Saat Viral Tak Lagi Cukup, Brand Kini Memburu Pemasaran Digital yang Lebih Terukur
Pemasaran digital bergeser dari sekadar viral menuju strategi yang lebih terukur, berbasis data, budaya, dan performance.
Chief Executive Officer Eden Kreasi Indonesia Marcia Julia dan PT Eden Kreasi Indonesia Febriansyah
Pemasaran digital tengah memasuki fase baru. Di tengah algoritma platform yang cepat berubah, fragmentasi audiens, serta perilaku konsumen yang makin dinamis, ukuran keberhasilan kampanye juga ikut bergeser.
Bagi banyak brand, menciptakan awareness atau viralitas saja kini tidak lagi cukup.
Tantangan baru yang dihadapi perusahaan adalah bagaimana mengubah percakapan digital menjadi hasil bisnis yang lebih konkret, mulai dari konversi, loyalitas pelanggan, hingga pertumbuhan jangka panjang.
Perubahan ini ikut mendorong evolusi strategi pemasaran, termasuk dalam penggunaan influencer marketing.
Jika sebelumnya influencer banyak diposisikan sebagai mesin exposure, kini pendekatannya mulai berubah. Brand semakin menuntut strategi yang mampu menggabungkan kreativitas, relevansi budaya, pemanfaatan data, serta kemampuan membaca performa kampanye secara lebih presisi.
Perubahan lanskap tersebut terlihat dari langkah yang mulai diambil sejumlah pelaku industri pemasaran digital.
Salah satunya melalui penguatan kolaborasi antara MediaScience dan Eden di bawah WOW Group, yang mengombinasikan kapabilitas media buying dan performance marketing dengan strategi influencer, komunikasi berbasis budaya, serta pengelolaan KOL.
Chief Executive Officer (CEO) Eden Marcia Julia mengatakan cepatnya perubahan kultur digital membuat brand membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif.
“Brand saat ini membutuhkan pendekatan yang bukan hanya kreatif, tetapi juga relevan secara budaya dan terukur secara bisnis. Dengan menggabungkan kekuatan kreativitas, influencer, media, dan performance dalam satu ekosistem, kami ingin membantu brand membangun koneksi yang lebih kuat sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” ujarnya.
Tren terbaru juga menunjukkan masa depan pemasaran digital kemungkinan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling viral, melainkan siapa yang paling mampu menghubungkan kreativitas, data, budaya, dan performa menjadi strategi yang menghasilkan dampak nyata bagi bisnis.
Pendekatan semacam ini mencerminkan arah baru industri, ketika batas antara media, kreativitas, influencer marketing, dan performance semakin menipis.
Kampanye digital tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang berjalan terpisah, melainkan sebagai ekosistem yang harus mampu bekerja secara terintegrasi.
Marcia mengungkapkan, sejak 2020, Eden menangani lebih dari 30 brand dari berbagai sektor industri, mulai dari telekomunikasi, FMCG, e-commerce, hingga otomotif. Salah satu pendekatan yang mereka dorong adalah model influencer marketing dengan akses langsung ke berbagai kategori talent, dari celebrity influencer hingga micro, nano, dan community-based creators.
Model tersebut menjadi semakin relevan di tengah perubahan pola konsumsi konten digital. Audiens kini cenderung lebih responsif terhadap komunikasi yang terasa autentik, dekat dengan komunitas, dan sesuai dengan konteks budaya yang mereka jalani sehari-hari.
Pada saat yang sama, pemanfaatan data juga menjadi faktor yang semakin menentukan. Penggunaan sistem pemetaan influencer berbasis relevansi, performa, dan dampak kampanye memperlihatkan bagaimana industri mulai bergerak dari pendekatan berbasis popularitas menuju pemasaran yang lebih berbasis outcome.









