Era Jaringan Cerdas Dimulai, Ericsson Bawa AI Langsung ke Radio dan Baseband 5G
Ericsson meluncurkan AI in RAN yang meningkatkan kinerja dan efisiensi jaringan 5G melalui upgrade software berbasis AI.
Ilustrasi jaringan 5G. dok. Ericsson
Ericsson memperkenalkan AI in RAN, teknologi baru yang menempatkan kecerdasan buatan langsung di dalam jaringan akses radio (Radio Access Network/RAN) untuk meningkatkan performa, efisiensi, dan penghematan energi jaringan 5G.
Solusi ini memungkinkan operator telekomunikasi mengoptimalkan jaringan yang sudah dimiliki melalui pembaruan perangkat lunak (software) tanpa harus menambah infrastruktur baru secara signifikan.
Peluncuran AI in RAN menjadi langkah penting dalam evolusi jaringan seluler di tengah meningkatnya kebutuhan layanan berbasis AI yang menuntut konektivitas lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih efisien.
Ericsson menyebut teknologi ini sebagai standar baru kecerdasan jaringan yang mampu menghadirkan keputusan berbasis AI secara real-time langsung dari perangkat radio dan baseband.
- Ketahanan Telekomunikasi di Era AI Bergantung pada Tata Kelola Data dan Jaringan Cerdas
- Industri Telekomunikasi Hadapi Tekanan Ekonomi Global, APJATEL Ajak Cari Solusi Bersama
- Resmi Beroperasi, MoraRepublic Siap Perkuat Akses Internet Cepat di Indonesia
- APJATEL Kenalkan Model OVC, Solusi Infrastruktur Telekomunikasi Nasional Lebih Efisien hingga 60%
Bagi Indonesia, teknologi tersebut dinilai relevan untuk membantu operator memaksimalkan investasi jaringan 5G yang sudah berjalan.
Berdasarkan data GSMA, kebutuhan investasi pengembangan 5G di Indonesia diperkirakan mencapai 18 miliar dolar AS atau sekitar Rp324 triliun, bahkan berpotensi meningkat hingga 50 miliar dolar AS atau sekitar Rp900 triliun pada 2030.
Dengan AI in RAN, peningkatan kapasitas dan kualitas jaringan dapat dilakukan melalui optimalisasi berbasis software.
Pendekatan ini dinilai lebih efisien karena memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengatur sumber daya jaringan secara otomatis sesuai kebutuhan lalu lintas data yang terus meningkat.
President Director Ericsson Indonesia Nora Wahby mengatakan perkembangan AI telah menciptakan kebutuhan baru terhadap konektivitas, performa, dan otomatisasi jaringan.
Karena itu, operator memerlukan teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga keberlanjutan investasi.
"AI menjadi pendorong utama inovasi di berbagai industri dan menciptakan kebutuhan baru untuk konektivitas, kinerja, dan otomasi. Dengan AI in RAN, Ericsson membantu penyedia layanan memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi jaringan dan relevansi jangka panjang, serta membantu operator memenuhi permintaan data yang lebih besar di tengah tantangan investasi," ujar Nora.
Teknologi ini menggunakan model AI kelas telekomunikasi yang dirancang khusus untuk bekerja dalam hitungan mikrodetik di lingkungan jaringan radio yang dinamis.
Model tersebut dilatih menggunakan data berkualitas tinggi sehingga mampu mengambil keputusan secara cepat dan akurat guna meningkatkan pengalaman pengguna sekaligus efisiensi operasional jaringan.
AI in RAN juga menjadi bagian dari pengembangan Ericsson 5G Advanced yang dapat diterapkan pada jaringan berbasis perangkat khusus maupun Cloud RAN.
Kemampuan tersebut didukung oleh Ericsson Silicon dan generasi terbaru RAN Compute yang memungkinkan pemrosesan AI berjalan langsung di perangkat radio dengan konsumsi energi yang lebih rendah.
Sejumlah fitur yang mulai tersedia pada kuartal kedua 2026 antara lain AI-native Scheduler untuk mengoptimalkan alokasi sumber daya jaringan secara otomatis, AI-powered Positioning untuk meningkatkan akurasi lokasi pengguna, serta AI-managed Beamforming yang mampu menyesuaikan kualitas sinyal secara dinamis.
Selain itu, Ericsson juga menghadirkan fitur observabilitas dan manajemen performa yang memberikan visibilitas lebih tinggi terhadap cara AI bekerja di dalam jaringan.
Hasil implementasi dan uji coba pada lebih dari 15 jaringan komersial menunjukkan AI in RAN mampu meningkatkan kecepatan downlink hingga 20 persen dan efisiensi spektrum hingga 10 persen.
Teknologi ini juga memungkinkan jaringan melayani hingga dua kali lebih banyak pengguna dengan trafik tinggi, sekaligus meningkatkan akurasi prediksi cakupan dan layanan berbasis lokasi.
Sejumlah operator global seperti SoftBank, Bell, SK Telecom, dan Rogers telah mendukung pengembangan teknologi ini.
Mereka menilai integrasi AI langsung ke dalam jaringan radio menjadi langkah strategis untuk menghadapi lonjakan kebutuhan layanan digital dan aplikasi berbasis AI di masa depan.









