Najwa Shihab: kita senang ngobrol tapi kurang kritis

Kita harus jadi tameng awal bagi konten-konten negatif yang masuk lewat internet.

Pada gelaran SiBerkreasi Netizen Fair 2017 (28/10), Najwa Shihab berkesempatan berbagi pengalaman dan pandangannya soal apa yang tengah terjadi di internet akhir-akhir ini. Berikut petikan talk show Najwa Shihab yang menarik untuk kita simak.

"Semua orang kini bisa menjadi produsen konten. Semua orang bisa membuat berita. Tetapi yang menonjol di era digital seperti sekarang ini informasi yang seperti apa? Selain kecepatan, informasi sekarang ini sepotong-sepotong. Itulah yang dialami teman-teman saya yang bergerak di jurnalisme digital. Meskipun mereka punya tata cara sendiri, news room sendiri. Bias informasi itu pun tidak terhindarkan. Ini membuat sebuah duduk persoalan menjadi jarang tuntas," ungkap Najwa.

Najwa yang akrab dipanggil Nana pun melanjutkan, "Data yang saya peroleh, ternyata kita paling senang ngobrol. Di Facebook 115 juta pengguna bulanan aktif. 65 juta setiap hari main Facebook. Di Instagram ada 45 juta pengguna harian dari Indonesia. Dua kali posting konten dari rata-rata penduduk dunia. Jadi, memang kita negara yang suka ngobrol, senang bersosialisasi," katanya.

Hal ini, kata Nana, membuat informasi yang tersebar dari konten berita online tercampur baur dengan konten status media sosial jadi kita kondisi darurat literasi digital.

"Tanpa bermaksud menakut-nakuti tapi memang kenyataannya seperti itu. Kita banyak menerima informasi tapi kita tidak bisa memilih. Memang tidak mungkin ada satu obat mujarab kalau bicara soal hoax. Tapi, menurut saya, ada satu hal yang selalu bisa kita dorong. Kita harus melatih daya kritis kita."

Nana juga menyoroti peran dunia pendidikan yang menurutnya tidak mendorong untuk melatih daya kritis kita sampai ke titik optimal. Pendidikan kita lebih banyak melatih menghafal. Padahal, kemampuan menghafal itu kemampuan paling minim bagi otak kita. Kemampuan paling maksimal ialah menciptakan inovasi.

"Kedua, budaya kita tidak mendukung orang yang berfikir kritis. Kalau banyak bertanya orang pikir kita cerewet, mengganggu. Sehingga orang enggan untuk menunjukkan rasa ingin tahu."

Sebagai Duta Baca Indonesia, Najwa juga berpendapat bahwa saat membaca buku adalah salah satu cara untuk melatih daya berpikir kritis.

"Kita juga tidak suka baca buku. Ini menarik, saya temukan data-data yang menarik. Di Facebook riset menunjukkan, orang hanya menghabiskan 2,5 detik untuk baca berita di desktop, 1,7 detik, baca berita lewat mobile. Sementara di satu sisi, cuma perlu 0,25 detik untuk mengingat posting-an. Yang terjadi sekarang akhirnya, orang hanya baca headline, kemudian merasa sudah mengingat dan tahu isinya. Kenapa baca buku? karena dengan baca buku halaman demi halaman, bab demi bab, kita melatih diri kita untuk tidak cepat menghakimi. Kita akan menunda mengambil kesimpulan. Tidak cepat menghakimi orang lain. Percuma memblokir konten negatif di internet, yang bisa kita lakukan adalah membekali diri kita untuk menjadi tameng. Lewat cara merangsang dan melatih daya berpikir kritis kita."

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: