APJATEL Kenalkan Model OVC, Solusi Infrastruktur Telekomunikasi Nasional Lebih Efisien hingga 60%
APJATEL dorong model OVC untuk efisiensi infrastruktur telekomunikasi hingga 60% dan percepat pemerataan konektivitas digital nasional.
Perayaan HUT ke-11 APJATEL yang dirangkai dengan FGD terkait telekomunikasi. dok. APJATEL
Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) mendorong terobosan baru dalam pembangunan infrastruktur digital nasional melalui pembentukan Operating Vehicle Company (OVC), sebuah model kolaboratif yang dinilai mampu menekan biaya sekaligus mempercepat pemerataan jaringan di Indonesia.
Gagasan ini mengemuka dalam diskusi kelompok terfokus (FGD) bertajuk penguatan kedaulatan digital yang digelar di Jakarta. Forum tersebut mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta pelaku industri untuk menyelaraskan kebijakan dan merumuskan langkah konkret dalam mempercepat pembangunan infrastruktur telekomunikasi.
Dalam diskusi, terungkap pembangunan jaringan telekomunikasi masih menghadapi sejumlah tantangan struktural, mulai dari tingginya biaya regulasi, duplikasi pembangunan infrastruktur, hingga kesenjangan akses antara wilayah perkotaan dan daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Ketua Umum APJATEL Jerry Mangasas Swandy mengatakan infrastruktur telekomunikasi kini memiliki peran strategis sebagai fondasi ekonomi digital nasional.
- XLSMART Luncurkan XL Ultra 5G+, Jaringan 5G Nasional Pertama dengan Blanket Coverage di Indonesia
- ZTE dan XLSMART Cetak Tonggak Baru Tuntaskan 20.000 Site MOCN dalam 8 Bulan
- Industri dan Pemerintah Cari Solusi Sinkronisasi Aturan Daerah demi Percepatan Infrastruktur Telekomunikasi
- Digital Realty Bersama Gandeng APJATEL, Perkuat Interkoneksi dan Standar Infrastruktur Digital Nasional
“Infrastruktur telekomunikasi merupakan tulang punggung ekonomi digital dan layanan publik modern. Karena itu, diperlukan sinergi kuat antara pemerintah dan industri agar pengelolaannya efisien sekaligus berpihak pada kepentingan publik,” ujarnya.
Sebagai solusi, APJATEL mendorong pembentukan OVC sebagai entitas netral yang mengelola infrastruktur pasif secara bersama.
Model ini mengusung prinsip open access, sehingga berbagai operator dapat memanfaatkan infrastruktur yang sama secara efisien tanpa harus membangun jaringan secara terpisah.
Pendekatan ini dinilai berpotensi menjadi “game changer” dalam ekosistem telekomunikasi nasional.
Dengan OVC, efisiensi biaya pembangunan dapat ditekan hingga 40–60 persen, sekaligus mengurangi duplikasi jaringan dan mempercepat perluasan konektivitas ke seluruh wilayah Indonesia.
Perwakilan Kementerian Komunikasi dan Digital Mulyadi mengatakan kolaborasi lintas sektor sangat penting dalam mendorong transformasi digital.
“Transformasi digital membutuhkan infrastruktur yang kokoh serta kolaborasi erat antara pemerintah dan industri. Dengan sinergi yang tepat, pemerataan konektivitas dan daya saing nasional dapat meningkat,” katanya.
Selain mendorong OVC, forum ini juga menghasilkan sejumlah komitmen strategis, termasuk harmonisasi kebijakan pusat dan daerah dalam pemanfaatan aset daerah untuk infrastruktur telekomunikasi, serta penetapan tarif batas atas yang transparan dan berbasis biaya.
Momentum FGD ini juga bertepatan dengan peringatan 11 tahun APJATEL, yang menjadi refleksi peran organisasi dalam memperkuat ekosistem digital nasional. Dalam lebih dari satu dekade, APJATEL terus mendorong kolaborasi industri dan pembangunan infrastruktur yang lebih terintegrasi.









