sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id acer
  • partner tek.id qnap
  • partner tek.id asus
  • partner tek.id benq
  • partner tek.id advo
  • partner tek.id synologi
  • partner tek.id praxis
  • partner tek.id oppo
  • partner tek.id wd
Senin, 16 Mar 2020 15:01 WIB

Apa itu Social Distancing dan bagaimana menyikapinya

Social Distancing menjadi salah satu cara untuk melindungi diri dari coronavirus. Lantas bagaimana kita harus menyikapinya?

Apa itu Social Distancing dan bagaimana menyikapinya
Source: Shutterstock

Penyebaran coronavirus di Indonesia membuat istilah ‘Social Distancing’ menjadi marak dibicarakan. Hal ini terjadi lantaran Presiden Jokowi sudah mengumumkan social distancing untuk mengurangi penyebaran virus ini. 

Di media sosial pun, tagar GerakanSocialDistancing pun menggema di Twitter. Sampai berita ini dipublikasikan, tagar ini sudah mencapai lebih dari 13,9 ribu cuitan. Tidak hanya itu, tagar #dirumahaja juga ikut meramaikan media sosial tersebut. Hal ini digaungkan untuk menunjukkan anjuran Work From Home yang diberikan beberapa perusahaan di Indonesia. 

Lantas apa yang dimaksud dengan Social Distancing itu? Bagaimana kita harus menyikapinya? Dan, apakah dampak yang akan diberikan oleh Social Distancing tersebut? 

 

Apa itu Social Distancing

Menurut John Hopkins University, Social Distancing merupakan praktik kesehatan publik yang bertujuan untuk mencegah orang yang sakit untuk melakukan kontak dengan orang lain, terutama yang sehat untuk mengurangi kesempatan penyebaran sebuah penyakit. 

Sementara CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dalam konteks penyebaran coronavirus, mendefinisikannya sebagai tetap berada di luar tempat berkumpul, menghindari pertemuan massal dan menjaga jarak (sekitar 2 meter) dari orang lain jika memungkinkan. CDC juga mengungkapkan bahwa hal ini berlaku juga untuk transportasi umum dan tempat di mana orang banyak biasanya berkumpul. 

Masalahnya adalah tidak semua orang menyadari kalau mereka memiliki COVID-19 karena belum menunjukkan gejala apa pun. Karena itulah, pemerintah berbagai negara, termasuk Indonesia, melancarkan beberapa strategi untuk Social Distancing ini. 

Dilansir dari Tomsguide (16/3), saat ini ada banyak negara yang melarang warganya untuk melakukan pertemuan besar dengan jumlah peserta lebih dari 250 peserta. Tidak sampai situ, beberapa pemerintah kota bahkan sampai menutup restoran, hingga tempat hiburan untuk mencegah berkumpulnya orang banyak dalam satu tempat.

 

Bagaimana menyikapi Social Distancing? 

Social Distancing berujung pada diliburkannya semua sekolah dan hampir seluruh kantor. Anjuran untuk bekerja dari rumah pun digaungkan. Ide dasarnya, dengan bekerja dan belajar dari rumah, seseorang dapat meminimalisir kontak dengan orang lain. 

Social Distancing bukan sekadar tidak ke kantor atau ke sekolah. Sesuai dengan tujuan awalnya, gerakan ini dibuat agar meminimalisir kontak dengan orang lain. Jadi jangan karena tidak ke kantor atau masuk sekolah, seseorang bisa melancong kemana saja, apalagi ke tempat-tempat yang berpotensi menimbulkan keramaian. 

Tetap diam di rumah adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mendukung gerakan ini. Kalau pun terpaksa pergi keluar, hindari kontak tatap muka dengan orang lain. Sesuai saran CDC, jaga jarak setidaknya dua meter dari orang lain. Dan, jangan lupa untuk mencuci tangan sebelum menyentuh area wajah atau memegang makanan. Pasalnya COVID-19 bisa masuk melalui hidung, mulut dan bahkan mata seseorang. 

 

Bagaimana Social Distancing dapat mengurangi penyebaran corona

Corona adalah virus yang dapat menyebar dengan cepat. Penyebarannya terjadi melalui droplet (cairan) yang keluar dari penderita ketika bersin atau bahkan berbicara. Tomsguide melaporkan bahwa NPR menyebut kalau ide meningkatkan social distancing dalam rangka memperlambat penyebaran virus akan mengurangi lonjakan pasien dalam waktu bersamaan.

Sebagaimana diketahui, di beberapa negara, rumah sakit pun kewalahan menangani lonjakan pasien terjangkit corona. Padahal, pasien corona butuh penanganan intensif dan cepat, yang akan menjadi sulit jika jumlahnya terus bertambah. Hal inilah yang terjadi di Italia. 

Seorang peneliti dari Universitas Thomas Jefferson, Drew Harris mensimulasikan penyebaran corona tanpa upaya pembatasan dan dengan upaya pembatasan, misalnya social distancing tersebut. Ia sendiri mengakui bahwa pembatasan ini tidak serta merta menghentikan penyebaran virus, namun cukup membantu fasilitas medis untuk bersiap menanganinya. 

Terlepas dari itu semua, harus dipahami dengan baik bahwa Social Distancing bukan bertujuan untuk menghilangkan virus tersebut, namun memperlambat penyebarannya. Dengan begitu, berbagai fasilitas medis tidak kewalahan untuk menanganinya. Tidak hanya itu, Social Distancing berguna juga untuk melindungi diri dari paparan virus ini, sekaligus memberikan waktu bagi fasilitas medis dan peneliti untuk melakukan uji coba menangkal virus tersebut. 

So bagi Sahabat Tek sekalian, jaga kesehatan dan kebersihan diri. Perlakukan social distancing ini dengan serius dan jangan panik dalam menghadapi penyebaran virus ini!

Share
back to top