sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id oppo
  • partner tek.id realme
  • partner tek.id samsung
Kamis, 09 Nov 2017 20:40 WIB

4 pelajaran PR dari Adita Irawati, ujung tombak komunikasi Telkomsel

Pengalamannya di dunia komunikasi di atas 17 tahun. Banyak perusahaan besar yang sudah meminangnya, sampai akhirnya berlabuh ke Telkomsel.

4 pelajaran PR dari Adita Irawati, ujung tombak komunikasi Telkomsel

3. Up to date

Seorang PR haruslah mengikuti dinamika dan update industri di bidangnya, mengingat media saat ini sudah tak dibatasi waktu dan batas-batas fisik. Media yang dimaksud Adita sudah termasuk media sosial.

Adita menjelaskan, citra Telkomsel juga dijaga dengan baik oleh semua divisi: Costumer Service, Goverment Relations, Marketing Communications dan lain-lain. Secara garis besar, mereka menjaga hubungan baik dengan pemerintah dan pelanggan.

“Kita (Corcomm) tidak pernah bekerja sendiri. Ini titik-titik di mana reputasi perusahaan itu dibangun. Costumer services kalau tidak responsif merespon pelanggan bisa menjadi masalah. Jadi, kemampuan akses itu sangat penting. Ketika kita bicara soal digital, Corcomm harus pandai membina unit-unit lain yang menjadi corong komunikasi perusahaan itu. Memberikan pemahaman bahwa accessibility kita itu sangat penting. Di sini, Corcomm menjadi dirijen yang menjalankan koordinasi, supaya unit-unit tidak bingung dan perusahaan mendapat keuntungan dari semua itu,” katanya.

4. Transformasi

Adita menyadari, konsumen Telkomsel terbesar saat ini adalah generasi Millennial dan Z. Mereka menangkap peluang ini melalui produk-produk baru, dan mengubah perusahaan menjadi lebih agile.

Dari sisi komunikasi, Telkomsel juga menyesuaikan diri agar bahasa mereka lebih nyambung dengan anak-anak muda. "Kita tidak lagi hard sale, jualan, tapi harus ada engagement. Riset yang kita lihat memang generasi Millenial butuh engagement," katanya.

Beralih ke pertanyaan ringan, saya penasaran dengan dampak hobi lari Adita dengan kehidupan profesionalnya. Adita dengan senyumnya pun menjawab, “Lari itu memproduksi hormon endorphin, mampu memberikan perasaan positif. Ya itu tadi, kita sebagai orang komunikasi harus mau selalu bisa diakses setiap saat, 24/7. Bohonglah kalau kita kita tidak stres. Tapi dengan hormon endorphin ini membantu meringankan pekerjaan berat. Dia juga membuat kita ketagihan. Kalau ditanya saya sudah ketagihan lari, iya saya sudah ketagihan,” katanya.

Tak terasa sejam sudah berlalu. Langit Jakarta tampak muram seperti akan hujan. Tapi kami mengakhiri pembicaraan sore itu dengan tersenyum. Adita memang selalu menyebarkan aura positif.

Share
×
tekid
back to top