Menjajal Predator Thronos, kursi gaming sultan seharga mobil

Selama saya merasakan Predator Thronos, saya terasa disedot masuk ke dalam gim yang sedang saya mainkan. Tapi...

Menjajal Predator Thronos, kursi gaming sultan seharga mobil Predator Thronos (Tek.id | Chandra)

Acer baru saja secara resmi merilis Predator Thronos untuk pasar Indonesia. Kursi gaming khusus bagi para gamer sultan tersebut dibanderol dengan harga yang fantastis, yakni mulai Rp199 juta hingga Rp299 juta.

Ya, kursi gaming ini memang ditujukan bagi para gamer yang ingin merasakan pengalaman bermain gim yang imersif. Beruntung, tim Tek.id sempat merasakan bagaimana nyamannya singgasana para gamer sultan tersebut.


BACA JUGA

Acer tertarik luncurkan laptop dengan Ryzen mobile 3000

Ada GPU kelas desktop di laptop gaming Acer terbaru

Asia Pacific Predator League 2019, mencari tim terbaik dari Indonesia


Pertama kali saya melihat perangkat ini, saya terkejut dengan bentuknya yang cukup ringkas. Meski begitu, jangan tertipu dengan tampilannya. Bobot yang dimiliki oleh kursi gaming ini cukup berat, yakni sekitar 220 kilogram.

Saat ingin mencoba masuk, saya diinstruksikan untuk memencet salah satu tombol yang ada di sisi kiri sandaran tangan. Terdapat total 10 tombol pengaturan. Mulai dari tombol untuk membuka dan menutup perangkat, menaikkan dan menurunkan sandaran kaki, mengatur ketinggian layar, mengatur sudut kemiringan kursi yang hingga 140 derajat, dan lainnya.

Setelah terbuka, saya pun duduk di singgasana gaming sultan tersebut. Duh, benar kata Pre Sales Manager Acer Indonesia, Dimas Setyo. Sekali duduk, saya rasanya tidak ingin keluar dari Predator Thronos ini.

Kursi nyaman, ditambah dengan peripheral berkualitas tinggi memanjakan saya. Mulai dari keyboard dan mouse gaming milik Acer, headset gaming Acer, hingga tiga monitor lengkung berukuran 27 inci milik Acer ada di di depan saya.

Jika Anda bertanya mengenai pengalaman imersif apa yang ditawarkan bangku ini, jawabannya adalah adanya feedback dari kursi yang ditanamkan dalam Predator Thronos tersebut. Bokong saya digetarkan saat bermain gim.

Product Manager Acer Indonesia, Andreas Lesmana, menyebutkan getaran ini pun dihasilkan berdasarkan frekuensi audio yang dihasilkan di dalam gim. Saya juga dapat mengatur tingkat sensitivitas getaran melalui remot khusus.

Beralih ke performa, saya mencoba versi tertinggi yang ditawarkan oleh Acer. Dalam PC Predator Orion 9000 yang terpasang, mereka menanamkan prosesor Intel Core i9 7900X dengan dua GPU RTX 2080 Ti. Wow!

Sayang, gim yang ditawarkan saat mengetes hanya Project Cars 2 dan CS:GO saja. Kedua gim ini menurut saya tidak mewakili kemampuan dari PC tersebut. Tapi, Andreas mengatakan bahwa kursi gaming seharga mobil ini bisa melahap gim AAA rata kanan di resolusi tertinggi.

Begitu juga dengan kemampuan bermain gim VR. Andreas menjanjikan pengalaman yang imersif dengan spesifikasi tersebut.

Meski sangat nyaman, ada beberapa keluhan yang saya harus utarakan dari kursi gaming ini. Salah satunya adalah PC Predator Orion yang satu paket dengan perangkat ini masih dirakit terpisah. Jadi meski ringkas, kehadiran PC ini akan cukup mengganggu para gamer.

Begitu juga dengan ruang yang dimiliki oleh Predator Thronos ini. Bisa dibilang ruang duduknya cukup kecil untuk badan saya yang memiliki tinggi 184 cm dengan bobot 90 kilogram. Jika seandainya saya ingin memasang stir untuk bermain gim balap, sepertinya akan mentok dengan layar.

Oh iya ada satu hal lagi yang ingin saya komplain. Meski rasa getaran yang dihasilkan cukup membawa saya hanyut ke dalam gim, namun penempatan mesin getaran di daerah bokong saja menurut saya kurang. Seharusnya, mereka menempatkan mesin getaran di bagian punggung dan kaki, agar menghasilkan pengalaman yang lebih baik lagi.

So, itulah pengalaman saya dalam menggunakan Predator Thronos. Memang harga tinggi mampu memberikan kenyamanan yang sangat memuaskan. Terlebih lagi, pemilik kursi gaming ini akan otomatis mendapatkan titel gamer sultan.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: