Gojek, 1.001 wajah aplikasi 10 miliar dollar

Dalam waktu yang relatif singkat, Gojek menjelma tak sekadar menjadi aplikasi super, namun juga sebagai mentor bagi startup lainnya.

Gojek, 1.001 wajah aplikasi 10 miliar dollar

Ada perubahan perspektif saat saya menghadiri acara sembilan tahun kelahiran Gojek di Jakarta, Sabtu (2/11). Pengembangan bisnis, ekspansi pasar, model investasi, sampai kultur perusahaannya, terasa berbeda dengan Gojek yang saya kenal beberapa tahun silam. Tak bermaksud nostalgia, tapi itu semua mereka tempuh dalam waktu relatif singkat.

Soal visi dan misi, misalnya, Kevin Aluwi dan Andre Soelistyo, Co-CEO Gojek yang menggantikan Nadiem, mengklaim diri sebagai super app pertama di panggung global. Kedengarannya seperti jemawa. Pasalnya, konsep super app dikembangkan WeChat dan Alibaba yang lebih dahulu hadir di platform mobile daripada Gojek. Akan tetapi, dari sisi kesetiaan pemakaian pengguna sehari-harinya, Gojek mengklaim lebih baik dari platform super app lain.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Kata Gojek soal pelaku bom di Medan pakai atribut ojol

GoPay dan Filantropi Indonesia hadirkan program PEDOELI Indonesia

Ades kolaborasi dengan Gojek hadirkan program Niat Murni


Konsep super app Gojek bertumpu pada tiga pilar. Pertama, aplikasi Gojek untuk konsumen, kemudian aplikasi Gojek Driver, yang digunakan mitra driver, yang kini telah menjelma seperti aplikasi utama Gojek untuk konsumen. Tambahan fitur-fitur bagi aplikasi driver Gojek pun mengikuti kelengkapan fitur yang ada dalam aplikasi konsumennya. Dari aplikasi tersebut, mitra driver kini bisa memberikan layanan top up GoPay pada pelanggan, sampai menerima tips GoPay dari pelanggan.

“Banyak sekali fitur-fitur lain yang akan kita tambahkan nantinya, visinya adalah untuk menambah pendapatan bagi rekan-rekan driver kami,” ujar Andre Soelistyo, Co-CEO Gojek.

Aplikasi super lain yang coba Gojek bangun adalah aplikasi merchant GoFood. Aplikasi ini mirip seperti yang digunakan mitra driver, tapi khusus bagi mitra GoFood. Gojek menambahkan kemampuan marketing dan promosi melalui aplikasi tersebut. Menarik, mengingat di ekosistem sosial media, seperti Facebook, Instagram, Google, pengguna juga bisa beriklan di dalamnya secara mandiri.

Kenapa ide menarik? Mengingat potensi kekuatan ekonomi di tiga aplikasi besar ini sangat potensial. Berdasarkan data internal mengenai unduhan aplikasi Gojek di platform mobile, per November 2019, kini telah diunduh 115 juta kali. Lalu, ada 2 juta mitra driver yang dimiliki Gojek yang bisa melakukan transaksi keuangan dengan pelanggannya secara langsung. Selebihnya, ada 500 ribu merchant yang siap berebut atensi untuk mempromosikan lapak mereka di GoFood. Terakhir, yang belum tergali potensinya adalah 60 ribu penyedia layanan lain yang menjadi bagian dari aplikasi Gojek, seperti GoFix dan GoMassage.

Jadi, tak heran Gojek mengklaim diri sebagai penyedia layanan pembayaran digital terbesar di Asia Tenggara saat ini. Apalagi, core user, atau pelanggan yang setia menggunakan tiga fitur utama Gojek sekaligus setia bertransaksi dengan GoPay, telah melakukan transaksi rata-rata selama 256 kali dalam setahun (2018).

Artinya, hampir setiap hari, pengguna menggunakan layanan Gojek. Inilah yang mengindikasikan Gojek sukses sebagai super app. Alasannya, karena platform Gojek ini memiliki tingkat keterpakaian yang tinggi yang jarang bisa diraih aplikasi mobile lain.

“Pertumbuhannya di 2019 ini sudah lebih dari angka 300 kali transaksi,” ujar Andre.

Di Indonesia sendiri, menurut data internal Gojek, pelanggan mereka telah mencapai 29,2 juta. Di Vietnam, Gojek telah mengumpulkan 4 juta pelanggan, Singapura 1 juta pelanggan, Thailand 2 juta, dan Filipina mencapai 800 ribu pelanggan.

Dengan kekuatan seperti itu, Gojek, tahun lalu, berhasil memperoleh transaksi kotor sebesar USD1.5 miliar per tahun (Rp20,9 triliun).

Rencana ekspansi dan IPO

Gojek masih bermimpi untuk masuk ke dua negara Asia Tenggara secara penuh. Filipina, misalnya, yang baru menerima kehadiran sistem pembayaran Gojek. Di sana, Gojek berkeinginan masuk secara penuh sebagai sebuah platform. Hal ini menjadi pekerjaan rumah Gojek karena tanpa penetrasi penuh dalam bentuknya seperti sekarang ini, pasar mereka lambat berkembang. Oleh karena itu, penetrasi di Filipina lebih lambat daripada empat Negara ASEAN lainnya. Kedua, Malaysia adalah negara potensial yang belum sempat dimasuki Gojek.

Alokasi yang dianggarkan Gojek untuk ekspansi sendiri mencapai USD500 juta (Rp6,9 triliun). Tantangan sebagai pemain regional adalah membuat layanan Gojek diterima dengan cepat oleh penduduk lokal.

Dari segi investasi, Gojek sendiri mendambakan untuk segera melantai di bursa saham. Kevin mengakui bahwa langkah IPO Gojek ini punya pendukung maupun oposisinya sendiri. Kendati begitu, persiapan ke arah bursa saham, sudah mereka lakukan, meski tanggal pastinya masih belum mereka tentukan. Peluang masuk Bursa Efek Indonesia masih seksi di mata petinggi Gojek.

Pencarian talenta baru

Dengan visi sebesar itu, Gojek tentu butuh kekuatan sumber daya, utamanya transfer teknologi dan pengetahuan dari perusahaan teknologi lain yang lebih mapan. Kendati begitu, salah satu upaya yang menarik dari Gojek adalah mengkonsep agenda akselerasi bagi startup-startup dari wilayah Asia Pasifik; sebuah simbiosis mutualisme yang kerap terjadi di industri teknologi.

Kultur seperti ini jarang bisa kita saksikan di budaya korporasi lama. Dengan membuka diri, Gojek menjadi tuan rumah untuk “adik kelas” mereka, dan memberikan kesempatan bagi para startup ini untuk bertemu calon investor dan keran kerja sama dengan Gojek dalam platform Gojek.

Jumat (1/11) sore itu, sepuluh startup yang berasal dari beragam negara, hadir di markas Gojek di bilangan Blok M, Jakarta Selatan. Ruangan Golearn di markas Gojek pun penuh oleh penonton, yang memiliki antusias akan acara tersebut. Sebenarnya, ini adalah acara presentasi final setelah Gojek dan rekanannya Digitaraya, menjaring startup-startup dari seluruh Asia. Acara bertajuk Gojek Xcelerate ini sendiri berlangsung selama empat kali (batch), dimuali September 2019 sampai Maret 2020. Setiap batch akan menampilkan presentasi startup-startup yang sudah terseleksi sebelumya.

Startup yang sudah diseleksi ini akan berhadapan dengan juri sekaliber Google, Digitaraya, dan konsultan bisnis dari McKinsey. Konsepnya mirip ajang pencarian bakat di televisi. Menariknya, topiknya selalu menawarkan solusi bagi permasalahan yang ada di lapangan.

Khusus pada Batch 2 kali ini, Gojek mencari startup dengan pimpinan atau founder perempuan. Dari 80 peserta, tersaringlah 10 startup, dua di antaranya berasal dari Indonesia. Startup lain berasal dari Singapura, India, Malaysia, Filipina, Thailand dan Hongkong.

Mungkin ini mengejewantahkan visi Kevin Aluwi, Co-CEO Gojek, bahwa untuk menjadi perusahaan global, mereka perlu menarik talenta-talenta terbaik di ranah global. Sementara, investasi untuk berburu talenta yang baik tidaklah murah. Program akselerasi gagasan Gojek ini sangat solutif sekali.

Siti Astrid Kusumawardhani, VP Public Affairs Gojek, pun mengatakan bahwa ada kesempatan bagi startup peserta Xcelerate ini untuk masuk ke dalam platform Gojek.

“Jadi ini akan sampai empat batch, pemenang dari tiap batch akan diundang untuk hadir di final demo day, yang akan mendepatkan kesempatan untuk pitch ke mentor dan investor serta kesempatan bagi yang terbaik untuk bergabung ke dalam platform kita,” ujarnya.

Soal visi, tiap startup pilihan program Gojek ini sudah sevisi, yakni berdampak sosial di negaranya sendiri maupun di regional ASEAN. Hanya saja, Gojek menampik akan terjadi pertukaran data antara mereka dengan startup pemenang program Xcelerate itu, nantinya.

“Jadi, startup-startup yang kita undang memang dalam fase growth stage. Jadi, sudah punya pendanaan sendiri,” kata Astrid.

Masih menurut Atrid, pada tahapan growth stage inilah justru menjadi tahapan krusial bagi startup, utamanya dalam sisi knowledge. Gojek justru membagikan pengetahuan mereka di bidang machine learning, growth hacking menggunakan big data, memecahkan masalah dengan kreativitas, sampai sharing membangun budaya perusahaan agar dilirik talenta terbaik ke dalam startup mereka.

Usai mendengar pemaparan para petinggi Gojek yang kini ditinggal Nadiem Makarim, saya jadi berpikir. Agaknya Gojek sedang berevolusi menjadi perusahaan dengan 1.001 wajah. Ya, mereka masih perusahaan ride hailing yang kita kenal dulu, tapi di saat yang sama, juga perusahaan teknologi finansial, advertising, inkubator startup, dan wajah lain yang barangkali akan segera muncul. 

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: