Studi IBM: 90 Persen CEO di Indonesia Mulai Integrasikan AI ke Operasional Bisnis
Studi IBM mengungkap 90 persen CEO di Indonesia mulai mengintegrasikan AI ke operasional bisnis dan pengambilan keputusan strategis.
Ilustrasi kecerdasan buatan. dok. freepik.com
Studi terbaru IBM mengungkap mayoritas CEO di Indonesia mulai menempatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian utama dalam strategi bisnis dan pengambilan keputusan perusahaan.
Temuan itu tercantum dalam studi terbaru IBM Institute for Business Value yang melibatkan 2.000 CEO global, termasuk dari Indonesia.
Dalam studi tersebut, sebanyak 90 persen CEO di Indonesia yang disurvei menyatakan telah aktif mengintegrasikan AI ke berbagai alur kerja perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional.
Sementara 80 persen responden menilai AI telah mengubah cara perusahaan mendefinisikan inti bisnis mereka.
- LIBRA Hadir sebagai Asisten AI Korporasi, Fokus Efisiensi Beban Administratif Perusahaan
- BSD City dan ASIX Bangun Pusat Riset AI dan Robotik, Bidik Lahirkan Talenta Teknologi Indonesia
- Cloudera Jawab Tantangan Data AI dengan Teknologi Zero-Copy Connector, Data Sensitif Makin Aman
- Riset: Perusahaan di Asia Pasifik Mulai Integrasikan AI dalam Operasional Inti
IBM menilai perkembangan AI kini tidak lagi berada pada tahap eksperimen, melainkan mulai menjadi fondasi baru dalam operasional perusahaan modern.
Pergeseran ini turut mendorong perubahan besar terhadap struktur organisasi hingga pola kerja jajaran eksekutif perusahaan atau C-suite.
IBM Vice Chairman Gary Cohn mengatakan perusahaan yang mampu bertahan di tengah disrupsi adalah organisasi yang mulai mengadopsi pendekatan AI-first dalam operasional bisnis mereka.
“Perusahaan yang berhasil adalah mereka yang mengadopsi pendekatan AI-first, bukan sekadar menjadikan AI sebagai lapisan teknologi tambahan, melainkan sebagai model operasional baru,” ujar Cohn dalam pengantar studi tersebut.
Menurut IBM, tren tersebut juga mulai terlihat dari meningkatnya kepercayaan para CEO terhadap AI dalam proses pengambilan keputusan strategis.
Sebanyak 65 persen CEO di Indonesia mengaku nyaman mengambil keputusan besar berdasarkan masukan yang dihasilkan AI.
Selain itu, 65 persen responden juga menilai kedaulatan AI atau AI sovereignty menjadi bagian penting dalam strategi bisnis perusahaan, terutama terkait pengendalian data dan tata kelola teknologi di tengah penggunaan AI yang semakin luas.
Managing Director IBM Consulting Asia Pacific Juhi McClelland menilai kawasan Asia Pasifik kini menjadi salah satu wilayah dengan percepatan adopsi AI paling agresif di dunia.
“Yang menarik bukan hanya tingkat kepercayaan mereka terhadap teknologi ini, tetapi juga bagaimana mereka mulai menempatkan AI sebagai bagian inti dari pengambilan keputusan dan operasional bisnis,” ujar McClelland.
Sementara itu, General Manager and Technology Leader IBM ASEAN Catherine Lian mengatakan perusahaan di Indonesia mulai bergerak melampaui tahap uji coba AI dan menjadikannya sebagai penggerak utama daya saing bisnis.
Menurut Lian, AI kini tidak lagi dipandang sebagai eksperimen teknologi, melainkan sudah menjadi prioritas strategis organisasi.
Studi IBM juga menunjukkan perubahan besar terhadap struktur kepemimpinan perusahaan. Secara global, sebanyak 70 persen organisasi kini telah memiliki posisi Chief AI Officer (CAIO) pada 2026, melonjak tajam dibanding 17 persen pada 2025.
Di Indonesia, sebanyak 85 persen CEO menilai pemimpin di setiap fungsi bisnis harus memiliki pemahaman teknologi yang kuat.
Sementara 60 persen responden memperkirakan peran Chief Human Resources Officer (CHRO) akan semakin strategis dalam mendukung transformasi AI di perusahaan.
IBM juga mencatat tantangan implementasi AI tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia.
Sebanyak 75 persen CEO di Indonesia menilai keberhasilan AI lebih ditentukan oleh tingkat adopsi manusia dibanding teknologinya sendiri.
Antara 2026 hingga 2028, sekitar 30 persen pekerja diperkirakan perlu menjalani pelatihan keterampilan baru untuk menyesuaikan peran kerja yang berubah akibat AI.
Selain itu, 52 persen pekerja diproyeksikan membutuhkan peningkatan keterampilan agar dapat menjalankan pekerjaan mereka secara lebih efektif.
IBM menilai perusahaan yang mampu menyelaraskan transformasi teknologi, SDM, keuangan, operasional, dan kolaborasi lintas fungsi akan memiliki peluang lebih besar mencapai target bisnis di era AI yang semakin kompetitif.









