Ketahanan Telekomunikasi di Era AI Bergantung pada Tata Kelola Data dan Jaringan Cerdas
Cloudera menilai ketahanan telekomunikasi masa depan akan bergantung pada AI, tata kelola data, dan jaringan cerdas.
Ilustrasi telekomunikasi. dok. Cloudera/GettyImages
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai akan menjadi penentu utama ketahanan industri telekomunikasi di masa depan.
Seiring jaringan telekomunikasi semakin cerdas dan terdistribusi, operator kini menghadapi tantangan baru dalam menjaga keamanan data, stabilitas layanan, hingga tata kelola AI dalam skala besar.
Menurut Athul Prasad, Global Director AI Industry Solutions Telco, Media & Entertainment Cloudera, ketahanan telekomunikasi saat ini tidak lagi sekadar memastikan jaringan tetap beroperasi, tetapi juga bagaimana operator mampu mengelola data, AI, dan infrastruktur yang semakin kompleks secara aman dan tepercaya.
“Ketahanan kini harus dibangun di setiap lapisan konektivitas, mulai dari jaringan terestrial dan kabel bawah laut hingga satelit dan pusat data,” ujar Athul dalam keterangannya.
- Industri Telekomunikasi Hadapi Tekanan Ekonomi Global, APJATEL Ajak Cari Solusi Bersama
- Resmi Beroperasi, MoraRepublic Siap Perkuat Akses Internet Cepat di Indonesia
- APJATEL Kenalkan Model OVC, Solusi Infrastruktur Telekomunikasi Nasional Lebih Efisien hingga 60%
- XLSMART Luncurkan XL Ultra 5G+, Jaringan 5G Nasional Pertama dengan Blanket Coverage di Indonesia
Ia menyoroti pesatnya pertumbuhan trafik data global yang dipicu adopsi 5G, cloud computing, hingga AI. Berdasarkan proyeksi Ericsson, trafik data seluler global diperkirakan mencapai 280 exabyte per bulan pada 2030, sementara jumlah pelanggan 5G diproyeksikan menyentuh 6,3 miliar pengguna.
Di Indonesia sendiri, penetrasi jaringan 5G disebut telah menjangkau 48 kota dan diperkirakan terus meluas dalam beberapa tahun mendatang.
Menurut Athul, ada tiga faktor utama yang akan menentukan ketahanan industri telekomunikasi di era AI, yakni kontrol kedaulatan data, orkestrasi jaringan cerdas, serta kemampuan mengoperasionalkan AI secara aman dalam skala besar.
Ia menjelaskan kedaulatan data menjadi isu penting karena operator telekomunikasi kini menghadapi tekanan untuk membuka akses data demi layanan baru berbasis AI, network API, hingga monetisasi layanan digital.
“Operator perlu memahami bagaimana data bergerak, di mana data diproses, serta bagaimana data dibagikan di lingkungan yang semakin kompleks,” katanya.
Selain itu, integrasi jaringan terestrial dan non-terestrial seperti satelit juga dinilai akan menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan konektivitas di masa depan.
Namun menurut Athul, kompleksitas tersebut tidak cukup hanya diselesaikan melalui infrastruktur teknis, melainkan juga melalui AI yang mampu mengelola perpindahan jaringan dan mobilitas pengguna secara real-time agar layanan tetap berjalan mulus.
Berdasarkan Data Readiness Index terbaru dari Cloudera, tiga dari lima responden di industri telekomunikasi mengaku kinerja infrastruktur masih menjadi hambatan utama bagi inisiatif operasional mereka.
Di sisi lain, perusahaan telekomunikasi juga disebut masih berhati-hati dalam mengadopsi AI secara penuh ke dalam operasional jaringan karena kekhawatiran terhadap risiko gangguan layanan.
Athul menilai tantangan terbesar bukan lagi soal mengadopsi AI, melainkan bagaimana membangun fondasi tata kelola, pemantauan, dan akuntabilitas agar AI dapat digunakan secara aman di lingkungan produksi.
“Meskipun momentumnya terus berkembang, pembahasan mengenai agentic AI masih berfokus pada eksperimen, pengawasan manusia, serta pertanyaan terkait guardrails dan kedaulatan,” tuturnya.
Ia menegaskan semakin cerdas sebuah jaringan, maka semakin besar pula tantangan dalam mengelolanya.
Karena itu, ketahanan harus dirancang sejak awal melalui pengelolaan data yang baik, orkestrasi jaringan yang adaptif, dan implementasi AI yang dapat dipercaya.
Menurut Athul, peluang terbesar industri telekomunikasi ke depan adalah membangun jaringan yang tetap tangguh, terkendali, dan aman meskipun AI semakin tertanam dalam seluruh sistem operasional.









