara manual. Kini, dengan bantuan Microsoft Copilot, proses tersebut dapat diselesaikan lebih efisien.
Ia menggunakan Copilot untuk merancang materi Bahasa Arab, menyusun evaluasi, hingga menyederhanakan struktur pembelajaran.
“Dulu banyak waktu habis untuk administrasi. Sekarang lebih bisa fokus pada pambinaan akhlak para santri,” ujarnya.
Efisiensi ini membuka ruang bagi interaksi yang lebih mendalam antara guru dan murid. Waktu yang sebelumnya tersita untuk dokumen kini dialihkan untuk pembinaan karakter dan pendalaman materi.
Transformasi juga terjadi pada metode latihan. Melalui fitur AI Conversation Practice di Copilot, santri dapat berlatih percakapan Bahasa Arab secara mandiri.
Simulasi dialog yang sebelumnya hanya dilakukan di kelas kini bisa diakses kapan saja, baik di asrama maupun dari rumah.
Fleksibilitas tersebut semakin terasa menjelang Ramadan, ketika intensitas pengkajian Alquran meningkat.
Dengan dukungan Reading Progress dan Speaking Progress, Hasan tetap dapat memantau perkembangan bacaan santri, bahkan ketika pembelajaran berlangsung jarak jauh.
Akses pembelajaran pun semakin terbuka. Santri menggunakan laptop pribadi atau perangkat yang tersedia di lingkungan pesantren untuk mengakses materi dan latihan. Pembelajaran tidak lagi terputus oleh keterbatasan ruang dan waktu.
Inisiatif ini menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas untuk meningkatkan kapasitas pendidik di lingkungan pendidikan formal dan nonformal di bawah Kementerian Agama.
Program AI Teaching Power tidak hanya memperkenalkan teknologi, tetapi juga mengintegrasikan nilai Spiritual Intelligence, menekankan empati dan etika dalam pemanfaatan AI.
AI Skills Director Microsoft Indonesia Arief Suseno mengatakan penguatan kapasitas guru menjadi kunci transformasi pendidikan.
“AI bukan hanya tentang teknologi canggih, tetapi tentang membuka akses pembelajaran yang lebih luas dan setara. Ketika pendidik dibekali keterampilan dan pemahaman yang tepat, mereka dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih relevan, inklusif, dan berdampak bagi generasi masa depan,” ujarnya.
Apa yang terjadi di kelas Hasan menunjukkan transformasi digital tidak harus mengubah identitas pendidikan pesantren. Justru sebaliknya, teknologi dapat berjalan berdampingan dengan nilai-nilai tradisional, memperkuat kualitas pembelajaran tanpa menghilangkan ruhnya.









