Perkuat Kedaulatan Digital Indonesia, Red Hat Dorong AI Open Source,
Red Hat dorong AI open source di Indonesia untuk kurangi ketergantungan vendor dan perkuat kedaulatan digital nasional.
Country Manager Red Hat Indonesia Vony Tjiu bersama Direktur Busan Auto Finance Yudono Chayadi dan Head of Enterprise Architectur Pegadaian Ronald Hariyanto
Red Hat Indonesia mendorong penguatan ekosistem kecerdasan buatan (AI) berbasis open source sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu vendor teknologi.
Inisiatif ini dinilai semakin relevan di tengah dominasi pasar GPU global oleh pemain tertentu, yang berpotensi memengaruhi keberlanjutan inovasi.
Country Manager Red Hat Indonesia Vony Tjiu memngatakan tantangan utama AI saat ini tidak lagi pada tahap eksperimen, melainkan implementasi skala besar.
“Semakin cepat teknologi AI berkembang, kompleksitas juga meningkat. Tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar mencoba AI, tetapi bagaimana membawanya ke tahap produksi secara aman dan dalam skala besar,” ujarnya di sela gelaran Red Hat Tech Day 2026.
- Semangat Kartini di Era AI, Cerita Perempuan Hebat Jadi Motor Transformasi Digital
- Fitur Baru ChatGPT Images 2.0 Makin Digemari di Indonesia, Dari Stiker hingga Nostalgia Visual
- Ini Jurus HR Hadapi Era AI, Satukan Energi Gen Z dan Pengalaman Profesional Senior
- ChatGPT Images 2.0 Hadir di Indonesia, Bikin Desain Visual Lebih Presisi hingga Resolusi 4K
Menurutnya, ketergantungan pada satu penyedia infrastruktur, khususnya GPU, berisiko menghambat inovasi.
“Supply chain GPU menjadi isu. Kalau terlalu bergantung pada satu vendor, itu berisiko terhadap keberlanjutan inovasi,” kata Vony.
Sebagai solusi, Red Hat mendorong kolaborasi lintas penyedia teknologi, termasuk dengan pemain seperti Intel, AMD, hingga produsen GPU di Asia.
Pendekatan ini diharapkan memberi fleksibilitas bagi perusahaan dalam menjalankan model AI tanpa harus bergantung pada satu ekosistem tertutup.
Strategi fleksibilitas ini juga memungkinkan organisasi tetap memanfaatkan investasi teknologi yang sudah ada.
“Customer tidak perlu mengganti investasi IT yang sudah dimiliki. Justru bagaimana investasi tersebut kita buat lebih cerdas dengan AI,” ujarnya.
Di sisi lain, Red Hat juga menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih rasional terhadap adopsi cloud.
“Sekarang bukan lagi soal cloud-first, tapi cloud-smart. Kalau tidak mendapatkan skala ekonomi, sebenarnya tidak selalu worth it pindah ke cloud,” jelas Vony.
Pendekatan open source dinilai menjadi fondasi penting dalam menciptakan inovasi yang lebih inklusif. Dengan model terbuka, pengembangan teknologi AI dapat dilakukan secara kolaboratif lintas negara dan industri.
“Open source memungkinkan inovasi terjadi bersama-sama. Ini juga relevan untuk AI, di mana model berkembang sangat cepat di berbagai negara,” katanya.
Dalam konteks Indonesia, penguatan ekosistem AI terbuka menjadi krusial mengingat besarnya potensi ekonomi digital nasional.
Indonesia diproyeksikan menyumbang hingga 40% ekonomi digital ASEAN pada 2030, sehingga membutuhkan fondasi teknologi yang aman, terbuka, dan berdaulat.
“Kita punya potensi besar. Yang penting bagaimana kita membangun ekosistem yang terbuka, aman, dan berdaulat,” ujar Vony.
Ke depan, pengembangan infrastruktur digital nasional diharapkan berfokus pada tiga aspek utama, yakni pertumbuhan ekonomi, keamanan sistem, dan konektivitas yang merata.
Ketiganya dinilai menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam ekosistem teknologi global.









