×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Semangat Kartini di Era AI, Cerita Perempuan Hebat Jadi Motor Transformasi Digital

Oleh: Tek ID - Kamis, 30 April 2026 23:00

Semangat Kartini di era AI, perempuan Indonesia dorong transformasi pendidikan dan kebijakan digital dari Papua hingga Jawa Timur.

Cerita Perempuan Hebat Jadi Motor Transformasi Digital Garuda Impact Summit 2026 yang diselenggarakan Microsoft. dok. Microsoft

Semangat Raden Ajeng Kartini kembali menemukan relevansinya di era kecerdasan buatan (AI). Di tengah tantangan kesenjangan pendidikan dan literasi digital, sejumlah perempuan Indonesia mulai mengambil peran sebagai penggerak perubahan, baik di ruang kelas maupun di lingkup pemerintahan.

Data menunjukkan ketimpangan akses pendidikan masih menjadi persoalan serius. Rata-rata lama sekolah perempuan di beberapa wilayah masih berada di bawah angka nasional 8,79 tahun pada 2025. 

Di Papua Pegunungan, angka tersebut bahkan hanya mencapai 3,6 tahun, menandakan masih terbatasnya akses pendidikan dasar.

Di tengah kondisi tersebut, sosok seperti Ory Mangiri hadir sebagai simbol ketekunan. Guru yang mengabdi di wilayah pedalaman Papua Pegunungan ini menghadapi tantangan ekstrem, mulai dari keterbatasan akses transportasi hingga praktik pernikahan dini yang masih terjadi.

“Anak-anak ini sedang membangun masa depannya. Tolong beri mereka waktu untuk belajar dan menentukan hidupnya sendiri,” ujarnya, dalam upaya mengedukasi masyarakat agar memberi kesempatan pendidikan yang lebih panjang bagi anak-anak.

Seiring waktu, pendekatan tersebut mulai membuahkan hasil. Kesadaran orang tua meningkat, dan anak-anak memiliki kesempatan lebih besar untuk melanjutkan pendidikan. 

Transformasi pun berlanjut ketika Ory mulai memanfaatkan teknologi AI dalam proses belajar mengajar melalui program Microsoft Elevate.

Dengan bantuan teknologi seperti Microsoft Copilot, ia mampu menyusun rencana pembelajaran lebih terstruktur, menghadirkan metode belajar yang lebih interaktif, serta mendorong siswa untuk berpikir kritis dan mandiri.

“Perubahan itu cukup dimulai dari satu sekolah. Guru-guru perlu diberdayakan terlebih dahulu. Dari sana, perubahan bisa menyebar perlahan tapi konsisten,” katanya.

Di sisi lain, transformasi juga terjadi di level kebijakan. Sherlita Ratna Dewi Agustin, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, mendorong pemanfaatan AI untuk meningkatkan kualitas layanan publik.

Ia menilai teknologi dapat membantu pemerintah membaca data secara lebih komprehensif dan menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran. Namun, tantangan utama justru terletak pada kesiapan sumber daya manusia.

“Saya belajar untuk tidak membiarkan stereotip membatasi langkah saya. Justru, posisi ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa perspektif perempuan dalam kepemimpinan membawa nilai tambah,” ujarnya.

Melalui berbagai pelatihan AI, termasuk program GARUDA AI dan Microsoft Elevate, Sherlita mendorong aparatur sipil negara untuk memahami teknologi sebagai alat bantu, bukan pengganti. 

Pendekatan ini dinilai penting agar transformasi digital tetap berorientasi pada manusia.

Dalam konteks yang lebih luas, semangat Kartini juga digaungkan oleh pemerintah. Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan menegaskan pentingnya akses setara bagi perempuan.

“Jika kita berhenti menyuarakan bahwa perempuan memiliki hak yang setara untuk bermimpi dan meraihnya, maka kesempatan itu bisa terlewat,” ujarnya.

Senada, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menekankan pentingnya pelatihan inklusif agar perempuan mampu memanfaatkan teknologi seperti AI untuk meningkatkan daya saing.

Di era AI, kepemimpinan pun dituntut beradaptasi. AI Skills Director Microsoft Indonesia Arief Suseno mengatakan pemimpin tidak hanya mengarahkan pekerjaan, tetapi juga memastikan teknologi digunakan secara bertanggung jawab.

“Di era AI, peran pemimpin diharuskan berevolusi: bukan hanya mengarahkan pekerjaan, tetapi menetapkan visi yang membuat teknologi bekerja untuk tujuan yang jelas,” ujarnya.

×
back to top