Analis Ungkap AI Belum Terbukti Meningkatkan Produktivitas Ekonomi
Analis Forrester JP Gownder mengungkapkan, kecerdasan buatan (AI) secara signifikan belum meningkatkan produktivitas penggunanya.
Ilustrasi AI. dok. Freepik
Kecerdasan buatan (AI) selama ini digadang-gadang sebagai teknologi kunci untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja.
Namun, di tengah derasnya investasi global dan ekspansi pusat data, manfaat AI terhadap produktivitas ekonomi dinilai belum terlihat secara nyata.
Pandangan tersebut disampaikan Wakil Presiden sekaligus analis utama Forrester, JP Gownder. Ia menilai, hingga saat ini belum ada data yang menunjukkan penerapan AI berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas.
“Di mana kita berada saat ini, kita tidak melihatnya,” ujar Gownder dalam wawancara dilansir dari Futurism, Selasa (20/1/2025)
- ChatGPT Translate Tantang Dominasi Google dalam Platform Penerjemah
- X Batasi Fitur Grok, Tak Lagi Izinkan Edit Foto Bermuatan Seksual
- AI Diprediksi Ubah Peta Ancaman dan Pertahanan Siber di Asia Pasifik pada 2026, Begini Prediksinya
- Project AVA Milik Razer Tuai Kritik imbas Tampilannya yang Dinilai Buruk
Menurut Gownder, asumsi bahwa teknologi informasi secara otomatis akan meningkatkan produktivitas sering kali tidak sejalan dengan realitas di lapangan.
Ia mengaitkan kondisi ini dengan Solow Paradox, konsep ekonomi yang diperkenalkan oleh peraih Nobel Robert Solow, yang menyebut dampak revolusi teknologi tampak di mana-mana, kecuali dalam statistik produktivitas.
“Anda mulai memahami bahwa teknologi informasi tidak selalu diukur secara linier terhadap produktivitas seperti yang diasumsikan orang. Tidak selalu demikian.” ucapnya.
Ia merujuk pada data Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (US Bureau of Labor Statistics). Pada periode 1947 hingga 1973, sebelum komputer personal (PC) digunakan secara luas, produktivitas tenaga kerja tumbuh rata-rata 2,7 persen per tahun.
Namun, setelah PC menjadi teknologi arus utama, pertumbuhan produktivitas justru melambat menjadi 2,1 persen pada 1990–2001, dan turun lagi ke angka 1,5 persen pada periode 2007–2019.
“Jadi, meskipun ada banyak PC, angkanya jauh lebih rendah,” ujar Gownder.
Sejumlah riset terbaru turut memperkuat keraguan terhadap klaim AI sebagai pendorong produktivitas.
Studi dari MIT menunjukkan 95 persen perusahaan yang mengadopsi AI tidak mengalami pertumbuhan pendapatan yang signifikan. Dalam sektor pemrograman, penggunaan alat bantu AI untuk menulis kode bahkan disebut membuat sebagian pengembang bekerja lebih lambat.
Sementara itu, penelitian dari Center for AI Safety menemukan bahwa AI agent yang dirancang untuk menyelesaikan tugas kerja jarak jauh belum menunjukkan performa yang memadai.
Tidak satu pun model AI mampu menyelesaikan lebih dari tiga persen tugas yang diberikan.
Studi lain juga mencatat kehadiran AI di tempat kerja justru berpotensi menurunkan kualitas kerja, karena karyawan cenderung menyerahkan hasil yang belum matang dengan harapan akan diperbaiki di tahap berikutnya.
Meski demikian, Forrester tetap memperkirakan AI dan teknologi otomasi lain, termasuk robot fisik, berpotensi menggantikan sekitar enam persen lapangan pekerjaan global pada 2030, atau setara dengan 10,4 juta pekerjaan.
“Itu bukan pukulan yang tidak signifikan bagi perekonomian.” ujarnya
Gownder menambahkan, sebagian perusahaan mulai menyadari menggantikan tenaga kerja manusia dengan AI tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi.
Beberapa di antaranya bahkan kembali merekrut karyawan setelah sebelumnya melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan penerapan AI.
Namun, menurutnya, narasi AI kerap digunakan untuk menutupi strategi efisiensi lain.









