Microsoft lakukan hal gila, dan kami menyukainya

Ada beberapa hal gila yang Microsoft lakukan di serangkaian perangkat Surface terbaru mereka. Dan saya menyukainya.

Microsoft lakukan hal gila, dan kami menyukainya

Microsoft baru saja meluncurkan jajaran perangkat baru mereka. Mereka meluncurkan total lima perangkat baru sekaligus, yakni Surface Pro X, Surface Pro 3, Surface Neo, Surface Duo, dan Surface Earbuds.

Selama peluncuran perangkat tersebut, kami dapat menyimpulkan bahwa Microsoft sedang melakukan banyak hal gila. Namun gila disini bukan dalam konotasi negatif, lebih pada sesuatu yang sangat menarik. Ini berarti, penggemar teknologi mendapatkan sebuah hal baru untuk dicoba.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Bos Xbox sebut VR bukan fokus utama mereka

Microsoft kembali diizinkan jualan ke Huawei

Microsoft resmi tarik Cortana dari Android dan iOS


Ada tiga fokus yang akan kami bahas mengenai perangkat baru milik Microsoft ini, dan kami akan memberikan opini awal, semoga tim tek.id dapat mencicipi semua varian Surface terbaru. 

Kami awali dengan membahas Microsoft Surface Pro X. Dari sini, rasanya Microsoft kembali ke akar mereka. Jika Anda ingat, Microsoft Surface Original menggunakan prosesor ARM dan menjalankan Windows 8 versi RT, bukan full version.

Kenapa kami mengawali pembahasan kali ini dengan Microsoft Surface Original, bukan Surface Pro Original? Hal ini dikarenakan Surface Original diluncurkan pada 2012, sedangkan Surface Pro Original baru diluncurkan pada 2013.

Kami juga mengaitkan Surface Pro Original dengan Surface Pro 7 karena sama-sama menggunakan prosesor berbasis ARM.

Kembali ke Surface Original, perbedaan tenaga yang dihasilkan dari Surface Original dan Surface Pro X tersebut terpaut sangat jauh. Surface Original menggunakan prosesor Nvidia Tegra 3, dengan teknologi fabrikasi 40nm. Prosesor tersebut merupakan prosesor Quad-core plus 1, dimana satu chipset tersebut merupakan chipset low energy yang menggunakan chipset Cortex A9 yang pada saat itu merupakan chipset flagship.

Konektivitas dari laptop yang diluncurkan pada 2012 ini pun sangat terbatas. Microsoft hanya menyediakan konektivitas standar, seperti Wi-Fi dan Bluetooth, tanpa ada modem di dalamnya. Dan kala itu, Surface tampaknya seperti tablet dan bukan pengganti laptop, terlebih dikarenakan daya tahannya baterainya yang cukup boros.

Dilanjutkan dengan Surface 2, yang kemampuannya ditingkatkan menggunakan prosesor Nvidia Tegra 4. Prosesor ini masih mengemban teknologi Quad-core plus 1, namun menggunakan chipset Cortex A15.

Ada dua kunci utama dari prosesor ini, yakni efisiensi daya karena menggunakan teknologi fabrikasi 24nm. Satu lagi adalah peningkatan performa karena menggunakan GPU yang lebih kuat dari pendahulunya. Sayang, laptop yang diluncurkan tahun 2013 ini masih belum memiliki koneksi internet selain menggunakan Wi-Fi.

Beralih ke 2014, ada perubahan yang menarik dari Surface 3. Microsoft sudah mulai menggunakan prosesor Intel pada perangkat mereka. Prosesor yang dimaksud adalah Intel SoC X86, lebih tepatnya Atom x7-Z8700 yang merupakan prosesor quad-core dengan teknologi fabrikasi 14nm.

Ini juga kali pertama Microsoft menjejali perangkat Surface dengan full version Windows 10, bukan menggunakan Windows RT. Artinya, pengguna akan dapat menjalankan aplikasi secara penuh, namun terbatas hanya dapat menggunakan aplikasi berbasis 32 bit.

Sayang, setelah 2015, Microsoft seperti tidak ingin melanjutkan keberadaan perangkat Surface. Tapi secara mengejutkan pada 2018 mereka meluncurkan suksesor Surface 3, yang bernama Surface Go.

