Riset : Kelas Menengah Mulai Andalkan Teknologi dan AI untuk Bertahan dan Naik Kelas
Riset KIMCI 2026 ungkap kelas menengah mulai manfaatkan AI dan teknologi untuk tingkatkan produktivitas dan keterampilan.
Peluncuran riset kelas menengah KIMCI 2026. dok. Ist
Katadata Insight Center dalam laporan Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) 2026 mengungkap perubahan signifikan dalam strategi kelas menengah Indonesia.
Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian, kelompok ini mulai aktif memanfaatkan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengembangkan keterampilan baru.
Temuan ini menjadi salah satu sorotan dalam IDE Katadata Future Forum 2026, ketika kelas menengah tidak lagi hanya mengandalkan stabilitas pendapatan, tetapi juga beradaptasi dengan pendekatan baru berbasis teknologi.
Co-founder & CEO Katadata Indonesia Metta Dharmasaputra berharap riset KIMCI diharapkan dapat menjadi acuan dalam memahami dinamika kelompok ini yang terus berubah.
- Mitsubishi Electric Gandeng UGM, Dorong Talenta Industri 4.0 Siap Hadapi Era Smart Factory
- CIIC 2026 Siapkan Hadiah Total Rp15 Miliar Dorong Inovasi Teknologi Iklim Indonesia
- Perkuat Rantai Pasok Global, Analog Devices Bangun Fasilitas Semikonduktor Canggih di Thailand
- 15 Raksasa Teknologi Dunia Bentuk Trusted Tech Alliance, Perkuat Keamanan dan Kepercayaan Global
Perubahan tersebut tidak terlepas dari tekanan struktural. Data menunjukkan proporsi kelas menengah menurun dari 21,5 persen pada 2019 menjadi 16,9 persen pada 2024.
Namun di saat yang sama, kelompok masyarakat menuju kelas menengah meningkat signifikan, menandakan kompetisi ekonomi yang semakin ketat.
Dalam kondisi ini, teknologi menjadi salah satu instrumen penting untuk bertahan. Laporan KIMCI mencatat kelas menengah mulai memanfaatkan AI untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mencari informasi, meningkatkan efisiensi kerja, hingga mempelajari keterampilan baru yang relevan dengan kebutuhan pasar.
Vice President Finance & Business Development Katadata Ivan Triyogo Priambodo mengatakan perubahan ini juga berjalan beriringan dengan strategi diversifikasi pendapatan.
“Pekerjaan sampingan kini bukan sekadar tambahan, tetapi menjadi lapisan pengaman,” ujarnya.
Pemanfaatan teknologi kemudian menjadi enabler penting dalam strategi tersebut, memungkinkan individu mengelola waktu, pekerjaan, dan peluang secara lebih efisien.
Selain itu, pola konsumsi kelas menengah juga mengalami pergeseran. Mereka semakin selektif dalam berbelanja, dengan fokus pada nilai jangka panjang dibandingkan sekadar harga murah.
Hal ini menunjukkan adanya pergeseran pola pikir menuju perencanaan keuangan yang lebih matang.
Research Analyst Katadata Insight Center, Kholis Dana P mengatakan adaptasi ini perlu didukung oleh kebijakan publik yang tepat.
Ia menekankan pentingnya akses terhadap peluang kerja, perlindungan sosial, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar kelas menengah dapat terus berkembang.
“Kelas menengah bukan hanya tentang perlindungan, tetapi bagaimana memastikan mereka tetap tumbuh dan berkontribusi secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan kontribusi sebesar 81,5 persen terhadap konsumsi rumah tangga nasional, kelas menengah tetap menjadi motor utama ekonomi Indonesia.
Oleh karena itu, kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan teknologi menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan.









