sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id oppo
  • partner tek.id samsung
  • partner tek.id realme
Sabtu, 10 Feb 2018 18:30 WIB

Qualcomm, 5G, dan hal-hal yang belum selesai

Dialog soal proyeksi masa depan 5G bersama pemimpin Qualcomm Indonesia.

Qualcomm, 5G, dan hal-hal yang belum selesai

Gambaran kehidupan masa depan

Sadar atau tidak, kecepatan dan kepraktisan mengakses internet saat ini mengubah gaya hidup kita. Di era 4G lah kita tumbuh bersama startup macam GoJek. Lalu, ada banyak pemuda-pemudi yang belum lagi berusia 25 tahun, namun sudah bisa cari untung di platform media sosial, baik Instagram dan YouTube.

5G juga akan menciptakan peluang dan komoditas ekonomi baru di eranya, atau bahkan sesuatu yang tak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Shannedy memberikan gambaran demikian.

“Yang ketiga dengan teknologi 5G itu akan menciptakan (ekosistem) Internet of Things (IoT) yang masif. Kita kalau sudah ada di (era) massive IoT, sudah tidak berkomunikasi hanya dengan manusia lagi, tapi juga dengan mesin,” ujar Shannedy.

Dalam hati saya pun bertanya-tanya, “Jadi nanti, di era 5G saya bisa bicara dengan robot?”

Untung Shannedy menjelaskan dengan gamblang, apa yang dia maksud dengan komunikasi antara manusia dengan mesin ini. Konteksnya memang tidak seharfiah komunikasi antara manusia dengan robot. Akan tetapi, komunikasi antara manusia dan mesin memiliki konteks, manusia akan mudah mengontrol segala benda di sekitarnya. Syaratnya, benda terebut tersambung dengan internet.

“Contoh paling gampang misalnya di rumah kita. Semua alat-alatnya bisa terkoneksi dengan 5G nantinya apabila dipasangi sensor. Maka kita bisa mengontrolnya dengan smartphone kita,” ujar Shannedy.

Hal terakhir yang bisa terjadi di era 5G adalah, komunikasi real time. Apa maksudnya? Artinya, ketika kita melakukan panggilan melalui video, maka komunikasi dengan orang tersebut, sama persis dengan aslinya, tanpa ada jeda waktu yang terlalu panjang.

Manfaat komunikasi secara real time ini sangat besar sekali bagi pengguna. Shannedy mencontohkan, “Misalnya ada seorang dokter di Jakarta, pasiennya di Kalimantan. Kalau tidak pakai teknologi 5G, pasien bisa meninggal karena komunikasinya tidak real time,” ujar Shannedy.

Inilah yang Shannedy sebut sebagai istilah Mission Critical Services. 

Membangun ekosistem

Qualcomm sadar, mereka mungkin penyedia tulang punggung teknologi 5G. Hanya saja, mereka tidak bisa menciptakan masa depan itu sendirian. Semua orang perlu disadarkan dan diberi tahu soal kesempatan yang sangat besar ini.

“5G itu teknologi yang implementasinya harus ada kerja sama antara pemerintah, operator, rekanan produsen perangkat mobile (OEM), juga penyedia konten,” ujar Shannedy.

Pekerjaan rumahnya masih banyak juga setelah itu. Konsumen pun perlu edukasi mengenai teknologi anyar ini. Mulai dari para pelaku bisnis, hingga konsumen pengguna akhir.

Shannedy menekankan, khusus bagi pengguna akhir, teknologi ini akan sangat berbeda sekali dengan teknologi 4G. Itu artinya, Anda siap-siap untuk sedikit beradaptasi lagi.

Satu hal yang Qualcomm ingin segera lakukan di Indonesia. Apabila semua dukungan dan ekosistem fundamental penyokong 5G ini tercukupi, mereka ingin melakukan demonstrasi. Itu adalah cara paling efektif untuk mengedukasi pasar.

Mengutip kata-kata Shannedy, “Dari (demo) itu orang bisa melihat perbedaannya yang sangat signifikan,”

Well, ada saja memang yang skeptis terhadap kemajuan teknologi. Sampai muncul pertanyaan, apa perlunya internet super kencang, atau bisa streaming video 4K di benda sekecil smartphone?

Bagi visioner dan futuris, kecepatan jaringan internet ini bukan perkara sesederhana membuka browser dan aplikasi YouTube. Semakin baik user experience yang bisa kita hadirkan bagi orang banyak, maka permintaan akan teknologi akan tercipta dengan sendirinya.

“Semakin lama, permintaan user terhadap speed konektivitas data juga semakin tinggi. Dulu mengirim foto 2-3MB saja senangnya bukan main,” kata Shannedy.

Namun jauh di depan perkara kecepatan internet, masuknya 5G akan mengubah model bisnis kita di masa depan.

    Share
    ×
    tekid
    back to top