Facebook masih incar data pengguna dari berbagai aplikasi ternama

Aplikasi seluler Android ternama termasuk Yelp, Duolingo dan Muslim Pro rupanya masih mengirimkan data pribadi pengguna ke Facebook. 

Facebook masih incar data pengguna dari berbagai aplikasi ternama

Aplikasi seluler Android ternama termasuk Yelp, Duolingo dan Muslim Pro rupanya masih mengirimkan data pribadi pengguna ke Facebook. Data itu bisa dimanfaatkan untuk mengidentifikasi pengguna secara personal bagi kepentingan iklan. Bahkan data tersebut secara langsung dikirim, meski pengguna tak memiliki akun Facebook.

Data pengguna yang terkirim ke Facebook pun diungkap oleh Privacy International (PI), salah satu organisasi yang berbasis di Inggris. Dilansir The Verge, berlangsungnya transfer data juga terjadi bahkan meskipun pengguna tidak login ke Facebook di perangkat yang sama. 


BACA JUGA

Teknologi analisis data 4D Analytics dan penerapannya di Indonesia

Olah data mampu ciptakan daya saing perusahaan

5 tren data yang mengubah bisnis di tahun 2018


Selain ketiga aplikasi itu, aplikasi lain yang terlibat adalah Qibla Connect yang mengirimkan data serupa ke Facebook untuk membantu mengidentifikasi pengguna dalam tujuannya menargetkan iklan di dalam jejaring sosial. Tak diketahui secara jelas, soal data apa saja yang dikirimkan aplikasi itu ke Facebook. Namun laporan PI menyebutkan transmisi ini bisa mengungkapkan pengidentifikasian khusus. Cara ini membantu Facebook melacak pengguna di seluruh jaringan layanannya. Metode ini juga membantu ketika pengguna membuka Facebook di perangkat mobile. 

Laporan ini dibuat berdasarkan penyelidikan serupa yang dilakukan PI  Desember lalu. Kala itu terungkap bahwa aplikasi ternama di platform Android mengirim data ke Facebook tanpa persetujuan pengguna dan tanpa kejelasan. Masalah ini tak hanya berlaku di Android namun juga di iOS.

"Ini sangat bermasalah, tidak hanya untuk privasi namun juga untuk kompetisi. Data yang dikirim aplikasi ke Facebook biasanya mencakup informasi seperti fakta bahwa aplikasi tertentu semisal aplikasi ibadah Muslim dibuka atau ditutup. Ini kedengarannya cukup mendasar tetapi sebenarnya tidak (sederhana). Karena ,,, data ini mempermudah penautan ke profil yang menggambarkan minat, identitas dan rutinitas seseorang," demikian keterangan PI melalui situsnya. 

Di Android, Facebook cukup lama mengumpulkan data sensitif pengguna seperti kontak, riwayat panggilan, data SMS dan data lokasi real time. Tujuannya untuk informasi penargetan iklan dan meningkatkan fitur seperti menyarankan teman. Namun praktik itu telah menyebabkan kekhawatiran karena terlalu banyak informasi pribadi yang dihimpun Facebook. 

PI sendiri menggarisbawahi salah satu kebijakan pengumpulan data tidak berlangsung lama di Facebook. Kebijakan itu bergantung pada aplikasi pihak ketiga. Pihak ketiga inilah yang secara mandiri mengumpulkan dan mengirim informasi tentang penggunaan aplikasi media sosial, tanpa memberi tahu pengguna tentang aturan itu.

"Facebook secara rutin melacak pengguna, non-pengguna dan pengguna yang keluar dari platform-nya melalui Facebook Business Tools. Pengembang aplikasi berbagi data dengan Facebook melalui Facebook Software Development Kit (SDK)," kata PI dalam laporan awal Desember 2018.

Laporan itu menemukan hampir dua pertiga dari 34 aplikasiAndroid yang dijui PI termasuk Spotify, mengirim informasi ke Facebook tanpa memberitahu pengguna atau mendapat persetujuan. Namun PI menyebutkan sejumlah aplikasi telah menghentikan praktik itu tak lama setelah laporannya dipublikasikan.

Namun untuk aplikasi terbaru seperti Duolingo masih terus melakukannya. Lebih lanjut PI menyatakan setuju untuk menghentikan praktik itu. Sayangnya Facebook enggan memberikan komentar terkait masalah ini.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: