Riset NTT DATA: Privasi dan Kedaulatan Data Jadi Hambatan Baru Adopsi AI Perusahaan
Riset NTT DATA mengungkap privasi dan kedaulatan data menjadi tantangan baru adopsi AI perusahaan global.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan perusahaan kini mulai menghadapi tantangan baru. Bukan lagi sekadar soal kemampuan model AI, tetapi menyangkut privasi, keamanan, dan kedaulatan data yang dinilai belum sepenuhnya didukung oleh infrastruktur lama perusahaan.
Dalam laporan bertajuk Global AI NTT DATA 2026: A Playbook for Private and Sovereign AI, perusahaan teknologi global itu menemukan adanya kesenjangan antara perusahaan yang mulai merancang ulang sistem AI mereka dengan pendekatan lebih aman dan terlokalisasi, dibanding perusahaan yang masih mengintegrasikan AI ke dalam sistem lama yang belum dirancang untuk kebutuhan tersebut.
NTT DATA menilai selama bertahun-tahun perusahaan terbiasa membangun sistem yang memungkinkan data bergerak cepat lintas cloud, aplikasi, dan wilayah.
Namun, penggunaan AI justru memperlihatkan keterbatasan model tersebut karena data sensitif kini harus dijaga lebih ketat dan banyak negara mulai menerapkan aturan yurisdiksi data yang lebih spesifik.
- Analog Devices Akuisisi Empower Semiconductor untuk Perkuat Infrastruktur AI
- Studi IBM: 90 Persen CEO di Indonesia Mulai Integrasikan AI ke Operasional Bisnis
- LIBRA Hadir sebagai Asisten AI Korporasi, Fokus Efisiensi Beban Administratif Perusahaan
- BSD City dan ASIX Bangun Pusat Riset AI dan Robotik, Bidik Lahirkan Talenta Teknologi Indonesia
Akibatnya, konsep private AI dan sovereign AI mulai menjadi perhatian utama perusahaan global.
Private AI berfokus pada perlindungan data sensitif dan pembatasan akses, sementara sovereign AI memastikan sistem AI memenuhi aturan yurisdiksi dan regulasi nasional maupun regional.
Riset tersebut menunjukkan lebih dari 95 persen responden menganggap private AI dan sovereign AI penting, tetapi hanya 29 persen yang benar-benar memprioritaskan sovereign AI dalam strategi jangka pendek mereka.
Selain itu, hampir 60 persen pemimpin AI mengaku pembatasan data lintas wilayah menjadi tantangan besar dalam pengembangan AI perusahaan.
Temuan lain menunjukkan kesiapan keamanan infrastruktur perusahaan juga masih rendah. Hanya 38 persen responden yang menyatakan memiliki tingkat kepercayaan tinggi terhadap keamanan cloud mereka, padahal aspek tersebut menjadi fondasi penting dalam implementasi private AI maupun sovereign AI.
CEO dan Chief AI Officer NTT DATA Abhijit Dubey mengatakan perusahaan yang berhasil mengadopsi AI secara matang bukan hanya fokus pada kepatuhan regulasi, tetapi juga mulai membangun fondasi operasional yang mampu mendukung AI di berbagai pasar dan yurisdiksi.
“Perusahaan yang berhasil melangkah lebih jauh dari sekadar kepatuhan regulasi dan mitigasi risiko. Mereka membangun fondasi operasional bagi AI yang mampu beroperasi di berbagai pasar, yurisdiksi, dan lingkungan bisnis,” ujar Dubey.
Dalam laporannya, NTT DATA mengidentifikasi lima perubahan besar yang mulai menentukan masa depan AI perusahaan.
Salah satunya adalah munculnya yurisdiksi data sebagai faktor utama dalam perancangan sistem AI modern. AI dinilai membutuhkan kontrol yang lebih besar terhadap lokasi data, akses, serta pengelolaan model sehingga perusahaan tidak lagi bisa mengandalkan arsitektur lama yang dirancang untuk aliran data tanpa batas.
Riset itu juga menunjukkan perusahaan yang melakukan penyesuaian lebih awal mulai memiliki keunggulan kompetitif.
Mereka dinilai lebih cepat beralih dari tahap uji coba menuju implementasi AI dalam skala besar, sementara perusahaan lain masih berupaya menyesuaikan infrastruktur dan tata kelola mereka.
Laporan NTT DATA disusun berdasarkan dua studi yang melibatkan hampir 5.000 pengambil keputusan senior dari lebih dari 30 pasar global dan berbagai sektor industri.









