Riset : Makin Banyak Pekerja Profesional Gunakan AI untuk Akurasi Keputusan Dibanding Kecepatan
Profesional top kini gunakan AI untuk validasi keputusan, bukan kecepatan, demi menghindari kesalahan mahal dalam bisnis.
Ilustrasi AI
Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di kalangan profesional kini mengalami pergeseran signifikan.
Jika sebelumnya teknologi ini identik dengan percepatan kerja dan peningkatan produktivitas, tren terbaru justru menunjukkan sebaliknya: para profesional berpenghasilan tinggi memilih menggunakan AI untuk memperlambat proses pengambilan keputusan demi meningkatkan akurasi.
Dikutip dari TechRadar, temuan ini terungkap dalam survei yang dilakukan oleh Use.AI, yang menunjukkan 62 persen profesional di kelompok pendapatan tertinggi menggunakan AI bukan untuk menghasilkan ide atau mempercepat pekerjaan, melainkan untuk memvalidasi keputusan dan mencegah kesalahan.
Pendekatan ini kontras dengan profesional tingkat menengah, di mana hanya 38 persen yang memanfaatkan AI sebagai alat verifikasi.
- SailPoint Gandeng AWS, Perkuat Keamanan Agentic AI dengan Tata Kelola Identitas Terpadu
- Studi NTT DATA: Hanya 14% Perusahaan Maksimalkan Cloud untuk AI, Hambatan Datang dari Sistem Lama
- OpenAI Rilis ChatGPT Pro Rp1,7 Juta per Bulan, Bidik Pasar Coding dan Enterprise
- Erajaya Manfaatkan AI Salesforce, Kelola 18 Juta Pelanggan dengan Strategi Pemasaran Hyper-Personalized
Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh tingkat tanggung jawab. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar konsekuensi dari kesalahan yang diambil—baik secara finansial, reputasi, maupun operasional.
Dalam praktiknya, AI kini berfungsi sebagai lapisan pengawasan tambahan sebelum keputusan final dibuat.
Salah satu responden dalam survei menyebut AI sebagai mekanisme “pre-mortem”, yang digunakan untuk menguji strategi, mengaudit pesan, dan mengidentifikasi potensi risiko sebelum diluncurkan.
Sebanyak 67 persen eksekutif dan manajer senior mengaku rutin menggunakan AI untuk menantang asumsi mereka sendiri sebelum mengambil keputusan.
Sementara itu, hanya 29 persen yang masih mengandalkan AI terutama untuk menghasilkan ide, menandakan adanya perubahan prioritas dari kecepatan menuju ketepatan.
Dampaknya pun cukup nyata. Sebanyak 71 persen pengambil keputusan senior menyatakan AI membantu mereka menghindari setidaknya satu kesalahan besar dalam setahun terakhir. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan profesional junior yang hanya mencapai 44 persen.
Data ini juga menunjukkan 58 persen profesional dengan pendapatan tinggi kini menganggap AI sebagai bagian standar dalam proses pengambilan keputusan, bukan lagi sekadar alat tambahan.
Sebaliknya, secara keseluruhan, hanya 34 persen responden yang memiliki pandangan serupa.
Meski demikian, penggunaan AI tidak sepenuhnya tanpa risiko. Survei ini didasarkan pada pengakuan responden, sehingga sulit memastikan apakah AI benar-benar digunakan untuk verifikasi objektif atau justru memperkuat bias yang sudah ada.
Namun arah pergeseran ini terlihat jelas. AI tidak lagi hanya dimanfaatkan untuk mempercepat kerja, tetapi menjadi alat untuk berhenti sejenak, mengevaluasi, dan memastikan keputusan yang diambil benar-benar matang.









