Riset: Perusahaan di Asia Pasifik Mulai Integrasikan AI dalam Operasional Inti
Perusahaan Asia Pasifik mulai memperluas penggunaan AI untuk dorong pertumbuhan bisnis dan transformasi operasional.
Ilustrasi kecerdasan buatan. dok. freepik.com
Perusahaan di kawasan Asia Pasifik mulai memasuki fase baru dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Jika sebelumnya AI lebih banyak digunakan dalam tahap percobaan, kini teknologi tersebut mulai diterapkan secara luas di level enterprise untuk memperkuat operasional dan mendorong pertumbuhan bisnis.
Temuan ini terlihat dalam riset terbaru Accenture bertajuk Pulse of Change yang menunjukkan sebanyak 86 persen pimpinan perusahaan di Asia Pasifik berencana meningkatkan investasi di bidang AI.
Bahkan, 77 persen perusahaan telah menggunakan AI agents, sementara 29 persen di antaranya sudah mengimplementasikan teknologi tersebut di berbagai proses bisnis secara menyeluruh.
Perubahan juga terlihat dari cara perusahaan memandang AI. Sebanyak 76 persen pimpinan perusahaan kini menilai AI sebagai mesin pendorong pertumbuhan pendapatan, bukan lagi sekadar alat efisiensi biaya.
- SUSE Perkuat Ekosistem Open Source dan Sovereign AI Lewat Inovasi Baru di SUSECON 2026
- Studi Harvard Ungkap AI Lebih Akurat dari Dokter di Diagnosis Awal IGD, Tapi Belum Siap Gantikan Manusia
- Kolaborasi F5 dan NVIDIA Dorong Efisiensi AI Factory, Pangkas Biaya dan Percepat Inferensi
- OpenAI Hadirkan Hewan Peliharaan Digital di Codex, Bikin Aktivitas Coding Lebih Interaktif
Co-CEO APAC Accenture Ryoji Sekido mengatakan perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik mulai serius memperluas penggunaan AI untuk membangun ketahanan bisnis di tengah tekanan ekonomi global dan disrupsi pasar tenaga kerja.
“Perusahaan yang benar-benar berhasil bukan hanya meluncurkan berbagai tools berbasis AI, tetapi melakukan investasi konsisten pada talenta, proses kerja, desain ulang organisasi, hingga model operasional,” ujar Ryoji Sekido.
Ia menilai keberhasilan implementasi AI tidak ditentukan dari seberapa banyak teknologi diterapkan, melainkan seberapa tepat AI digunakan di titik paling krusial dalam proses bisnis.
“Nilai terbesar akan datang dari disiplin dalam penggunaan AI, bukan dari luasnya implementasi,” katanya.
Di tengah tren tersebut, tantangan terbesar perusahaan justru muncul dari sisi kesiapan sumber daya manusia.
Riset Accenture menunjukkan 41 persen CXO di Asia Pasifik menganggap skill gap menjadi hambatan utama dalam mengikuti perkembangan teknologi AI.
AI & Data Lead Accenture APAC Vivek Luthra mengatakan banyak organisasi kini mulai menyadari bahwa transformasi talenta menjadi kunci utama dalam memperluas pemanfaatan AI di lingkungan kerja.
“Perusahaan yang lebih maju mulai merancang ulang peran kerja dan mendorong kolaborasi antara manusia dan AI dalam aktivitas sehari-hari,” ujarnya.
Sejumlah perusahaan besar di kawasan Asia Pasifik mulai menunjukkan bagaimana AI diterapkan secara konkret.
One New Zealand, misalnya, membangun budaya AI melalui pelatihan wajib penggunaan AI yang aman dan etis, sekaligus menghadirkan program pembelajaran berbasis generative AI dan Copilot untuk karyawan.
Chief AI & Business Services Officer One New Zealand Summer Collins mengatakan investasi pada manusia menjadi faktor utama dalam memperluas pemanfaatan AI di industri telekomunikasi yang sangat kompetitif.
“Dengan membekali karyawan dengan skill AI dan menjadikannya bagian dari keseharian kerja, kami dapat mengelola jaringan lebih cerdas dan meningkatkan pengalaman pelanggan,” kata Summer Collins.
Sementara itu, UOB mulai mengintegrasikan AI ke operasional inti perusahaan dengan pendekatan bertahap dan tata kelola ketat.
Bank tersebut menerapkan sistem human-in-the-loop serta pengelolaan siklus hidup AI untuk memastikan teknologi tetap aman, andal, dan sesuai regulasi.
Head of Enterprise AI Innovation Group UOB Alvin Eng menegaskan kepercayaan nasabah dan ketahanan bisnis tetap menjadi prioritas utama dalam pengembangan AI di sektor perbankan.
“Kami menerapkan AI generatif dan agentic secara bertanggung jawab untuk meningkatkan produktivitas, mengelola risiko, dan menghadirkan pengalaman yang lebih personal,” ujar Alvin Eng.