Prosesor yang digunakan oleh Intel Pentium Gold 4415Y, yang merupakan prosesor dual-core dengan empat thread yang irit daya. Prosesor ini pun membuat Surface Go menjadi perangkat Surface paling irit tenaga dan paling murah di pasaran.

Oke, sekarang kita akan beralih ke sejarah Surface Pro. Diluncurkan pada awal 2013, Surface Pro Original memiliki konfigurasi prosesor mobile dari Intel, dan bukan menggunakan prosesor ARM seperti Surface Original.

Pilihan prosesornya pun terbatas menggunakan Core i5 3317U, yang merupakan prosesor dual-core dengan empat thread milik Intel. Prosesor ini dipilih karena memiliki kebutuhan daya yang sangat rendah.

Perlu diingat, karena menggunakan prosesor non-ARM, semua lini Surface Pro menggunakan sistem operasi full version. Selain itu, perbedaan lain dari Surface dan Surface Pro adalah hadirnya dukungan Stylus Pen.

Beralih ke akhir 2013, Microsoft meluncurkan Surface Pro 2. Mereka memberikan beberapa pembaruan, yakni menggunakan prosesor ramah daya milik Intel, yakni i5 4300U. Yang unik, mereka meluncurkan Surface Remix Project, dimana detachable keyboard untuk perangkat ini dapat diganti dengan pad khusus mengontrol musik. Sayangnya, produk ini kurang laku di pasaran.

Belajar dari kesalahan dari dua perangkat sebelumnya, Microsoft pun meluncurkan Surface Pro 3 pada 2014. Kali ini, mereka menawarkan tiga prosesor untuk perangkat ini, mulai dari Intel Core i3-4020Y, i5-4300U, dan i7-4650U.

Laptop ini pun didapuk menjadi rival bagi Ultrabook yang memiliki prosesor yang sama. Alhasil, Surface Pro 3 dapat bertahan selama dua tahun sebelum Microsoft luncurkan penggantinya, yakni Surface pro 4.

Nah, mulai dari perangkat inilah image Surface pro mulai terbentuk. Detachable keyboard dengan suede finish menjadi ikon dari perangkat ini. Sama seperti pendahulunya, ada tiga varian prosesor yang ditawarkan, yakni m3-6Y30, Core i5-6300U, dan i7-6650U.

Dua tahun kemudian, perusahaan software asal Amerika tersebut meluncurkan Surface 2017. Aneh. Mereka tidak menggunakan nama Surface 5. Kemungkinan untuk menandakan kebangkitan perangkat tersebut. Namun nyatanya perangkat ini kurang berhasil.

Mereka kembali menawarkan perangkat dengan prosesor Intel m3-7Y30 yang merupakan prosesor hemat daya. Sedangkan untuk prosesor standar, mereka menggunakan Core i5-7300U dan i7-7660U.

Ada satu hal yang paling populer dari perangkat ini. Pengguna banyak mengeluhkan perangkat mereka masuk ke mode hibernate dan kembali masuk ke Windows tanpa pemberitahuan apapun.

Kemudian, pada 2018 mereka meluncurkan Surface Pro 6, yang menawarkan dua prosesor, yakni Core i5-8350U dan i7-8650U. Mereka memutuskan untuk meniadakan seri m3 di laptop tersebut.

Lantas, apa yang membuat Surface Pro 7 istimewa? Seperti yang sudah saya jelaskan, laptop 2-in-1 ini memiliki prosesor yang berbeda, yakni prosesor SQ1 yang didasarkan dari prosesor ARM milik Qualcomm, yakni Snapdragon 8cx.

Tapi, mereka tidak hanya membeli prosesor tersebut dan menempelkannya di Surface Pro X. Microsoft melakukan hal yang lebih pintar dengan menggunakan prosesor kustom yang mereka namai sebagai SQ1.

Prosesor tersebut menggunakan total delapan inti Kryo 495 dengan konfigurasi big.little, yakni dengan konfigurasi empat inti chipset performa tinggi dan sisanya merupakan chipset hemat energi.

Clock dasar dari prosesor Snapdragon 8cx adalah 2,84GHz. Namun, karena ini prosesor custom, Microsoft dikabarkan akan membuatnya lebih kencang. Dalam beberapa laporan, Microsoft akan meluncurkan prosesor SQ1 dengan TDP 15W, yang merupakan 8W lebih tinggi dari TDP Snapdragon 8cx.

Peningkatan lain dari Surface Pro X jika dibandingkan dengan pendahulunya adalah prosesor ini merupakan sebuah prosesor always connected. Artinya, kemungkinan besar laptop tersebut akan dapat selalu terhubung ke internet melalui jaringan mobile.

Hal ini pertama kalinya Surface akan dapat bekerja secara mandiri tanpa harus tergantung dengan konektivitas Wi-Fi. Ini menjadi hal yang cukup menarik.

Keunikan kedua yang dilakukan oleh Microsoft adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah Surface, mereka menggunakan prosesor AMD. Dan yang paling unik adalah prosesor AMD yang dipakai pun merupakan edisi spesial.

Ada dua varian prosesor yang ditawarkan oleh Microsoft. Yang pertama adalah Ryzen 7 3780U Surface Edition yang menggunakan 4 core dan 8 thread, serta Ryzen 5 3580U dengan konfigurasi yang sama.

Yang membedakan antara kedua prosesor ini adalah memiliki kecepatan base dan boost yang berbeda. Ryzen 7 3780U memiliki base clock 2,3GHz dan boost 4GHz, sedangkan Ryzen 5 memiliki base clock 2.1GHz dan boost 3,7GHz.

Perbedaan lain adalah hadirnya GPU Radeon RX Vega 11 di Ryzen 7, sedangkan di Ryzen 5 memiliki GPU Radeon RX Vega 9. Oh iya, kedua konfigurasi ini hanya akan pengguna temukan di varian Surface Laptop 3 saja.

Keunikan yang ketiga dan terakhir adalah hadirnya perangkat lipat namun memiliki konfigurasi layar ganda pertama mereka, yakni Surface Duo dan Surface Neo. Ya, pada akhirnya Microsoft mengikuti tren gadget saat ini, yakni memiliki perangkat yang dapat dilipat.

Surface Duo merupakan perangkat Android. Ya, Microsoft tampaknya belum menyerah membuat sebuah smartphone dengan layar yang dapat dilipat. Tapi anehnya, meski terlihat seperti smartphone, Kepala Produksi Microsoft Panos Panay enggan menyebutnya sebagai sebuah ponsel.

Perangkat ini memiliki dua layar berukuran 5,6 inci yang dihubungkan dengan sebuah engsel persis di bagian tengahnya. Bentuknya sangat mirip dengan Surface Neo, namun memiliki ukuran yang lebih kecil.

Layar Surface Duo dapat dilipat 360 derajat. Bahkan samsung dan Huawei tidak dapat melakukan hal tersebut, karena mereka lebih memilih untuk menggunakan panel OLED yang tak terpisah oleh engsel.

Salah satu fitur yang menarik adalah pengguna dapat menjalankan dua aplikasi berbeda pada masing-masing layar. Mode lain juga memungkinkan salah satu layarnya digunakan sebagai keyboard atau kontroler ketika bermain gim. Sayang, untuk jeroan, pihak Microsoft masih malu-malu untuk mengungkapkannya. 

Di sisi lain, Surface Neo merupakan sebuah perangkat Windows yang dapat dilipat. Kedua layar tersebut memiliki layar 9 inci, yang juga dapat dilipat 360 derajat. Namun, jika kedua layar tersebut terbuka sepenuhnya, layarnya akan menjadi 13 inci,

Hal yang cukup gila untuk Surface Neo adalah Microsoft membuat sebuah sistem operasi baru yang bernama Windows 10X. Namun, sistem operasi ini bukan berarti akan eksklusif untuk Microsoft, namun vendor lain masih akan dapat menggunakan sistem operasi tersebut.

Mereka menggunakan basis Windows 10 Lite untuk mengembangkan sistem operasi tersebut. Dan kabarnya, sistem operasi ini sangat cerdas dimana dapat mendeteksi lokasi keyboard. Jika di letakkan di satu layar dan menjorok ke bagian bawah, maka bagian atas akan tetap menjadi layar kedua.

Sedangkan saat keyboard diletakkan di bagian atas dari satu layar, maka bagian bawah dari layar tersebut akan berubah menjadi trackpad.

Sayang, baik untuk Surface Duo dan Surface Neo baru akan diluncurkan pada 2020 mendatang, bersamaan dengan Windows 10X. Sedangkan untuk Surface Pro 7 dan Surface Laptop 3, pengguna sudah dapat melakukan pre-order saat ini juga dan akan mendapatkan perangkat mereka mulai 22 Oktober mendatang.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: