Mampukah fintech Indonesia sekelas China?

Menatap masa depan industri teknologi finansial di Indonesia.

Jason Bellini, jurnalis The Wall Street Journal, pada Januari 2018 lalu tengah berada di Shenzhen, China. Di sana dia terheran-heran karena penggunaan uang kas sangat sedikti sekali. Di sana Jason melihat bagaimana Tencent (Wechat) dan Alibaba (Taobao) adalah raksasa finansial teknologi di negara itu.

Jason melihat setiap orang, di semua sudut kota Shenzhen, memindai QR Code melalui kamera ponsel pintar mereka. Melalui teknologi mirip bar code itu, penduduk kota Shenzhen bertransaksi, membeli makanan, menyewa sepeda, dan lain-lain. Jason merasa asing, karena kebudayaannya sama sekali berbeda. Di Amerika Serikat, mereka lebih suka memakai kartu kredit dan uang kas untuk mendapatkan sesuatu. Namun Jason sekaligus takjub melihat geliat ekonomi yang disokong teknologi finansial di Shenzhen.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Indonesia Fintech Summit and Expo 2019 resmi dibuka

OVO tunjuk Presiden Direktur baru

Tawaran jasa keuangan dan Fintech lewat SMS ternyata langgar aturan


Di Shenzhen, Alibaba memiliki supermarket bernama Hema. Semua barang kebutuhan di sana dibayar dengan cara memindai QR Code. Bahkan ketika pelanggan membeli kepiting segar yang masih hidup, pelanggan membayar dengan metode pindai QR Code. Tidak cuma melayani pembelian di tempat, pelayan juga melayani pesanan dari rumah melalui aplikasi mobile. Tentu semua transaksi dilayani oleh satu aplikasi pembayaran, Alipay. 

Fenomena ini merupakan model bisnis baru yang tidak terbayangkan oleh Jason sebelumnya. Pada 2004 lalu, Alibaba merilis Alipay untuk sistem pembayaran elektronik di platform ecommerce mereka, Taobao. 

Dalam tempo satu dekade kemudian, momentum yang ditunggu-tunggu pun tiba. Meroketnya pengguna ponsel pintar di China menciptakan peluang bagi Alipay untuk terhubung dengan pengguna yang tidak tersentuh layanan perbankan (unbanked). 

Menurut data United Nation Conference on Trade and Development, pada 2014 penetrasi kartu kredit di China kurang dari 20 persen. Kondisi ini jauh tertinggal dari Amerika, Inggris, dan Jepang yang menyentuh penetrasi kartu kredit di atas 60 persen.

 

Pada 2013, Tencent pun bergabung dengan ekosistem industri finansial teknologi ini. Melalui layanan WeChat, mereka meluncurkan WeChat Pay. Hanya dalam tempo tiga tahun, WeChat meraih pangsa pasar 40 persen di sektor teknologi finansial. 54 persen dipegang Alipay. Sisanya (6 persen) menjadi rebutan perusahaan teknologi finansial lain.

Hal yang perlu digaris bawahi di sini, konsumen maupun pengguna layanan mobile di China tidak terlalu khawatir dengan data pribadi yang mereka setor ke aplikasi maupun platform pembayaran yang mereka pakai. Kondisi ini jauh berbeda dengan Amerika Serikat atau negara-negara lainnya yang konsen dengan data pribadi mereka.

Kondisi fintech di Indonesia

Pada 2016 lalu, Nielsen, mengestimasi industri teknologi finansial di Indonesia akan mencapai USD14,5 miliar atau 0.6 persen dari pencapaian industri teknologi finansial skala global.

Laporan yang disusun Prof. DR. Sri Adiningsih M.Sc, selaku ketua Dewan Pertimbangan Presiden menunjukkan bahwa Indonesia punya potensi besar. Menurut laporan yang ia rilis, pertumbuhan kelas menengah di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.

 

Sementara itu, dari laporannya, ia mengatakan bahwa 64 persen penduduk Indonesia belum tersentuh layanan perbankan. Inilah celah pasar yang sangat besar bagi pemain teknologi finansial. Hasilnya, pada Desember 2016, regulasi teknologi finasial belum tertata dengan baik dan masuk dengan bebas ke pasar Indonesia tanpa hambatan berarti.

Startup teknologi finansial pun menggeliat sejak 2016. Ada 20 investor luar negeri yang berinvestasi di perusahaan teknologi finansial yang beroperasi di Indonesia. 12 pemodal lokal di Indonesia pun berinvestasi di perusahaan teknologi finansial, baik di Indonesia maupun luar negeri.

Akan tetapi kesadaran pengguna di Indonesia cukup rendah. Sebagian besar pengguna layanan ini adalah pengguna teknologi finansial yang dimiliki institusi perbankan. Teknologi finansial milik perbankan ini sendiri masuk kategori Fintech 2.0 dalam definisi Bank Indonesia. Sementara pemain teknologi finansial seperti WeChat dan Alibaba masuk kategori Fintech 3.0.

Kunci pertumbuhan industri teknologi finansial di Indonesia ada di tangan generasi millenials. Goldman Sachs, perusahaan investasi global mengatakan, generasi millenials enggan membeli item sendiri, seperti rumah, mobil, dan benda mewah. Mereka mulai beralih ke layanan digital baru yang menawarkan komoditas ekonomi yang bisa disewa, tanpa harus memilikinya.

Inilah kunci untuk menumbuhkan geliat industri teknologi finansial di Indonesia. Dari kuartal pertama 2011, pertumbuhan pelaku teknologi finansial di Indonesia meningkat pesat. Awalnya pada kuartal pertama 2011, hanya ada 12 pelaku. Data terakhir pada kuartal 2017 menurut laporan Sri, telah mencapai angka 235 pelaku. Akan tetapi baru 32 perusahaan yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

GoPay siap menggurita

Desember 2017 kemarin, Gojek mengakuisi tiga perusahaan teknologi finansial Indonesia. Ini adalah amunisi untuk memperkuat pengaruh GoPay di Indonesia.

Tiga perusahaan tersebut adalah Kartuku, penyedia layanan pembayaran yang memanfaatkan teknologi kartu, pemindaian QR Code, dan uang elektronik. Jejaring merchant Kartuku yang berdiri sejak 2011 telah menggapai 100 perusahaan retail Indonesia.

Kedua adalah Midtrans, pemain teknologi finansial yang memperdalam penetrasinya di merchant online (ecommerce). Midtrans memiliki kemampuan mengolah 18 sistem pembayaran online berbeda.

Ketiga adalah Mapan, perusahaan teknologi finansial berbasis pinjaman. Awalnya, Mapan memberikan layanan bagi masyarakat pedesaan yang tidak tersentuh bank, namun akrab dengan sistem arisan konvensional. Aplikasi mobile Mapan memungkinkan pengguna untuk menyicil barang dalam katalog barang arisan di Mapan. Aplikasi dapat menyesuaikan tagihan pembayaran di dalam aplikasinya.

 
Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: