Microsoft Bekali 2,4 Juta Talenta Indonesia dengan Keterampilan AI dalam Dua Tahun
Microsoft membekali lebih dari 2,4 juta talenta Indonesia dengan keterampilan AI, dari guru madrasah, disabilitas hingga ASN.
Contoh program pelatihan dalam Microsoft Elevate Indonesia. dok. Microsoft
Microsoft membekali lebih dari 2,4 juta talenta di Indonesia dengan keterampilan kecerdasan buatan (AI) melalui program Microsoft Elevate dalam dua tahun terakhir.
Program tersebut menjangkau beragam kelompok, mulai dari guru dan pelajar hingga penyandang disabilitas serta aparatur sipil negara (ASN).
Dari jumlah tersebut, lebih dari 1,5 juta kredensial telah diberikan kepada peserta.
Microsoft juga mencatat lebih dari 2,5 juta orang lainnya memperoleh manfaat tidak langsung melalui penyebaran keterampilan dan inovasi oleh peserta kepada komunitas di sekitarnya.
- tiket.com Gandeng Microsoft, Percepat Layanan Travel Berbasis Agentic AI
- Microsoft Luncurkan Scout, Asisten AI yang Belajar dari Kebiasaan Pengguna
- Microsoft Perkuat Infrastruktur AI Indonesia untuk Sektor Keuangan dan Pendidikan
- Migrasi 200 Terabyte Data ke Microsoft Azure Rampung, BNI Finance Percepat Transformasi Digital
Managing Director Microsoft Indonesia Gunawan Susanto mengatakan pemerataan akses menjadi salah satu fokus pengembangan keterampilan AI. Menurut dia, besarnya jumlah peserta bukan satu-satunya tolok ukur program tersebut.
“Selain bangga karena mampu membekali 2,4 juta talenta, kami juga bersyukur karena di dalamnya termasuk guru madrasah di 38 provinsi, teman-teman disabilitas, hingga aparatur sipil negara di berbagai daerah,” kata Gunawan di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
“Bagi Microsoft, kesiapan AI hanya akan bermakna jika aksesnya merata. Karena itu, komitmen kami tidak berhenti pada pelatihan saja, tetapi juga memastikan setiap talenta punya kesempatan yang sama untuk ikut membangun masa depan Indonesia di era AI,” lanjutnya.
Program Microsoft Elevate dijalankan melalui kolaborasi dengan sejumlah mitra pada sektor pendidikan, pemberdayaan masyarakat hingga pelayanan publik.
Programnya mencakup pelatihan penggunaan AI, pengembangan kompetensi, sertifikasi hingga penerapan teknologi untuk menyelesaikan persoalan di lingkungan peserta.
Salah satu jangkauan program tersebut berada di lingkungan pendidikan pesantren dan madrasah.
Melalui AI Teaching Power, NUCare Global by LAZISNU telah memberikan pembekalan kepada hampir 59.000 pendidik pesantren dan madrasah yang tersebar di 38 provinsi.
Menurut data Microsoft, penerapan keterampilan oleh para pendidik tersebut kemudian memberikan manfaat kepada lebih dari 2,3 juta santri dan murid. Program tersebut turut menjadi fondasi bagi Gerakan Pesantren Cakap AI.
Program lain, AILeap Nusantara yang dijalankan Fokus Target, telah melibatkan lebih dari 112.000 peserta. Sebanyak 50.000 di antaranya memperoleh kredensial Microsoft.
Alkademi melalui pendekatan LEAPS atau Learn, Explore, Amplify, Present, Shine juga melibatkan lebih dari 85.000 guru dalam pelatihan AI.
Program tersebut kemudian memperluas pembelajaran kepada hampir 65.000 guru dan 2.734 siswa di 407 kabupaten dan kota.
Sementara Biji-biji Initiative menjangkau lebih dari 200.000 pendidik melalui Microsoft Elevate: AI For Educators.
Sebanyak 2.359 master trainer turut dilibatkan untuk membantu peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan dari tingkat dasar hingga menengah atas.
Di luar sektor pendidikan, Microsoft Elevate juga menyasar mahasiswa, profesional, pelaku UMKM, talenta muda hingga kelompok masyarakat rentan.
Program AI Career Boost yang dijalankan GreatNusa by Binus University telah menjangkau lebih dari 50.000 peserta.
Lebih dari 1.200 peserta disebut berhasil memperoleh sertifikasi Azure AI Fundamentals atau AI-900.
Microsoft Elevate Training Center bersama Dicoding, sementara itu, telah menjangkau lebih dari 45.000 mahasiswa teknologi informasi, lulusan baru, profesional TI hingga technopreneur. Lebih dari 35.000 peserta memperoleh kredensial dari pelatihan tersebut.
Adapun program EQUAL yang diinisiasi Alunjiva Indonesia membuka akses pembelajaran AI kepada lebih dari 112.000 peserta.
Di dalamnya terdapat perempuan, anak muda dan kelompok masyarakat rentan, termasuk lebih dari 8.600 penyandang disabilitas.
Program peningkatan keterampilan AI turut masuk ke lingkungan pemerintahan.
Melalui kolaborasi dengan lebih dari 100 mitra dan 30 lembaga pemerintahan pusat maupun daerah, BINAR memberikan pelatihan kepada lebih dari 145.000 pembelajar AI melalui program GARUDA AI.
Program tersebut diarahkan antara lain untuk meningkatkan keterampilan ASN dalam memanfaatkan teknologi guna mendukung layanan publik.
Microsoft Elevate juga terlibat dalam diskusi mengenai tata kelola AI. AMANA Solutions bersama Kementerian Ekonomi Kreatif melibatkan lebih dari 10 kementerian dan lembaga serta 60 pemangku kepentingan dalam dialog mengenai tata kelola AI pada industri kreatif.
Pembahasannya mencakup perlindungan kontribusi manusia, transparansi penggunaan AI serta hak atas identitas digital.
Microsoft turut menampilkan sejumlah penerapan keterampilan peserta setelah mengikuti program.
Muhammad Yusuf Fadhel Marwiji dari Makassar, misalnya, menggunakan machine learning untuk membantu pemetaan risiko banjir.
Peserta lain, Emejleano Rusmin Nggepo dari Kabupaten Tangerang, mengembangkan aplikasi berbasis cloud dan AI untuk membantu penyandang tunanetra mengenali objek di sekitarnya.
CEO Dicoding Indonesia Narenda Wicaksono mengatakan manfaat pelatihan akan semakin besar ketika keterampilan yang diperoleh peserta diterapkan pada persoalan di lingkungannya.
“Melalui kolaborasi Microsoft Elevate, Dicoding melihat bagaimana talenta dari berbagai daerah dan latar belakang tidak hanya meningkatkan kompetensinya, tetapi juga mulai menciptakan solusi dan membuka peluang baru bagi komunitasnya,” ujar Narenda.
“Pengalaman Yusuf dan Lano menunjukkan bahwa akses terhadap keterampilan yang relevan dapat mengubah potensi menjadi dampak nyata,” imbuhnya.
Penerapan AI juga dilakukan pada bidang kebijakan dan pemerintahan. Syaravina Lubis, seorang analis hukum yang pernah menjadi tim ahli DPRD Provinsi Sumatera Utara, menggunakan Microsoft Copilot untuk membantu analisis kebijakan dan mengembangkan perangkat berbasis AI untuk memetakan kesenjangan regulasi serta kebutuhan implementasi.
Sementara Janu Dwi Kristianto melalui pekerjaannya di Kementerian Kelautan dan Perikanan memanfaatkan AI untuk menyederhanakan analisis risiko dan materi teknis agar lebih mudah digunakan praktisi perikanan di lapangan.
Kebutuhan peningkatan keterampilan tersebut muncul ketika penggunaan AI di lingkungan kerja semakin berkembang.
Microsoft Work Trend Index 2026 mencatat 33% pekerja Indonesia yang tercakup dalam riset telah dikategorikan sebagai Frontier Professionals.
Selain itu, 72% pengguna AI yang disurvei di Indonesia menyatakan kini mampu menghasilkan pekerjaan yang belum dapat mereka lakukan setahun sebelumnya.









