×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Pelanggan 5G Dunia Tembus 3 Miliar, AI Jadi Pendorong Baru Trafik Data

Oleh: Tek ID - Selasa, 23 Juni 2026 16:05

Ericsson mencatat pelanggan 5G dunia mencapai 3,1 miliar pada 2026 dan AI diperkirakan mendorong lonjakan trafik data.

Pelanggan 5G Dunia Tembus 3 Miliar, AI Jadi Pendorong Head of Network Solutions Ericsson South East Asia Stanislaus Bawono memaparkan data Ericsson Mobility Report 2026. dok. Ericsson

Jumlah pelanggan 5G global kini telah melampaui angka 3 miliar. Bersamaan dengan itu, kecerdasan buatan (AI) mulai mendorong perubahan besar pada pola penggunaan jaringan seluler, termasuk meningkatnya trafik data unggahan (uplink) yang kini tumbuh lebih cepat dibandingkan unduhan (downlink).

Temuan tersebut tercantum dalam Ericsson Mobility Report (EMR) edisi Juni 2026. Laporan terbaru itu menunjukkan sebanyak 162 juta pelanggan 5G baru ditambahkan pada kuartal pertama 2026 sehingga total langganan 5G global mencapai 3,1 miliar.

Angka tersebut diperkirakan masih akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Ericsson memproyeksikan jumlah pelanggan 5G akan melampaui 6,4 miliar pada 2031, atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan saat ini.

Hingga awal 2026, sekitar 390 operator telekomunikasi di dunia telah meluncurkan layanan 5G komersial, sementara lebih dari 90 operator telah mengoperasikan jaringan 5G Standalone (5G SA). Jaringan 5G juga diperkirakan akan menangani sekitar 85 persen trafik data seluler dunia pada 2031.

Di kawasan Asia Tenggara dan Oseania, jumlah pelanggan 5G diproyeksikan mencapai sekitar 670 juta pada akhir dekade ini. 

Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya kebutuhan konektivitas berkecepatan tinggi serta pengembangan berbagai layanan digital.

Chief Technology Officer Ericsson sekaligus penerbit Ericsson Mobility Report Erik Ekudden mengatakan jaringan seluler kini memasuki fase transformasi baru seiring berkembangnya teknologi AI.

"Kami melihat jaringan seluler akan mengalami perubahan besar seiring berkembangnya penggunaan AI, dari model yang terpusat di data center menjadi lebih terdistribusi di berbagai perangkat, kendaraan, dan lingkungan yang saling terhubung melalui 5G," kata Ekudden.

Ia menambahkan, jaringan seluler kini berkembang menjadi infrastruktur penting yang menopang berbagai aplikasi digital masa depan. 

Hal tersebut terlihat dari semakin banyaknya layanan komersial yang memanfaatkan teknologi 5G Standalone dan network slicing.

Laporan tersebut juga mencatat peningkatan layanan berbasis 5G SA network slicing. Teknologi ini memungkinkan operator menyediakan kualitas layanan yang berbeda sesuai kebutuhan pengguna atau industri tertentu.

Jumlah layanan komersial berbasis network slicing meningkat dari 65 layanan pada akhir 2025 menjadi 84 layanan pada pertengahan 2026. 

Perkembangan tersebut menunjukkan teknologi ini mulai memasuki tahap implementasi komersial yang lebih luas.

Presiden Direktur Ericsson Indonesia Nora Wahby menilai pembangunan jaringan yang dilakukan saat ini akan menjadi fondasi utama bagi pemanfaatan AI di masa depan.

"Terwujudnya transformasi berbasis AI akan sangat bergantung pada jaringan yang dibangun hari ini, karena jaringan tersebut akan menjadi fondasi yang mendukung berbagai aplikasi masa depan," ujar Nora.

Menurutnya, 5G perlu dipandang sebagai infrastruktur strategis nasional yang membutuhkan kebijakan jangka panjang, koordinasi lintas sektor, dan standar keamanan yang kuat.

Sementara itu, Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia Ronni Nurmal menilai keberhasilan transformasi digital juga ditentukan oleh ekosistem industri yang sehat dan kompetitif.

"Ketersediaan spektrum yang memadai dan terjangkau akan menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat transformasi digital nasional dan mewujudkan visi Indonesia Digital 2045," katanya.

Selain pertumbuhan pelanggan, Ericsson juga menemukan perubahan perilaku pengguna jaringan. Trafik data uplink kini meningkat lebih cepat dibandingkan trafik downlink pada sebagian besar operator telekomunikasi.

Peningkatan tersebut dipicu oleh semakin populernya layanan komunikasi digital, aplikasi kolaborasi, konten buatan pengguna, penyimpanan cloud, dan aktivitas berbasis AI.

Berdasarkan pengukuran Ericsson, sebanyak 43 dari 55 operator yang dianalisis mencatat pertumbuhan trafik uplink lebih tinggi dibandingkan downlink. Bahkan, 17 operator mengalami pertumbuhan uplink lebih dari 1,5 kali dibandingkan trafik unduhan.

Ericsson memperkirakan penggunaan AI dapat membuat trafik uplink meningkat hingga tiga kali lipat pada 2031 dibandingkan 2025. 

Hal ini akan mengubah cara operator merancang dan mengelola jaringan seluler di masa depan.

Laporan tersebut juga menyoroti perkembangan teknologi 6G yang saat ini mulai memasuki tahap standardisasi. Spesifikasi awal 6G diperkirakan selesai pada 2028 atau awal 2029, dengan layanan komersial pertama diperkirakan hadir sekitar 2030.

Teknologi 6G nantinya diharapkan mampu menghadirkan integrasi yang lebih baik antara jaringan satelit dan terestrial, meningkatkan efisiensi energi, serta mendukung layanan berbasis AI secara lebih optimal.

×
back to top