Ericsson Perkenalkan Teknologi AI-Ready RAN, Dorong Percepatan Jaringan 5G di Indonesia
Ericsson meluncurkan radio dan software berbasis AI untuk memperkuat jaringan 5G Indonesia dengan performa tinggi dan efisiensi energi.
Ilustrasi AI Ready RAN. dok. Ericsson
Ericsson memperkenalkan portofolio terbaru berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mencakup radio AI-ready, antena, serta perangkat lunak Radio Access Network (RAN) untuk mendukung pengembangan jaringan masa depan, termasuk di Indonesia.
Inovasi ini hadir di tengah meningkatnya kebutuhan jaringan seluler yang mampu mengimbangi pertumbuhan aplikasi berbasis AI secara global.
Operator kini dituntut menghadirkan kapasitas uplink yang lebih kuat, latensi rendah, serta efisiensi energi yang lebih baik.
Melalui solusi terbaru ini, Ericsson menawarkan pendekatan yang lebih terintegrasi antara hardware dan software berbasis AI, sehingga jaringan dapat beroperasi secara lebih adaptif dan efisien.
- Dukung Ekonomi Kreatif Indonesia, TekLab Distribusikan Printer 3D Bambu Lab
- ADAS di Mobil Modern: Teknologi Cerdas yang Membantu Pengemudi Mencegah Kecelakaan
- Dukungan AI dan Cloud Alibaba Bikin Olimpiade Milano Cortino Makin Cerdas dan Imersif
- EGGM Gabungkan Teknologi Digital Dengan Aksi Nyata Ekonomi Hijau Dan Ekonomi Sirkular
Presiden Direktur Ericsson Indonesia Nora Wahby menilai pengembangan jaringan ke depan tidak lagi hanya soal kecepatan, tetapi juga kecerdasan dan keberlanjutan.
“Seiring dengan percepatan ekspansi 5G di Indonesia, jaringan yang cepat bukan satu-satunya prioritas, tetapi juga jaringan yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Dengan menghadirkan kemampuan AI langsung ke Radio Access Network, kami memungkinkan terbentuknya jaringan berperforma tinggi yang adaptif dan lebih efisien dalam penggunaan energi,” ujar Nora.
Ia menambahkan pendekatan AI-ready RAN dapat membantu operator mempercepat penyebaran jaringan sekaligus mengoptimalkan investasi jangka panjang.
Peluncuran ini juga selaras dengan target pemerintah Indonesia dalam memperluas cakupan jaringan 5G hingga sekitar 32 persen pada 2030. Dalam proses tersebut, kesiapan infrastruktur, efisiensi penggunaan spektrum, serta keberlanjutan investasi menjadi faktor kunci bagi operator.
Portofolio terbaru Ericsson mencakup sepuluh perangkat radio yang telah siap mendukung AI, peningkatan kemampuan software RAN, serta lima antena berkinerja tinggi.
Seluruh komponen ini dirancang untuk mengoptimalkan pemanfaatan spektrum, meningkatkan performa uplink, dan menyederhanakan proses implementasi jaringan.
Dengan integrasi AI di dalam jaringan, operator dapat mengelola sumber daya secara lebih dinamis. Teknologi ini memungkinkan pengaturan lalu lintas data, kapasitas jaringan, hingga kualitas layanan dilakukan secara real-time sesuai kebutuhan pengguna.
Sejumlah fitur berbasis AI seperti beamforming cerdas, prediksi jangkauan jaringan, serta pengelolaan mobilitas dan latensi yang lebih presisi turut memperkuat kemampuan jaringan dalam menghadapi lonjakan trafik data.
Bagi pengguna, peningkatan ini akan terasa dalam bentuk konektivitas yang lebih stabil dan konsisten. Pengalaman streaming video menjadi lebih lancar, gaming seluler lebih responsif, serta berbagai aplikasi real-time berbasis AI dapat berjalan lebih optimal.
Di sisi lain, kemampuan jaringan untuk menghadirkan layanan yang terdiferensiasi berdasarkan kecepatan, latensi, atau tingkat keandalan juga membuka peluang baru bagi operator dalam mengembangkan model bisnis di luar paket data konvensional.
Nora menegaskan AI-ready RAN merupakan langkah transformasi dalam pengembangan jaringan seluler ke depan.
“AI-ready RAN bukan lagi sekadar evolusi jaringan, melainkan transformasi dalam cara jaringan dibangun dan dioperasikan. Infrastruktur kini harus mampu berpikir, beradaptasi, dan melakukan optimalisasi secara real-time,” kata Nora.
Ia menambahkan integrasi AI pada radio, antena, dan software memungkinkan penggunaan spektrum yang lebih efisien, peningkatan performa uplink, serta pengalaman pengguna yang lebih baik.









