Teknologi analisis data 4D Analytics dan penerapannya di Indonesia

Masuk ke dimensi ke-4 merupakan fitur unggulan baru yang coba Teradata tawarkan sebagai fitur. Dimana ini adalah tantangan selanjutnya di era Big Data.

Teknologi analisis data 4D Analytics dan penerapannya di Indonesia

Teradata, perusahaan berbasis pengelola data analisis, meluncurkan fitur baru bertajuk 4D Analytics. Fitur ini memiliki kapabilitas yang mampu menganalisa data tingkat lanjut. Prosesnya yakni menggabungkan data lokasi geospasial 3 dimensi dengan dimensi ke-4. Fitur ini dinilai relevan khususnya dalam aplikasi edge computing yang mengelola banyak data terkait lokasi dan waktu yang terus menerus berubah.

Dengan fitur ini, Teradata memungkinkan pelanggannya untuk mengoperasikan analisis IoT tingkat lanjut. Sederhananya, teknologi ini akan membantu perusahaan atau pemerintah menganalisa stakeholder.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

British Airways hadapi denda pelanggaran data terbesar

Facebook masih incar data pengguna dari berbagai aplikasi ternama

Olah data mampu ciptakan daya saing perusahaan


"Kita berada di ambang ledakan besar IoT. Perangkat seperti connected car, armada, pesawat, lalu lintas, jalan raya perangkat wearable dan banyak lagi, akan menjadi lebih pintar. Teradata dengan 4D Analytics akan mendorong peningkatan luas, berawal dari mengurangi lalu lintas dan efisiensi energi yang lebih besar hingga peningkatan keamanan transportasi," kata Erwin Sukiato, President Director Teradata Indonesia di Jakarta (10/7).

Kemampuan 4D Analytics ini meningkatkan analisa IoT dengan menggunakan wawasan berbasis waktu dan tempat dari sebuah perangkat seperti mobil atau smartphone. Erwin mencontohkan, perusahaan asuransi misalnya akan memiliki kemampuan mengenali calon pelanggan dari data smartwatch yang mereka gunakan.

Terkait penerapannya di Indonesia sendiri, 4D Analytics bisa digunakan misalnya untuk mengurangi lalu lintas. Erwin menyebut 4D Analytics akan mampu memberikan rekomendasi ke depan bagi stakeholder terkait misalnya pemerintah dengan mengkoleksi data dan menganalisa pola masyarakat atau kondisi lalu lintas.

Sementara untuk penerapannya Erwin menjelaskan Indonesia masih perlu mempersiapkan roadmap dan langkah yang harus ditempuh. 

"Kami selalu memberikan dua advice. Harus ada roadmap. Kalau sudah berbentuk proses, bisa diidentifikasi SDM-nya... Proses itu bisa masuk tata kelola data .. Bagaimana data diambil, diperlakukan, apakah itu data sensitif karena level keamanannya juga penting. Harus ada proses (roadmap) agar tahu data masuk kemana. Kedua harus tahu apa yang akan dilakukan," papar Erwin.

Lebih lanjut, Teradata menilai tingkat awareness pemerintah Indonesia akan pentingnya data memang dinilai masih kurang. Sebagai pembanding, Australia telah memahami hal tersebut sejak 22 tahun yang lalu, sementara di Indonesia baru lima tahun terakhir. Alhasil Indonesia masih dinilai ketinggalan dalam memanfaatkan data.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: